13. MEET HIM!
"Kamu pikir kamu itu siapa,hah? Kalau gak ada saya mungkin kamu sekarang sudah luntang-lantung di jalan, ngemis-ngemis minta makan dan ingat kamu itu masih punya utang kepada keluarga saya!"papar pria paruh baya itu dengan sangat marah.
Johan, Namanya. Paman dari seorang yang kita kenal sebagai karakter ubi di novel Simpel Dream, Leon Argantara.
Leon menunduk lalu menjawab dengan suara lirih,"Maaf Paman."
"Apa maaf? Maaf kamu bilang?"cetus Johan yang sudah tidak lagi bisa mengontrol emosinya. Dia merasa sangat kesal dengan remaja di hadapannya ini.
"Lo udah ngomong sama dia?"tanya Rafa, anak pertama Johan.
Leon mendongak melihat Rafa yang notabenenya adalah kakak Sepupunya sendiri.
Leon menggelengkan kepalanya,"Terakhir beberapa bulan yang lalu."jawab Leon tanpa ada kebohongan sama sekali.
Rafa. Anak semester empat itu tersenyum mengejek,"Leon, Leon, Lo itu tolol banget! Tugas segampang itu lo gak bisa lakuin, dasar pecundang!!"
Johan hanya diam memperhatikan anak-nya memukuli tubuh ringkih Leon hingga beberapa kali tubuh Leon tersungkur ke lantai. Leon hanya bisa pasrah menerima setiap bogaman mentah yang dilayangkan kakak sepupunya kepada dirinya.
Ya, ini mungkin memang salahnya karena tidak bisa menjalankan misi yang di berikan pamannya dengan benar.
"Ingat tujuan kamu bersekolah di sana! Jangan pernah lupakan itu Leon!" Johan memperingati Leon yang telah tersungkur ke lantai lalu Johan dan Rafa meninggalkan Leon dengan keadaan yang sudah tak berdaya.
⚘⚘⚘
Liona masuk kedalam kelas dengan membawa setumpuk buku tulis milik teman sekelasnya, jika bukan karena dia piket hari ini — mana mau Liona membawa buku sebanyak itu.
"Woy! Ini buku Kalian. Ambil sendiri!"teriak Liona setelah meletakkan setumpuk buku itu di atas meja guru.
Liona melangkahkan kakinya menuju ke meja-nya,"Nih, buku lo," Liona memberikan buku catatan Leon.
Leon mengambil buku itu,"Thanks,"
Liona duduk di kursinya lalu hanya berdeham menanggapi perkataan Leon,"Eh~ Kenapa lo pakai masker? Sakit?"tanya Liona penasaran. Karena, tidak biasanya Leon mengunakan masker seperti ini.
"Terserah gue,"
"Dih... Kek cewek Lo," Liona mengarahkan pandangan Leon melihat ke arah dirinya dan Hap... Liona menarik masker yang di kenakan oleh Leon hingga terlepas — Sopankah begitu Nona Liona?
"Eh~ Bangsat!"pekik Liona setelah melihat kondisi wajah di balik masker Leon, banyak terdapat lebam yang membiru.
Atensi semua orang melihat kearah meja mereka berdua dengan raut penasaran dan bertanya-tanya — Apa yang membuat si Antagonis cantik itu memaki di pagi hari yang cerah ini?
"Kenapa dengan muka lo? Kok bisa jadi begini? Perasaan kemarin baek-baek aja."
Leon menepis tangan Liona dari wajahnya dengan kasar, dia berdecak kesal, merasa risih di perhatikan oleh semua orang. Leon mengambil masker baru dari dalam tasnya karena yang tadi talinya sudah putus akibat ulah dari Liona.
Tidak mendengar jawaban dari Leon membuat Liona kembali bertanya,"Jujur lo sama gue, Siapa yang udah lakuin ini sama lo?"
"Udah lo obatin belum? Kalo belum ayo ke UKS gue obatin." Liona menarik tangan Leon untuk ke UKS mengobati lukanya. Namun, sayangnya tangan Liona kembali di tepis oleh si empu.
"Lo apa-apaan sih?! Gak usah sok care deh lo!"ketus Leon, "Mending lo diem, duduk anteng di kursi lo sendiri. Asal lo tau suara lo itu bikin gue pusing, tau gak?"
"Gue bukan sok care tapi gue emang peduli ama lo," Liona kembali menarik tangan Leon, "Ayo ke UKS, kalo gak di obati bisa aja tuh infeksi."
Leon bangkit dari kursinya dengan kasar hingga menimbulkan suara gesekan yang cukup nyaring. Dia menarik tangannya dari genggaman Liona lalu menatap tajam ke arah pelaku.
"Mau lo tuh apa sih? Kalo gue bilang nggak ya nggak! Emang lo siapa gue? Maksa-maksa."
Okey, kemarahan Leon sekarang sudah mencapai ubun-ubun, dia sudah sangat kesal dengan orang di depannya ini. Leon menendang mejanya lalu keluar dari kelas — dia tidak ingin sampai main tangan kepada perempuan.
Bunyi nyaring terdengar lagi membuat beberapa siswa kaget tapi mereka lebih terkejut lagi melihat kemarahan yang Leon tunjukan. Ini untuk pertama kalinya mereka melihat seorang Leon marah karena biasa Leon sangat pandai mengelola emosinya sendiri.
Liona menatap punggung Leon yang semakin menjauh, ini pasti ulah keluarga pamannya, gue yakin 100%. Emang sinting tuh pamannya, awas aja kalo ketemu gue bejek-bejek juga tu mukanya. Monolog Liona dalam hati.
⚘⚘⚘
Liona menatap orang yang tengah berjongkok di hadapan-nya sambil mengobati lututnya yang lecet akibat jatuh dari sepeda listrik. Liona kapok, sekarang dia gak akan lagi belajar tuh naik sepeda.
"Udah nih. Ada luka lain gak?"tanya lelaki itu seraya memasukkan kembali obat-obatan yang digunakan tadi kedalam kotak p3k.
Liona menggelengkan kepalanya,"Nggak ada kak, Makasih ya."ucap Liona dengan tulus.
Lelaki itu hanya mengangguk lalu duduk di samping Liona. Liona menoleh ke samping ke arah orang itu,"Untuk mobil Kakak... Kakak bawa aja ke bengkel yang aku sebutin tadi, biar aku ganti rugi semua kerusakannya."
"Cuman lecet dikit doang, gak masalah."
"Gila tuh ampek penyok gitu di bilang lecet dikit. Wah... Pasti orkay ya kakak ini,"ucap Liona sedikit nada bercanda
"Meskipun, kakak orang kaya aku harus tetap tanggung jawab. Ini juga emang salah aku yang gak ati-ati hingga berakhir nabrak mobil kakak. Kakak tenang aja mobil kakak pasti akan kembali ke bentuk semula."sambung Liona membuat orang di sampingnya terkekeh mendengar perkataan yang di ucapkan.
Beh... Gila,manis bet senyumannya, meleyott gue. Gue respect sama orang yang bikin ini novel gak tanggung-tanggung visualisasi-nya, gumam Liona dalam hati.
"Gue gak maksa,"ucap lelaki itu,"Kayaknya lo emang pengen bertanggung jawab banget, yah... Seterah lo aja. Lumayan duit gue gak berkurang."
"Kakak tenang aja gini-gini juga, aku banyak duit, eh~ enggak deng, duit Bapak saya maksudnya tuh. Aku gak punya duit tapi karena aku anak yang berbakti, tidak sombong dan sangat suka menolong, maka-nya aku nolong ngehabisin duitnya."
"Oh- iya btw, Nama Kakak siapa?"tanya Liona
Lelaki itu tersenyum kecil lalu mengulurkan tangannya,"Nama gue, Rafa."
"Rafa?"beo Liona
Rafa mengangguk,"Iya Rafa, Rafa Arkatama, Nama lengkapnya." Liona terkejut selama beberapa detik sebelum akhirnya dia menjabat tangan Rafa untuk berkenalan.
Liona tersenyum ramah,"Liona Odelia, senang berkenalan dengan Kakak."
⌬ BERSAMBUNG ⌬
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
De TodoLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
