SPECIAL CHAPTER SEAN
Derap langkah kaki menggema sepanjang lorong rumah sakit membuat pengunjung lain mau tak mau melihat kearah mereka dengan rasa penasaran.
Mereka berhenti tepat di depan sebuah ruangan dan beberapa anggota polisi berjaga disana. Salah satu polisi berperawakan tinggi datang menghampiri mereka sambil membawa sebuah kantong plastik lalu berbicara.
Sean tidak dapat mendengar dengan jelas meskipun polisi itu berada tidak jauh darinya, ia terpaku menatap pintu ruangan yang ada di depannya. Jantung berdetak sangat cepat, tangannya mulai berkeringat, bahkan sudut matanya terlihat memerah.
Tidak,ini tidak mungkin terjadi 'kan?
Bilang kepadanya bahwa berita itu bohong.
Namun, seolah air dingin disiram di atas kepalanya, suara Maudy mengikis satu persatu harapan yang ada di hatinya. Sean melihat kearah Maudy lalu mengayunkan kakinya mendekat kearah Maudy dan Arga.
"Ini semua memang barang-barang Liona."ucap Maudy dengan suara bergetar dan Arga dengan sigap menenangkan Sang istri.
Sean tidak terlalu memperhatikan pasutri itu, entah kenapa netranya beralih menatap kantong plastik bening yang di pegang oleh Arga.
Seketika dia mundur kebelakang, kepalanya menggeleng, tidak tidak ... semua orang bisa memiliki barang-barang itu dan itu hanya kebetulan sama dengan punya Liona.
Ya, itu hanya kebetulan.
Dia harus tetap berpikir positif.
Dan itu pasti bukan Liona — Bukan Liona yang dia kenal.
Apapun bisa terjadi! Bisa saja ini seperti sebelumnya 'kan.
Pintu ruangan terbuka, tiga orang keluar dan salah satu dari mereka mendekat kearah polisi yang berbicara dengan Arga tadi lalu membisikan sesuatu. Polisi itu mengangguk paham setelah mendengar penjelasan dari rekannya itu.
"Kalian boleh masuk untuk melihat."kata Polisi itu sambil melihat satu persatu orang dihadapannya.
Sean ragu untuk mengikuti yang lain masuk kedalam ruangan itu, dia semakin gelisah bahkan jantungnya berdetak tak normal seolah akan meledak saat itu juga. Tangannya terkepal erat hingga urat-urat di sekujur tubuh terlihat jelas.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengikuti yang lain masuk ke dalam ruangan itu.
Dia harus memastikan sendiri jika itu bukan Liona.
Saat kain putih yang menutupi wajah orang yang terbaring di atas brankar dibuka — wajahnya terasa familiar sekaligus asing. Separuh dari wajahnya mengalami luka bakar, rambut panjang yang biasanya tergerai indah juga ikut terbakar hingga terlihat begitu pendek.
Tanpa disadari air mata yang tadinya berkumpul di sudut matanya perlahan jatuh seperti aliran sungai yang berkilau.
Wajah... Wajah itu...
Suara tangisan memecahkan keheningan yang terjadi, ruangan itu menjadi berisik oleh suara tangisan yang terdengar sangat menyayat hati.
"B-bukan ... Itu bukan Liona."gumam Sean tidak terima lalu memegang tangan Bundanya.
"Bunda, ayo kembali mungkin Liona udah nunggu disana."ucap Sean sambil menarik Bunda-nya ke luar ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
De TodoLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
