15. KITA PERLU BICARA
Leon mempercepat langkah kakinya mengejar Renata,"Na, Tunggu!!"
Bukannya berhenti, Renata malah semakin mempercepat laju langkahnya. Untuk sekarang Renata masih belum punya keberanian untuk berbicara dengan Leon. Bahkan, sebelum-sebelumnya dia selalu mencari cara menghindari dari Leon.
Renata masih bingung harus berbuat apa.
Leon melihat pacarnya itu tidak ingin berhenti dengan cepat Leon mencekal lengan Renata dan langsung berdiri di hadapan Renata.
"Kita perlu bicara Na."ucap Leon
Renata melihat ke sekeliling masih banyak murid yang belum pulang,"Kita ke taman aja."putus Renata dan langsung membawa Leon ke taman belakang sekolah.
Leon hanya mengikuti langkah Renata hingga mereka sampai di taman.
Baru saja Leon ingin berbicara namun Renata lebih dulu memotongnya,"Aku udah tau kamu mau ngomong apa," Renata menarik napas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
"Seperti yang kamu tahu tentang Aku dan Alaska, A-aku minta maaf." Renata menunduk kepada tidak berani menatap orang yang masih berstatus sebagai pacarnya itu.
"Ayo kita Putu-"
"Enggak, Gak!"potong Leon, dia memegang kedua sisi bahu Renata. "Dengerin Aku Na,"pinta Leon dan berhasil membuat Renata menatap kearah dirinya.
"Aku tau kamu pasti di paksa 'kan untuk bertunangan dengan Alaska?"
Tidak ada jawaban dari Renata — Dia lebih ke bingung harus menjawab apa. Menang benar awalnya dirinya di paksa bertunangan dengan Alaska. Tapi, disisi lain dia juga sudah merasa nyaman bersama dengan Alaska beberapa bulan terakhir.
"Aku tau kamu gak cinta dengan Alaska dan kamu hanya dipaksa terikat benang merah bersamanya. Ini cuman paksaan dari kedua orang tua kamu,iya 'kan? Aku tahu kamu sangat menghormati mereka, dan kamu tidak bisa menolak pertunangan itu."
"Tapi, aku gak bisa kayak gini. Aku gak mau jadi orang jahat, ayo kita akhiri aja hubungan ini."ucap Renata dengan satu tarikan napas.
Perkataan Liona waktu itu masih terngiang di kepala Renata, Manusia paling jahat itu dia yang menginginkan dua orang sekaligus tanpa ingin melepas salah satunya. Walaupun berat Renata harus tetap mengambil keputusan ini dan Renata juga tidak ingin di cap sebagai wanita gila laki-laki seperti perkataan Liona.
Leon langsung dibuat kicep oleh ucapan Renata,"Kenapa ngomong gitu sih Na? Oke, jika aku ada salah selama ini, aku minta maaf. Mungkin, kamu ngerasa tertekan selama ini, aku minta maaf. Maaf, untuk semua perbuatan ku yang udah bikin kamu gak nyaman."
"Kita gak harus putus Na, kalau kamu bilang aku egois, iya aku egois. Karena aku cinta sama kamu, Na. Aku ingin kita tetap sama-sama, menepati semua janji yang udah kita bikin."
Renata menggelengkan kepalanya, seketika matanya berembun. Bukan, bukan ini yang Renata inginkan — Dari lubuk hati yang terdalam Renata juga tidak ingin putus dengan Leon. Namun, di satu sisi lain dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya hanya untuk cintanya kepada Leon.
Jujur, jika ditanya beberapa persentase cinta Renata kepada Leon maka dia akan menjawab 60% tidak di pungkiri dia juga mencintai Leon, kekasihnya.
Leon menarik tubuh Renata, memeluknya dengan erat. Tidak ada yang tahu kedepannya akan seperti apa, termasuk Leon sendiri. Yang Leon tahu dia tidak akan menyerah begitu saja.
Kalau kata orang, pantang mundur sebelum janur kuning melengkung.
Renata terisak dalam pelukan Leon,"Aku juga Cinta sama kamu, Leon. Tapi, kita udah gak bisa sama-sam—"
"Ssttt...."potong Leon, "Stop. Ngomong gitu Na. Kamu cinta sama aku 'kan?" Renata mengangguk dan menggeleng secara bersamaan — labil benget emang ni anak.
⚘⚘⚘
Elvano bersama dengan Sean sudah di parkiran sekolah menunggu Alaska yang masih berada di ruang Pak Sandi untuk membahas perlombaan basket seminggu yang akan datang.
"Van, nanti malam lo sibuk gak?"tanya Sean tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel miliknya.
"Bokap, Nyokap gue lagi pergi ke rumah Nenek. Jadi, di rumah gak ada siapapun... Eh- ada deng Bik Nur. Lo mau nginep gak? Kita mabar."sambung Sean dengan antusias — membayangkan betapa serunya malam nanti.
Sean masih fokus memainkan game di ponselnya dan sesekali melirik kearah Elvano, "Van?"panggil Sean, Karena tidak ada jawaban dari pertanyaan nya sebelumnya.
Elvano menatap kosong kedepan, pikirannya di penuhi oleh perkataan Liona siang tadi. Walaupun dia tahu Liona itu pasti berbohong, mana mungkin Ayahnya seperti yang di bicarakan oleh Liona.
Namun, entah kenapa dia malah jadi kepikiran.
Sean mengerutkan pangkal hidungnya karena tidak mendengar sahutan dari orang di sampingnya dari tadi. Terpaksa Sean harus mengakhiri acara main gamenya.
"Vano!" Sean menepuk pundak Elvano membuat sang empu menoleh kearahnya.
"Hah? Kenapa?"tanya Elvano sedikit linglung.
"Lo yang kenapa? Gue dari tadi ngomong panjang kali lebar tapi gak di saut,"keluh Sean,"Ada masalah?"
Elvano menggeleng lalu bangkit dari duduknya,"Gue cabut dulu!"pamit Elvano lalu naik ke atas motornya.
"Loh,loh... Terus gue gimana?" Sean bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Hari ini Sean pergi sekolah nebeng Elvano dan sekarang dia malah mau ditinggal, terus bagaimana caranya dia pulang?
"Sorry ya, gue ada urusan mendadak. Lo nebeng Alaska aja!"setelah mengucapkan itu Elvano langsung pergi meninggalkan pekarangan sekolah dengan kuda besinya.
"Bangsat!!"teriak Sean melihat Elvano pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
Sean terus mendumel, kesal dengan Elvano yang meninggalkan dirinya sendiri dan menunggu Alaska entah kenapa dia akan keluar dari ruangan Pak Sandi — Guru olahraga mereka.
Hingga, tiba-tiba ponselnya yang berada dalam saku celana bergetar. Sean mengambil ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari Alaska.
Sean langsung membelalakkan matanya setelah membaca pesan dari Alaska yang membuat dirinya mengabsen nama-nama binatang.
Alaksa D
[Kalian berdua pulang aja duluan, gue bakalan lama soalnya.]
⌬ BERSAMBUNG ⌬
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
AcakLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
