42. AUDISI
Liona hanya diam menatap orang didepannya sambil menunggu orang itu buka suara — memulai pembicaraan.
"Bagaimana kabar kamu?"
"Masih hidup."Jawab Liona acuh. Sebenarnya, ia sangat tidak ingin bertemu dengan Andre jika, bukan karena orang suruhan Andre menyeretnya ke sini.
"Bicara yang sopan sama Orang tua, Liona."tegas Andre.
Apa salah Liona menjawab seperti itu? Baginya, jelas tidak. Orang yang ingin membuat mati dengan sadis tiba-tiba bertanya bagaimana kabarnya — Bukankah ini sungguh kocak!
"Udah tahu kalau udah tua, masih aja berbuat dosa."balas Liona tak kalah pedas, langsung menohok Andre.
Andre yang pada dasarnya tidak pernah punya banyak kesabaran untuk Liona, mengepal erat tinjunya — untuk kali ini dia akan mencoba menahan dan tidak meluapnya.
"Saya Ayah kamu, Liona. Dimana sopan santun mu?"ucap Andre — tidak tahu malu dan seolah tidak pernah berbuat salah.
"Lah, masih pengen di anggap sebagai seorang Ayah ternyata," Liona berhenti sejenak untuk melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Andre,"Bukannya waktu itu Anda bilang jika, anda bukan Ayah saya. Bahkan, saya masih ingat dengan jelas loh, bagaimana waktu itu Anda bil—"
Brakkk...
Suara gebrakan meja terdengar nyaring membuat Liona tersentak kaget,"LIONA!"teriak Andre memotong ucapan Liona.
Ia sudah tidak tahan lagi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Liona, seperti duri yang menusuk kulit lalu, diberi cairan jeruk nipis — dan ini membuatnya mengingat kembali apa yang telah ia lakukan.
Netra mata Liona tidak pernah lepas dari figur pria paruh baya di hadapannya — dia tidak suka dengan cara Liona memanggilnya 'kan?
"Oke,fine... Tapi, sebelum itu saya ingin bertanya, pernah tidak Anda menganggap saya sebagai seorang Anak? Eh, Gak usah sebagai seorang Anak deh, sebagai manusia aja, pernah gak?"
Perkataan Liona membuat Andre terdiam.
"Pernah tidak Anda memperlakukan saya sama dengan Renata atau Kenzo yang notabenenya bukan Anak kandung Anda?"tanya Liona sambil menuntun jawaban dari orang dihadapannya.
Liona melihat Andre diam — seolah sedang memikirkan sesuatu — tidak menjawab pertanyaannya.
Sedangkan, Andre belum ingin mengatakan apapun. Sibuk dengan pikirannya yang berkelana mencari jawaban atas pertanyaan Liona.
"Gak usah banyak mikir dan mencari-cari. Jawabannya, sudah sangat pasti. Tidak pernah." Liona sangat menekankan kalimat terakhir,"Bahkan, Anak kecil saja tahu dengan Hak dan kewajiban. Sedangkan Anda? Menuntut Hak tanpa melakukan kewajiban." Liona mencibir dengan sangat jelas.
"Jaga ucapanmu, Liona!"
"Lalu, mengapa? Memang itu 'kan faktanya? Anda bahkan tidak pernah menatap ku dengan lembut seperti Anda menatap Renata atau... Mengucapkan selamat atas prestasi ku sama seperti yang Anda lakukan untuk Kenzo. Tidak pernah 'kan? Lalu, kewajiban sebagai seorang Ayah yang mana telah Anda lakukan? Memberi uang tiap bulan? Atau.... ada hal yang lain? Hingga Anda menuntut agar saya kembali memanggil Anda dengan sebutan Papa lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
RandomLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
