47. KEJUTAN??
Byurr....
Liona perlahan membuka mata tak kala air dingin disiram hingga mengenai wajahnya, suara tawa memenuhi gendang telinganya dengan keadaan linglung ia mendongak untuk melihat darimana suara itu berasal.
"Bangun juga akhirnya!"
Jejak keterkejutan terlihat jelas di mata Liona setelah melihat siapa pemilik suara tadi. Orang itu mendekat membuat dirinya secara tidak sadar mencoba menjauh. Namun, naasnya kaki dan tangannya diikat di kursi dan mulutnya juga ditempeli lakban hitam hingga tidak ada suara yang keluar kecuali gumaman tak jelas.
Pupil mata Liona melebar sempurna melihat kilatan cahaya dari pisau yang ditodongkan ke arahnya.
Mau apa dia?
Orang itu mencondongkan tubuhnya lebih tepatnya mensejajarkan tinggi badannya dengan Liona dan secara kasar menarik lakban hitam yang dari tadi senantiasa menutup mulut gadis bergaun putih itu.
"Kaget ya?"tanyanya sambil membuat goresan di punggung tangan gadis yang berada dihadapannya dengan pisau yang dia pegang dari tadi.
Liona meringis merasakan sakit di punggung tangannya yang sekarang sudah mulai mengeluarkan darah segar.
"Oh... Astaga, itu keluar darah loh, Ma."ujarnya sok khawatir.
Liona menoleh ke sumber suara yang tidak asing lagi dan netranya langsung menangkap sosok yang telah lama tidak dilihat olehnya, Renata.
Dagu Liona terangkat menggunakan pisau yang dipegang Mawar,"Sakit? Tapi ... Tangan inilah yang telah memberikan sekumpulan bukti kepada Andre 'kan?"
Aargh...
Teriakkan Liona terdengar saat Mawar dengan sengaja menekan luka di punggung tangan Liona yang baru dibuatnya tadi.
"Kau memang pantas mendapatkannya!"sambung Mawar.
Renata mendekat ke arah Mawar dan langsung berdiri di sampingnya sambil menyerahkan selembar tisu kepada sang Ibu. "Ya, Lo memang pantas mendapatkan luka itu ... Eh~ gak juga sih ... Seharusnya lebih dari itu. Gara-gara lo Papa di penjara dan semua orang ngomongin masalah ini."timpal Renata.
"Apa yang diperbuat itulah yang didapat ... Dan, ya, Papa lo dipenjara itu karena melanggar hukum bukan karena gue." Liona menatap dua orang dihadapannya secara bergantian. "Buat apa kalian ngelakuin ini semua?" Ia bertanya sembari mengerakkan tangannya yang diikat.
Mendengar perkataan Liona membuat sepasang Ibu dan Anak itu saling pandang sebelum akhirnya terdengar suara tawa renyah dari dua orang itu.
"Hmmm... Buat apa ya? Coba tebak?"jawab Renata sambil memilin ujung rambutnya. Liona hanya menatap Renata sebentar dan kembali berusaha melepaskan tali yang mengikatnya — walaupun, kemungkinan berhasil sangat sedikit — yang sangat erat itu.
"Percuma. Gak bakal bisa lepas juga." Renata menahan pergerakan Liona di kursi lalu, mencengkeram kuat dagu Liona hingga membuat sang empu meringis kesakitan.
"Le ... Lepas."ucap Liona terbata-bata.
Bukannya menggubris permintaan Liona, Renata malah menambah kekuatan cengkeramannya. "Gue benci banget sama lo Liona! Gara-gara lo, keluarga yang selama itu gue banggakan hancur berantakan ... Dan, hari ini Lo mau happy-happy. Menikmati suprise dari Sean sembari merayakan ulang tahun lo, gitu? Sumpah demi apapun, gue gak akan biarin itu terjadi."
Entah sebuah keberuntungan atau apa, kemarin Renata mendengar semua rencana kejutan Sean di supermarket. Seolah mendapat jalan dan tanpa pikir panjang dia melakukan ini semua. Ia tidak akan pernah membiarkan Liona merasakan kebahagiaan.
Apalagi, karena Liona lah keadaan keluarganya seperti ini dan dia juga tidak akan membiarkan Liona mendapatkan kasih sayang Andre karena hanya dia lah yang berhak untuk itu.
Kepala Liona tertoleh ke samping tak kala Renata melepaskan cengkeramannya.
Kejutan dari Sean? Ulang tahun?
Apa? Dia sama sekali tidak mengetahui hal ini. Bahkan, ia sendiri tidak tahu kapan tanggal ulang tahun Liona Odelia Aswangga ini.
Mawar yang dari tadi hanya menjadi penonton, kembali mendekat kearah Liona dan langsung menarik rambut panjang Liona hingga membuatnya menengadah ke atas.
"Sudah saya peringatkan berkali-kali untuk tidak ikut campur..." Mawar berkata dengan penuh amarah, "Dari mana kau mendapatkan bukti itu, Hah!?"
Liona menatap wajah merah padam milik Mawar, ia sendiri juga tidak tahu bagaimana Liona asli bisa mendapatkan bukti itu. Jika, kecelakaan yang dialami oleh nenek (Ibu Andre) dan Ibunya ada campur tangan dari seorang Mawar.
Di dalam flashdisk itu terdapat isi rekaman suara milik Mawar yang sedang menyusun rencana kecelakaan yang terjadi tujuh tahun silam dan bukan cuman itu ada juga potongan Vidio Cctv yang memperhatikan Mawar tengah mencoba mensabotase mobil yang akan digunakan oleh nenek dan ibunya saat itu.
Dari bukit ini saja sudah sangat cukup untuk membuat seorang Mawar mendekam di balik jeruji besi. Apalagi, ditambah dengan bukti kekerasan fisik kepada anak dibawah umur yang dilakukannya kepada Liona.
Meskipun, merasakan sakit di kulit kepalanya. Ia menarik ujung bibirnya sebelah dengan ekspresi mengejek."Oh... Jadi karena ini membuat kalian berdua senekat ini? Buat apa main culik-culikan kayak begini? Percuma. Bukankah, nyonya Mawar yang terhormat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sekarang dalam pencarian a.k.a buron."
Setiap perkataan yang terlontar dari bibir Liona semakin membuat Mawar marah.
"Seharusnya dari dulu kau susul ibumu itu!"kata Mawar penuh penekanan,"Renata, ambil obat itu."
Renata melihat arah tunjuk Mawar dan segera mengambil sebuah suntikan yang sudah berisi sebuah cairan di dalamnya di atas meja lalu, menyerahkan kepada Mawar.
Mawar mengambilnya membuat Liona yang terduduk di kursi melihat setiap pergerakan yang dilakukan dua orang itu. Ia menjadi lebih waspada melihat Mawar yang memperhatikannya sambil memegang suntikan yang entah berisi cairan apa. "Mau apa Anda?"
Mawar tidak menjawab langsung mengarah suntikan itu ke lengan Liona dan spontan membuat sang empu memberontak, "Diam!!"
Liona merasakan sakit di lengannya.
Setelah menghabiskan cairan dalam suntikan itu Mawar langsung melempar suntikan yang dia gunakan tidak ke sembarang arah.
"Lepas ikatannya Renata."
"Tapi Ma ..."
Mawar mengelap tangannya menggunakan tisu dan memotong perkataan Anaknya dengan santai,"Dia tidak akan punya kekuatan untuk lari."
Mendengar itu Renata langsung melakukan perintah Ibunya meskipun sedikit ragu. Setelah tali yang mengikatnya terlepas, terlihat dengan jelas jika ada ruam merah di pergelangan kaki dan tangan Liona.
Liona mencoba berdiri namun sayangnya ia kehilangan keseimbangan hingga terjatuh kelantai yang penuh dengan debu.
Entah cairan apa yang di berikan oleh Mawar tadi tapi, yang pasti Liona sudah merasakan efeknya. Badannya terasa begitu lemah dan seolah tidak punya kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri.
Mawar berjongkok didepan Liona,"Biar saya percepatan kamu bertemu dengan ibumu yang murahan itu."ucapnya sambil menjepit kedua sisi pipi Liona dan memaksanya menelan sebuah pil.
"Telan!!"
Liona menggeleng dan mencoba agar tidak menelan apa yang diberikan oleh Mawar. Ia meludah, mengeluarkan pil yang dimasukkan oleh Mawar.
Mawar yang melihat itu dengan spontan menampar wajah sebelah kiri Liona.
Plak...
"Sialan..."
⌬ BERSAMBUNG ⌬
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
De TodoLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
