EXTRA PART

21.9K 776 25
                                        

SPECIAL CHAPTER  LIONA
(Liona Odelia Aswangga)

Liona berlari kecil menghampiri sosok yang berdiri tegap di ujung taman bunga, aroma bunga segar terbawa angin begitu juga rambut panjang milik Liona. Sosok itu merentangkan kedua tangannya lalu menangkap tubuh Liona yang menghambur ke pelukannya.

Liona tertawa geli tak kala tubuhnya diangkat dan diajak berputar-putar,"Udah dong, kepala aku pusing."

Liona di turunkan dengan lembut dan hati-hati, ia sedikit mendongak untuk menatap orang yang berada dihadapannya, serabut merah muda muncul di kedua belah pipinya hingga menjalar ke daun telinga.

"Kenapa?"

Bukannya menjawab Liona malah kembali tertawa gembira, entahlah ia sangat sulit untuk mengekspresikan perasaannya sekarang. Intinya dia sangat bahagia.

"Kamu sakit? Liat wajah kamu merah gini."ucapnya sambil mencubit gemas kedua pipi Liona.

Liona cemberut, mendengkus tak suka dengan apa yang dilakukan orang itu lalu ia menepis kedua tangan yang mencubit pipinya. "Iihh, Enzo sakit!"

Sekarang giliran Kenzo yang tertawa sambil mencubit hidung Liona. Kenzo sangat puas melihat beragam ekspresi kesal Liona — terlihat sangat lucu dimatanya.

Tangan Kenzo terulur untuk merapikan rambut Liona yang hampir menutupi paras ayu gadis itu. Mata Liona berkedip dua kali melihat wajah tampan Kenzo tapat di depan matanya hingga dia dapat melihat dengan jelas ada tahi lalat kecil di hidung Kenzo.

Ctak...

Liona meringis kecil sambil mengusap keningnya yang dijitak Kenzo,"Hayoo... Ngapain tadi? Aku tau aku ganteng pakek benget tapi, gak usah sampai segitunya liatnya. Nanti keluar tuh biji mata."ucap Kenzo narsis.

"Dih, kepedean banget."

Kepala Kenzo menggeleng pelan kemudian, menggenggam jemari lentik Liona dan menuntut Liona agar mengikuti dirinya.

"Silahkan duduk tuan putri."titah Kenzo dengan sopan bak pangeran di sebuah dongeng.

Liona tersenyum lalu, duduk di ayunan yang dihiasi dengan bunga-bunga di kedua sisi talinya. "Meskipun waktu kecil kita gak bisa gini tapi, gak pa-pa. Sekarang, kita bisa lakuin apapun yang kita mau tanpa harus takut dengan siapapun."ujar Kenzo memecah keheningan yang terjadi.

Gadis cantik itu menoleh dan mengangguk. Jelas dia sangat tahu apa yang dimaksud oleh Kenzo, sekarang mereka bebas melakukan apa yang mereka suka dan tidak akan ada yang melarang itu.

-o0o-

Satu persatu orang keluar dari rumah duka, seringkali isak tangis terdengar begitu menyayat hati. Dua jenazah yang berada dalam peti berbeda rencananya hari ini juga akan segera dikremasi.

Liona dan Kenzo berdiri berdampingan menatap dua foto yang dipajang secara bergantian — itu foto mereka — jemari mereka berdua saling bertaut seolah tidak membiarkan siapapun memisahkan satu sama lain.

Dhuk!

Suara lutut yang menghantam lantai dengan keras terdengar membuat kedua insan yang dari tadi berdiri diam mengalikan perhatiannya melihat ke samping.

"Maaf ... Maafin Papa, Nak!"

Liona sedikit memiringkan kepalanya, menatap kosong ke sosok Andre yang berlutut dengan berderai air mata — mengungkapkan penyesalannya.

TERJEBAK DALAM NOVEL Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang