46. BIRTHDAY LIONA
Detak jam dinding terdengar memecah keheningan yang terjadi. Liona duduk termenung di sofa ruang tamu, hari ini Arga dan Maudy tidak ada di rumah dan katanya akan kembali nanti malam. Tidak ada siapapun di rumah kecuali dirinya membuat pikiran Liona berkelana.
Ini beneran gak bisa balik lagi? Gue kangen Ayah, Bunda, Bang Galen dan Kak Zion yang ngeselin. Masa sih gue gak bisa ketemu mereka lagi, please lah, gue mau pulang.
Liona benar-benar bingung.
Di awal-awal, mungkin dia percaya bahwa ia sudah tiada akibat tabrakan mobil itu — seperti di novel-novel yang pernah ia baca sebelumnya — Namun, mimpinya tadi malam mematahkan semua asumsinya.
Di sebuah ruangan berwarna putih, samar-samar tercium bau obat yang cukup menyengat dan bunyi alat monitor pendeteksi detak jantungnya terdengar menggema di ruangan itu. Seorang gadis pucat dengan kabel-kabel dan selang oksigen menempel di tubuhnya, terbaring lemah di atas brankar.
Jelas itu dia — Liona Olivia Zefalika.
Dan dia juga dapat melihat seluruh anggota keluarganya menitikkan air mata dan memintanya agar cepat bangun.
Dari sini dia berpikir berarti ... Mungkin saja mimpi ini ada benarnya dan ternyata dia masih hidup walaupun bergantung dengan bantuan alat medis.
Ting.... Tong....
Suara bel pintu rumah membuat kesadaran Liona kembali ke dunia nyata, ia bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.
"Dengan Nona Liona?"tanya seorang pria berjaket merah sambil memegang sebuah kotak di tangannya.
Liona mengangguk,"Iya...,"
"Ada paket, tolong tanda tangan disini."
Dengan keadaan bingung Liona tetap melakukan apa yang diminta oleh pria di depannya dan menerima kotak yang diberikan kepadanya.
Dia tidak memesan apapun, kenapa ada paket atas namanya?
Baru saja ia ingin bertanya dengan kurir tadi tapi, orangnya sudah pergi bersiap mengantarkan paket yang lain. Ponsel yang selama ini di pegang bergetar, pertanda ada panggilan masuk.
Tante Maudy is calling...
Liona menggeser ikon berwarna hijau,"Halo Tante?"
"Ya. Liona sudah terima paketnya belum?"
Liona melirik kotak yang ia pegang sebelum menjawab,"Oh, ini dari Tante ternyata. Iya, Tan, sudah."
"Di dalam sana ada gaun, Liona pakek ya."
"Ah... Ya,"jawabnya ragu-ragu,"Tapi, buat apa Tan? Ada acara?"
"Iya, nanti Tante share loc tempat acaranya. Tante sama Om langsung pergi ke tempat acara setelah urusan di sini selesai jadi, Liona gak pa-pa 'kan pergi sendiri?"
"Oh... Iya Tan, gak pa-pa."
"Oke, Tante tutup dulu ya...," Panggilan itu diakhiri.
Liona kembali melihat kotak berwarna hitam yang ia pegang dan langsung meletakkannya di atas meja lalu, membukanya.
Ia mengangkat gaun berwarna putih itu,"Wow... Cantik banget."gumamnya terkagum-kagum.
Di dalam kotak itu tidak cuman berisi gaun saja tapi juga, aksesoris lainnya seperti anting, gelang, kalung dan hiasan kepala dengan warna senada dengan gaun tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
AcakLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
