"Semanis apapun caranya berpamitan perpisahan tetaplah menyakitkan." — Leon Argantara
SPECIAL CHAPTER LEON
Pada malam itu, Leon berlarian di koridor rumah sakit setelah ia mendapat kabar tentang Liona.
Dia baru saja menyelesaikan penampilannya dan tinggal menunggu pengumuman dia lolos ke babak selanjutnya atau tidak, tapi saat dia membuka ponselnya penuh dengan notifikasi dari grup angkatan mereka mengenai kabar duka jika dua teman seangkatan mereka menjadi korban kebakaran dan dinyatakan meninggal dunia.
Tak peduli seberapa penting lombanya itu, tak peduli dengan hasil yang dia peroleh. Yang ada di otaknya hanya Liona dan Liona dan satu-satunya tujuan adalah rumah sakit.
Sungguh dia tidak percaya dengan berita ini.
Ketika dia memasuki ruangan, ada beberapa orang yang sudah tidak asing lagi bagi Leon terutama Sean yang menangis diperlukan Sang Ayah.
"Liona..."lirih Leon melihat kearah brankar.
Dia berjalan mendekat kearah gadis yang sudah terbujur kaku di atas brankar itu, kepalanya menggeleng pelan.
Gak, ini gak mungkin Liona 'kan.
Tanpa sadar ia menitikkan air matanya,"Liona bangun! Buka mata lo... Liona!" Ia mengguncang tubuh Liona berharap orang itu akan kembali membuka matanya.
Tangan Leon bergetar hebat, dadanya terasa begitu sesak menerima kenyataan pahit ini — gadis manis itu tidak akan pernah membuka matanya lagi.
Tidak! Dia tidak terima ... Tuhan, kenapa harus Liona?!
"Liona, gue mohon buka mata lo... Katanya lo mau liat gue masuk final ... Ayo, bangun!"tutur Leon sendu.
Pertemuan terakhir mereka kembali mengisi pikirannya, senyuman indah itu tak akan pernah bisa ia lihat lagi dan suaranya tidak akan pernah terdengar lagi.
Kenapa harus secepat ini?
Tubuh Leon meluruh ke lantai, butiran kristal bening terus membasahi pipinya. Sakit, hancur, perih rasanya seolah sebilah pedang yang amat tajam menusuk uluh hatinya.
"Bangun Li ... Gue mohon ..."
-o0o-
Dua tahun kemudian...
Aroma samar air laut tercium, Leon menatap kosong keluar jendela mobil lalu dia keluar sambil membawa sebuah guci yang berisi abu ibunya.
Hari ini dia akan melakukan prosesi terakhir Sang Ibu yang seharusnya sudah dari dulu ia lakukan.
"Kamu sudah siap?"
Leon melihat orang yang berdiri disampingnya, tidak pernah terpikirkan olehnya jika suatu saat ia akan bertemu dengan Sang Ayah.
Ini semua berkat Liona.
Leon mengangguk pertanda ia sudah siap. Seluruh prosesi berjalan dengan lancar dan hikmat, deru ombak terdengar membawa abu Sang Ibu.
Sulit bagi Leon untuk mengekspresikan perasaannya sekarang.
"Ayo, Ayah antar kamu dulu, setelah ini Ayah harus pergi ke rumah sakit."
Leon menarik napas dalam-dalam lalu mengikuti pria berpakaian rapi itu kembali masuk ke dalam mobil.
Mobil yang dikendarai melaju membelah jalanan kota,"Hari ini ada kegiatan apa?"tanyanya sambil melirik Sang Anak mencoba memecahkan keheningan yang terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
RandomLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
