EPILOG

32.2K 953 25
                                        

"Ck ... Sial." Kenzo berdecak kesal. Suara klakson mobil di belakang kendaraannya terdengar sangat nyaring.

"Woy!! Kalo bawa mobil tuh yang benar dong. Jangan asal berhenti aja! Lo kira ini jalan nenek moyang Lo apa?!" Pengemudi lainnya juga berteriak marah kearah mobil Kenzo membuat sang pemilik mobil meminta maaf karena kekacauan yang dia buat.

Semua mobil yang berada di belakang kendaraan Kenzo satu-persatu melewatinya. Ia menghela napas kasar, Bagaimana ini?

Hari ini rencananya dia akan mengunjungi Andre - atas perintah Andre itu sendiri - akan tetapi di tengah jalan ia melihat Renata yang sudah lama tidak dia jumpai bersama seseorang yang berpakaian serba hitam masuk ke dalam mobil.

Dengan rasa penasaran ia mengikuti mobil itu dari jarak yang cukup jauh agar tidak ketahuan. Tak lama mobil itu berhenti di depan sebuah minimarket, matanya sedikit menyipit memastikan sosok yang ia lihat.

Itu Liona!

Tapi kenapa dia masuk ke dalam mobil yang sama dengan yang ditumpangi Renata. Mobil itu melaju dan ia pun masih membuntutinya.

Ini pasti ada yang tidak beres.

Namun, di tengah perjalanan Kenzo kehilangan jejak mobil itu. "Apa yang ingin dilakukannya?"pikirnya

Secara kasar dia bisa menebak jika sosok yang bersama Renata tadi adalah Mawar. Apa tujuannya membawa Liona?

Kenzo kembali mengemudikan kendaraannya mencari keberadaan mobil itu, ia ingat dengan plat mobil dan semoga saja dengan ini dia bisa menemukannya.

...

Uhukk ...

Suara batuk lirih lolos dari sela bibir gadis berambut panjang yang telah meringkuk di lantai dengan terus memegangi perutnya.

Sakit, perutnya sekarang benar-benar terasa sangat sakit akibat tendangan yang berulang kali dilakukan oleh Mawar, seolah akan mematahkan tulang rusuknya.

Butiran kristal bening jatuh dari pelupuk mata Liona, napasnya semakin memberat dan sesak, ia tidak lagi punya tenaga untuk melawan dan bahkan ia pun tidak dapat memikirkan apapun lagi kecuali menyudahi rasa sakit yang dia rasakan saat ini.

Jujur, lebih baik mati daripada harus menahan rasa sakit ini.

"Gimana rasanya? Enak? Ini akibatnya kalau kamu melewati batas, paham!"ucap Mawar kembali menendang kaki Liona.

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Liona, sang empu seolah tidak mendengar perkataan Mawar. Rasa sakit yang menjalar keseluruhan tubuh membuat ia tidak lagi sanggup untuk mengeluarkan suara.

"Kalau ditanya tuh jawab!!" Mawar kembali berjongkok, ia menarik wajah penuh lebam yang sudah tak berdaya itu dengan kasar. "Lebih baik kau mati saja!"

Tanpa perasaan dia menghempas wajah Liona ke tanah hingga suara benturan terdengar.

Kepala Liona berdengung namun netranya masih tetap memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan oleh Mawar. Tangan Mawar bergerak di atas meja, ia terpaku dengan salah satu deretan pisau berbagai bentuk di atas meja. "Sepertinya ini bagus!"gumamnya sambil mengambil pisau itu.

Apa lagi yang ingin dilakukan Mawar?

Dengan sisa tenaga yang dia punya, Liona mencoba bangkit dan menjauh dari Mawar. Intuisinya mengatakan ia harus cepat-cepat lari dari sini jika, ingin tetap hidup.

"Mau kemana?" Mawar mencengkeram pergelangan tangan Liona.

⚘⚘⚘

Jantung Kenzo berdegup kencang melihat pemandangan didepannya,"Liona awas!"teriaknya sambil berlari mendekat kearah Liona.

TERJEBAK DALAM NOVEL Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang