23. TIDAK PEDULI
Hari ini, tepat sudah tiga hari semenjak Leon bertemu dengan Liona terakhir kali. Tidak ada kabar dari sosok Liona, ponselnya juga tidak aktif dan Liona juga tidak pergi ke sekolah walaupun dia tahu jika Minggu ini sudah mulai ujian semester.
"Lo gak liat siapa yang bawa dia? Plat, plat mobilnya lo ingat?"tanya Sean bernada khawatir.
Liona tiba-tiba saja hilang tanpa jejak, ini membuat Sean tidak fokus selama ujian berlangsung apalagi ditambah dengan pesan terakhir yang Liona kirimkan kepadanya — yang penuh tanda tanya.
Leon menggelengkan kepalanya, dia juga tidak melihat dengan jelas saat itu. Yang Leon ingat hanya wajah Liona dari kaca jendela mobil dan itupun tidak terlalu jelas. Leon pikir Liona sudah dijemput oleh supirnya saat itu dan tidak sempat berpamitan dengan dirinya.
"Gue juga gak ngeliat plat mobilnya,"jawab Leon,"Kenapa kita gak lapor polisi aja,bahkan ini sudah lebih 1×24 jam, 'kan?"
Sean berdecak kesal mendengarkan usulan dari lawan bicaranya ini, Sean sangat yakin, ini bukan kasus penculikan seperti yang di pikirkan Leon.
"Jika aja itu berhasil, udah dari dulu gue lakuin dan Liona tidak akan terjebak di situasi seperti ini."sarkas Sean.
Kejadian seperti ini juga sudah pernah terjadi sebelumnya dan hampir satu bulan Liona tidak ada kabar. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi saat itu dan masih menjadi tanda tanya besar bagi Sean.
Sean sangat heran, kenapa semua orang tidak peduli tentang keberadaan Liona. Bahkan untuk sekelas Leon yang sering berinteraksi dengan Liona pun tidak terlalu peduli. Jika bukan dia yang bertanya dulu tentang Liona, Sean yakin jika Leon tidak akan peduli walaupun dia sudah melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.
Entah kenapa Sean merasa tidak suka dengan orang dihadapannya. Orang yang sering kali Liona ceritakan padanya ini, sangat jauh berbeda dengan yang dideskripsikan oleh Liona, menurut Sean.
⚘⚘⚘
Sean mondar-mandir di depan ruangan kelas yang masih ada beberapa murid belum selesai mengerjakan ulangan mereka. Dia masih sangat cemas memikirkan tentang Liona dan pesan terakhir Liona.
Dia benci dengan situasi seperti ini.
Pundak Sean ditepuk membuatnya menoleh kebelakang, "Kenzo?"
"Ngapain lo disini?"tanya Kenzo heran, karena ruang ujian dia dan Sean beda lantai.
"Gue mau nanya sesuatu sama lo."
Kenzo mengerutkan keningnya,"Nanya apa? Kayak penting banget."
"Dimana Liona?"
Seketika raut wajah Kenzo berubah menjadi datar setelah mendengar perkataan dari temannya ini,"Buat apa lo nyari dia?!"ketus Kenzo
Sean bungkam. Ya, buat apa dia mencari Liona? Tidak ada alasan yang pasti tapi Sean khawatir tentang keadaan Liona sekarang apalagi terakhir kali Liona datang kerumahnya dengan kondisi yang memperhatikan.
Setidaknya dia berharap dengan bertanya kepada Kenzo dia akan mendapatkan jawaban dari kekhawatirannya ini. Namun, sepertinya mustahil.
"Gue gak tau dia ada dimana dan gak mau tau."sambung Kenzo lalu meninggalkan Sean yang masih berdiri di tempat.
Sean mengejar Kenzo,"Dia itu Adik lo Kenzo dan dengan entengnya ngomong gitu. Liona udah tiga hari gak masuk sekolah tanpa keterangan, nomornya juga gak aktif."
Kenzo berhenti. Menghadap kearah Sean dengan mata menatap tajam kearah lawan bicaranya,"Sejak kapan dia jadi Adik gue?"
"Dia mau tiga hari atau tiga tahun gak masuk sekolah, gue nggak akan peduli." Kenzo menunjuk Sean,"Dan Lo, berhenti ikut campur urusan keluarga gue. Lo udah tau terlalu banyak jika lo tau lebih banyak lagi dari ini akan bahaya untuk keselamatan lo sendiri."
Makin aneh 'kan. Itulah yang dipikirkan Sean. Adiknya gak ada kabar dia malah gak peduli. Jika Liona bukan adiknya terus siapa Liona di keluarga Aswangga? Apa hubungan mereka? Sean juga masih menduga-duga apa fakta yang tersembunyi ada dibalik ini semuanya.
⚘⚘⚘
Kenzo dengan santai masuk ke ruang kerja sang Ayah lalu duduk tepat di depan Ayahnya yang tengah fokus kepada layar laptop yang masih menyala menerangi wajah tegas Andre.
Andre melirik Kenzo. Menutup laptopnya dan langsung menatap Anaknya itu,"Bagaimana?"
"Semuanya udah selesai, gak ada lagi yang membicarakan tentang kejadian waktu itu di sekolah,"jelas Kenzo,"Dan katanya kedua orang tuanya juga akan segera bercerai."
Siapa yang mereka bicarakan?
Elvano?
Ya, benar sekali. Teman Kenzo satu itu membuat kesalahan besar dengan bertengkar dengan Liona di lapangan waktu itu dan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan.
Tidak semua orang mengetahui jika Liona masih keturunan keluarga Aswangga. Hanya segelintir orang yang tahu tentang masalah ini dan Elvano membuat kesalahan sehingga hampir seluruh warga sekolah SMA Ghanesa tahu tentang hal ini.
Keberadaan Liona di keluarga Aswangga bagai setumpuk sampah. Tidak ada yang menginginkannya dan dijauhi.
Apa salah Liona?
Kesalahannya adalah karena dia lahir dari kesalahan kedua orang tuanya — tidak, tidak, mungkin lebih tepatnya kesalahan yang di buat oleh Andre sendiri bukan ibunya.
Ibunya hanya korban yang harus menanggung semuanya sendirian, begitu pula dengan Liona.
"Kerja bagus,"puji Andre dengan senyum yang merekah,"Dan sebentar lagi perusahaan mereka akan bangkrut."
Kejam. Mungkin cocok menggambarkan dua manusia ini. Kenzo ikut tertawa mendengar ini, seolah tidak merasa bersalah telah menghancurkan keluarga temannya sendiri. Kenzo lah yang memberikan bukti-bukti perselingkuhan Ayah Elvano hingga membuat kedua orang tuanya Elvano bercerai.
"Apa ada yang menemukan Anak itu?" Andre bergumam sambil meminum kopinya.
"Belum."jawab Kenzo dengan jujur. Karena sampai sekarang belum ada berita yang menyampaikan jika Liona ditemukan dan ini membuat mereka bernafas lega.
⌬ BERSAMBUNG ⌬
Kira-kira Liona kemana?
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
RandomLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
