39. BERTEMU LEON.
Liona meringis kala jarum infus yang setia tertancap di punggung tangannya kini dilepas oleh Dokter Arga. Ia menatap punggung tangannya yang sekarang sudah ditempel dengan Hansaplast sambil menghela napas berat jika, dipikir-pikir dia hampir satu bulan full berada di rumah sakit dan sudah berteman dengan dekat per-jaruman plus bau obat-obatan.
"Maudy mungkin agak terlambat jemput nanti, kamu gak pa-pa?"ucap Dokter Arga memberi tahu Liona.
Liona mengigit bibir bawah, ia merasa ragu untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya. "Om, Aku pulangnya dianterin Sean boleh?"ucap Liona sembari melirik Sean yang berdiri tepat di samping Dokter Arga,"Jadi, Tante Maudy gak perlu repot-repot jemput Aku."
Dia juga merasa sangat sungkan dengan pasutri ini, ia sudah terlalu banyak merepotkan mereka berdua tapi, dia juga tidak mau lagi kembali ke rumahnya dulu.
Setelah kejadian terakhir kali. Jelas dia sangat-sangat berharap pihak kepolisian dengan segera membawa kasus ini ke meja hijau dan memberi keadilan bagi korban dan keluarga korban.
Jelas pemandangan waktu itu benar-benar membekas diingatannya, bau anyir sangat melekat di tempat itu dan anggota polisi tadi juga memberi tahu jika kegiatan seperti itu sudah berlangsung selama satu setengah tahun yang berarti sudah lebih dari belasan korban yang meregang nyawa dengan sadis.
Dokter Arga mengulas senyum tipis melirik Sean lalu, menganggukkan kepalanya pertanda ia mengizinkan,"Oke, nanti Om kasih tau sama Istri Om."
Dia menepuk pundak Sean dua kali dan memberi nasehat,"Bawa mobilnya hati-hati, jangan ngebut."
Sean mengangguk,"Siap Om."
"Ya udah kalau gitu Om tinggal dulu, ada pasien yang harus Om periksa lagi." Dokter Arga keluar dari ruangan Liona setelah berpamitan dengan kedua remaja tersebut.
Liona turun dari ranjang dengan di bantu oleh Sean, "Sean?"panggilnya.
"Ya, Kenapa?"
"Leon dirawat di rumah sakit ini juga 'kan?"tanya Liona masih merasa sedikit ragu. Ia sudah membaca artikel berita tentang kasus Leon. Kalau boleh jujur dia merasa cukup perihatin sekaligus senang.
Senang. Karena, akhirnya Leon bisa bebas dari penjahat yang berkedok sebagai pamannya itu.
Tanpa sadar Sean mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Liona,"Leon?"beo Sean dan tak lama setelah itu dia berkata lagi,"Kalau gak salah memang disini."
"Ayo kita liat Leon sebentar."
⚘⚘⚘
Andre memeriksa email di ponselnya yang berkaitan dengan kontrak kerja sama dengan rekan bisnisnya yang baru saja dikirim oleh sang Asisten. Dengan langkah pasti ia berjalan menuju ke kamar untuk mengambil berkas penting.
Tangannya terulur untuk membuka pintu kamar. Namun, sebelum itu terjadi dia mendengar nada marah bercampur kesal dari sang istri dari dalam kamar.
"... bukti apapun yang kau miliki Mas Andre tidak akan percaya. Entah itu masalah yang baru saja kau sebut atau masalah... kau Ayah kandung Renata."
Kau Ayah kandung Renata.
Satu kalimat ini menggema di benak Andre, dahinya berkerut, tangan meremas erat ponsel yang ada digenggamnya.
Siapa yang sedang bicara dengan Mawar?
Bukti? Bukti apa?
Dan, apa yang membuat Mawar yakin dia tidak akan percaya?
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
RandomLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
