34. DIA ADALAH ANAKKU
Sore hari, dua orang duduk dengan tenang di atas karpet bulu berwarna abu-abu di ruangan yang didominasi oleh warna putih itu sambil memainkan permainan ular tangga. Liona memperhatikan dua dadu yang dilempar oleh lawannya dengan penuh minat.
Dadu menggelinding beberapa kali sebelum akhirnya berhenti dan mendapatkan lima poin.
"Satu... Dua... Tiga..."ucap lawan Liona sambil menghitung setiap langkah yang diambil,"Empat... Lim— Gue menang lagi?"
Liona dengan enggan menganggukkan kepalanya, "Ya,Selamat."jawabnya dengan memaksakan mengangkat sudut bibirnya.
"Mau main lagi?"tanya lawan Liona yang tidak lain adalah Sean.
Liona menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak setuju dengan usulan Sean. Mereka sudah memainkan permainan ini tiga kali berturut-turut dan Liona selalu kalah,"Aku capek."
Setelah berpikir sebentar Liona menatap Sean dan bertanya,"Kata Tante Maudy, kita satu sekolah. Tapi, kenapa Aku gak ingat ya?"
Sean mengangguk membenarkan. Setelah dia dan Maudy berbincang sebentar di cafe depan Rumah Sakit tadi. Maudy membawa Sean ke ruang rawat Liona dan kebetulan Liona sudah bangun dari tidurnya. Maudy masuk lebih dulu untuk bicara dengan Liona.
Entah apa yang mereka bicarakan tapi, setidaknya Sean sangat bersyukur karena Liona tidak menunjukkan reaksi yang sama seperti sebelumnya saat bertemu dengannya.
"Nanti pasti ingat lagi,"ucap Sean dan diangguki oleh Liona,"Mau liat fotonya gak?"
Dengan perasaan penasaran Liona menjawab dan sedikit mendekat kearah Sean,"Mana?"
Sean mengeluarkan ponselnya dan langsung ke galeri mencari foto mereka,"Ini waktu kita ikut lomba."jelas Sean
Liona mendengarkan dengan seksama penjelasan Sean di setiap foto yang dia tunjukkan tapi, kebanyakan foto itu saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Liona berusaha keras untuk mencari ingatannya tentang foto-foto yang ditunjukkan oleh Sean. Namun, dia sama sekali tidak dapat mengingatnya seolah semua tidak pernah terjadi dalam hidupnya.
Sean melihat ke arah Liona yang berada di sampingnya. Dia merasa ada baiknya jika Liona tidak mengingat apapun tentang masa lalu. Apalagi tentang keluarganya.
Sean tidak bisa untuk tidak mengusak pucuk kepala Liona dengan lembut,"Pelan-pelan aja, jangan terlalu memaksa diri."
⚘⚘⚘
Mawar dengan kasar melempar cek yang nominalnya tidak main-main kepada orang didepannya,"Ambil dan pergi sekarang."
Edwin mengambil cek itu lalu, membaca nominal yang tertulis di sana,"150 juta?" Dia mengerutkan dahinya sambil menatap Mawar,"Cuman segini, Sayang?"
Mawar melihat Edwin dengan perasaan jijik dan berkata,"150 juta kau bilang cuman?! Itu sudah banyak."
"Hei, hei, ada apa dengan tatapan matamu itu?"tanya Edwin yang tidak suka dengan tatapan Mawar yang seolah merendahkan martabatnya.
Dia berdiri mendekat kearah Mawar dan langsung mengelus alis Mawar,"Aku gak suka dengan tatapan mata seperti itu. Dan jangan lupa Aku adalah Ayah dari Anakmu itu."
Mawar menepis tangan Edwin,"Jaga ucapan mu, Edwin! Jika, bukan karena Renata yang menganggap mu sebagai penolongnya mana mungkin aku biarkan Anakku dekat-dekat dengan Pria berengsek seperti dirimu!"
"Tapi, faktanya memang seperti itu. Renata adalah Anakku dan kamu."ucap Edwin sambil tersenyum lebar,"Bahkan, tidak perlu melakukan tes DNA untuk membuktikan jika Renata Anakku. Lihat saja wajahnya... kombinasi kita berdua."
"Dia bukan Anakmu!"
Edwin menarik pinggang Mawar agar mendekat dengan dirinya,"Kalau bukan Anakku, kenapa kamu harus repot-repot memintaku untuk pergi seperti sebelumnya?"
"Lepas!" Mawar berusaha menjauh dari Edwin. Namun, sayangnya Edwin tidak mengindahkan ucapan Mawar.
"Jawab dulu pertanyaan ku. Nanti akan ku lepaskan."
"I-itu..."
Edwin tertawa kecil sebelum akhirnya mengangkat dagu Mawar agar menatap dirinya,"Itu, Apa?"
Mawar hanya menatap tajam Edwin dan terus berusaha menjauh dari Edwin. Sedangkan, Sang pelaku semakin mengeratkan pegangannya di pinggang Mawar.
Edwin sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan dan berbisik,"Itu.... Karena kau takut suamimu tahu 'kan?"
⚘⚘⚘
Renata menundukkan kepalanya, dia sangat takut untuk melihat kearah Sang Ayah. Setelah, kejadian terakhir kali dia di tampar oleh Andre membuatnya takut — takut, nanti tiba-tiba di tampar lagi 'kan?
Renata sangat jarang melihat Ayahnya semarah itu, terakhir kali dia melihat Andre marah besar saat... Dia masih berusia 10 tahun mungkin? Dia tidak terlalu mengingatnya tapi, yang pasti saat itu Ayahnya marah dengan Liona.
Selain itu dia tidak pernah melihat wajah marah Ayahnya lagi kecuali, saat Andre menamparnya beberapa hari yang lalu. Setelah Ayahnya marah dengan Liona, besoknya Liona sudah tidak ada di Rumah. Waktu dia bertanya kepada Mamanya tentang Liona, Mawar selalu bilang jika Liona di pindahkan Sekolah ke Sekolah Asrama.
Renata percaya saja apa yang di ucapkan oleh Ibunya. Dan setelah itupun tidak ada lagi yang bicara tentang Liona di Rumah dan dia juga mengikuti banyak les hingga membuat ingatannya tentang Liona menjadi samar-samar.
Saat masuk SMA dia bertemu lagi dengan Liona. Sebenarnya, hubungan mereka waktu kecil cukup baik. Namun, entah kenapa saat mereka bertemu kembali, Liona seringkali membully dirinya. Dan lambat laun dia juga membenci Liona dengan alasan tertentu.
Andre melihat Renata menundukkan kepalanya setiap kali mereka berpapasan ini membuat dirinya merasa bersalah. Waktu itu dia benar-benar tidak dapat berpikir jernih dan terbawa emosi.
Andre mencoba mendekat kearah Renata dan bicara dengan suara lembut,"Renata."
"Ya."jawab Renata tanpa mengangkat kepalanya
"Liat Papa,"pinta Andre sambil memegang kedua sisi bahu Anaknya itu, dengan ragu-ragu Renata menatap wajah Andre,"Untuk yang sebelumnya... Maafin Papa, oke?"
Renata tersenyum kecil sebelum dia menganggukkan kepalanya. Jujur saja dia tidak suka jika harus berdiaman dengan Andre, mau bagaimanapun dia adalah Ayahnya. Orang yang selalu menuruti keinginannya dan selalu menjadikan dirinya seorang tuan putri seperti di negri dongeng.
Andre bernapas lega,"Apa masih sakit?"
Renata menggelengkan kepalanya,"Udah gak sakit tapi... Papa harus kasih aku kompensasi."
Andre terkekeh melihat tingkah manja putrinya,"Baiklah. Jadi, princess Papa mau apa?"
"Aku mau..." Renata berpikir sejenak hingga akhirnya dia melanjutkan ucapannya,"Karena bentar lagi libur sekolah jadi, aku mau kita liburan ke pantai."
⌬ BERSAMBUNG ⌬
KAMU SEDANG MEMBACA
TERJEBAK DALAM NOVEL
De TodoLiona Olivia Zefalika, seorang gadis berparas cantik dengan bulu mata yang lentik dan senyuman yang manis. Dia si bungsu dari tiga bersaudara yang sering jadi babu. Kejadian tak terduga terjadi setelah dia membeli semua makanan pesanan para kakakny...
