Gisell menggandeng lengan esok dan shaka untuk menyambut kepulangan kedua orang tua mereka. Entah mengapa mereka bertiga tidak berhenti gugup sambil mengatur nafas nya untuk tetap tenang.
"Kak, gue pengen berak ih" Adu esok karena perutnya yang mulas.
"Yaudah sana berak! Kenapa harus bilang si!" Kesal shaka mendorong esok untuk ke kamar mandi. Kan nggak lucu kalau tiba-tiba brot.
"Tapi nggak pengen. Cuma mules aja"
"Pake minyak kayu putih sana! Biar perutnya enakkan"
"Kak, nanti lo nggak bakal berubah jadi nenek lampir lagi kan kalau bapak lo udah balik? Bapak lo kan nggak suka kalau kita deket, emak gue juga nggak suka kalau kita deket" Tanya esok dengan raut wajah sedih nya.
"Enggak. Emang siapa mereka, seenak jidat nyuruh-nyuruh gue" Esok dan shaka bernafas lega. Setidak nya hubungan kakak beradik mereka tidak boleh terusik walaupun badai menghantam dunia.
Esok pergi naik ke lantai atas, dia mau mengoles minyak ke perutnya. Pasal nya mulasnya malah makin-makin, karena hatinya yang tidak tenang itu.
"Kak, lo bakal tetep jadi kakak gue kan?" Gisell mencubit pipi shaka dan tersenyum
"Pertanyaan macam apa itu? Lo sama esok itu adek gue, udah pikiran jelek lo singkirin dulu. Apa yang ada dalam pikiran lo nggak selama nya nyata shak, itu cuma ketakutan lo yang nggak akan terjadi" Ucap gisell menenangkan shaka untuk berhenti berpikir yang tidak-tidak.
Over thinking shaka itu memang luar biasa, sampai kadang membuat yang lain susah. Pintu rumah terbuka, membuat degup jantung shaka dan gisell naik. Ternyata itu hanya art yang menjadi anak buah lemil.
"Ngapain kalian diam di depan pintu?" Tanya bu ningsih merasa risih karena keberadaan gisell dan shaka.
"Lah suka-suka. Ini rumah aku, bukan bu ningsih" Jawab gisell tak kalah ketus.
"Kak! Kak jijel, itu mobil mereka dah sampai woy, gue liat dari balkon!" Teriak esok sambil turun dari lantai atas.
Ningsih menatap sinis ke arah esok, mulai hari ini dan seterusnya dia akan melihat anak tengil itu lagi. Rasanya malas jika tidak mengingat bayaran tinggi yang majikannya berikan.
Gisell menarik esok untuk berdiri disebelahnya saat tian dan lemil masuk ke dalam rumah. Gisell tersenyum ramah menyambut kedua nya.
"Welcome back my lovely parent!!" Sambut gisell dengan nada senang dan ceria.
Esok dan shaka menatap gisell dengan tatapan heran, ini gisell kemasukan jin qorin lagi kah?
"Ya, kalian nggak buat ulah kan?" Tanya tian memandang ketiga anak itu dengan dingin. Gisell menggeleng dengan antusias, dia tersenyum lebar.
"Aku nggak buat ulah kali ini! Si kembar juga udah aku ajarin biar jadi anak baik, mereka nggak buat ulah apa-apa. Ayah bisa tenang sekarang, nggak perlu mikirin tindakan kita bertiga. Selama sebulan ini aku udah banyak merenung, terima kasih karena udah banyak bekerja keras ayah" Jawab gisell membuat tian merasa puas. Tian tersenyum dan memberikan gisell kotak kecil.
"Itu hadiah karena kamu sudah nurut" Si kembar berseru dalam hati, tumben tidak ada suara melengking yang keluar dari bapak tirinya.
"Terima kasih!"
Tian langsung meninggalkan tempatnya menuju kamar, tanpa bertukar sapa kepada si kembar. Dan kembar sangat berterima kasih atas itu, mereka itu takut banget sama tian. Walaupun tian tidak pernah memberi hukuman, namun sekali memberi nasihat aura nya sangat lah menakutkan. Tipe-tipe orang berwibawa yang tidak bisa diusik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Misunderstanding
Ficção GeralMasuk ke dunia novel dan jadi antagonis, sudah biasa. Tapi nyangka nggak si, kalau seorang aeri harus jadi antagonis di novel bl. Ini semua berawal dari karin, sohib absurd aeri yang mendadak gabut bikin novel bl. Entah ke sialan apa yang menimpa ga...
