"Shota kamu mau kemana?" Tanya sora melihat anaknya kalang kabut berlari keluar rumah.
"Mau ke jijel bu"
"Pakai sendal nya yang betul, kamu gimana si! Titip salam ke jijel ya" Pinta sora setelah mengambilkan sandal yang benar pada shota.
Shota mengangguk dan langsung berlari keluar rumah. Setelah mendapat kabar dari esok bahwa gisell pergi dari rumah karena habis bertengkar dengan tian, shota dilanda rasa khawatir. Gisell tidak boleh sendiri disaat seperti ini, gisell itu anak nya sedikit nekat. Shota takut gisell akan melukai dirinya sendiri seperti dulu.
"Shota...." Panggil gisell saat melihat shota keluar dari rumah.
Jantung shota rasanya hampir mencelos, bagaimana tidak, gisell berdiri diluar pagar rumah nya sambil menangis.
Shota menarik gisell ke dalam pelukannya, dan mengucapkan banyak kata penenang.
"Gue disini jel, gapapa. nangis sepuas lo ya? Nangis yang banyak sampai lo ngerasa puas. Gue temenin" Shota mengelus kepala gisell dengan lembut.
"Nggak mau nangis disini nanti diledekin sama rehan kalau ketemu" Ucap gisell sambil sesenggukan.
"Yaudah pindah ke dalem ayo" Ajak shota merangkul gisell untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Loh, nggak jad- yaampun kenapa?" Kaget sora melihat shota membawa gisell yang sedang menangis. Shota menggeleng, men kode pada sang ibu untuk tidak menanyakan perihal ini.
"Maaf tante"
"Eh, gapapa. Kamu ke kamar shota aja dulu ya? Nanti tante bawain minum" Perintah sora.
"Siapa itu?" Tanya genta yang baru keluar dari kamar.
"Temannya shota, jijel"
"Oh, udah lama nggak main yaa dia. Aku perlu sapa?" Tanya genta menatap sora agar diiyakan.
"Nanti aja ya?" Genta mengangguk lesu. Padahal mau menyapa gisell karena sudah lama tidak melihat.
Terakhir genta melihat gisell itu sekitar gisell dan shota kelas satu smp, sudah lama. Walaupun mereka satu lingkungan, genta itu jarang sekali keluar rumah. Dia akan keluar rumah jika dirasa penting saja.
"Muka gue jelek banget abis nangis gini!" Sebal gisell menatap dirinya yang sembab pada cermin.
Lihat saja penampilannya, pipi nya merah, ada luka diujung bibir sebelah kanan, dan matanya yang bengkak karena terus menerus menangis. Kaos shota saja sampai basah karena air mata gisell. Puk puk anak ku sayang.
"Cantik kok"
"Yeu lo mah gombal! Udah ah gue ke kamar mandi dulu, mau basuh muka" Setelah gisell masuk ke dalam kamar mandi, gisell memukul kepala nya sendiri.
'Aish sumpah jel, jelek banget lo anjir!'
"Padahal emang beneran cantik" Celetuk shota pelan.
"Udah? sini duduk diobatin dulu luka lo" Perintah shota menepuk bangku untuk gisell duduk.
"Pelan-pelan tapi ya. Itu si bapak sial- maksudnya bapak nggak baik itu nampar gue kenceng banget! Bibir gue jadi sakit, ini gimana gue mau makan pedes ni. Pasti bakal sakit" Adu gisell menghela nafasnya.
Rasanya perasaan marah gisell kembali membara, dia ingin sekali saja meninju kedua orang tua itu dengan kencang. Bagaimana gisell asli bisa hidup tenang jika berdampingan dengan iblis berwujud manusia itu. Mata gisell kembali memanas, tidak boleh seperti ini.
"Eh, sakit banget ya jel? Maaf maaf" Tanya shota sambil meniup luka gisell agar tidak terasa sakit.
"Bisa nggak jangan kayak gini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Misunderstanding
Fiksi UmumMasuk ke dunia novel dan jadi antagonis, sudah biasa. Tapi nyangka nggak si, kalau seorang aeri harus jadi antagonis di novel bl. Ini semua berawal dari karin, sohib absurd aeri yang mendadak gabut bikin novel bl. Entah ke sialan apa yang menimpa ga...
