mengapa?

106 10 2
                                        

BRAK!

"jangan! Gue nggak mau!" tolak Shaka menggebrak meja karena merasa tidak senang dengan penuturan yang Gisell lontarkan.

"jangan bercanda gitu kak" geleng-geleng Esok sambil tertawa membuat Gisell menghela nafasnya.

"gue serius, gue dikasih kartu nama ini sama bokap lo beberapa hari yang lalu. Makanya gue nanya, kalian mau gue hubungi ayah kalian atau enggak?" pernyataan Gisell sambil memberikan kartu nama yang ia simpan mendapat respon yang berbeda dari si kembar.

Shaka memandang lurus ke depan dengan tatapan tidak suka nya, ia sedang mengatur amarahnya. Berbeda dengan Esok yang tertawa keras dengan nada sinis, tatapan matanya perlahan berubah tidak percaya

"ngapain si dia? Lo nggak usah ladenin kak. Gue udah putus hubungan sama orang itu, jangan lo bahas lagi. udah basi" peringat Esok sambil melempar kartu nama itu dengan penuh emosi

"lo nggak mau tau alasan dia cari lo berdua?"

"enggak, gue nggak pernah mau tau." Balas Shaka menatap Gisell tajam dan pergi meninggalkan rumah. Rasanya Shaka tidak boleh terlalu lama berada di ruangan itu, amarahnya bisa meledak kapan saja dan hanya akan melukai perasaan Gisell, Esok, maupun dirinya sendiri.

"biarin gue tenangin diri sendiri dulu" pinta Esok memejamkan matanya sambil mengacak acak rambut.

Orang tua, itu adalah pembahasan yang terbilang cukup sensitif bagi Esok dan Shaka. Dari dulu maupun sekarang, mereka berdua tidak pernah berdamai dengan keadaan. Karena disetiap saat mereka selalu penasaran, mengapa? Mengapa tuhan mengirim mereka pada orang tua yang tidak dapat mereka sebut sebagai orang tua?


°°°°°°


Willo mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi Chena tidak bisa dihubungi. Apakah Chena sedang menghabiskan weekend nya dengan keluarganya ya? Padahal Willo mau mengajak Chena main karena dia sedang bosan hari ini. Rasanya boring saja seharian dirumah tidak ada teman mengobrol, orang rumahnya sedang sibuk semua meninggalkan si bungsu sendirian merana.

'ih, orang aneh dari mana itu pake sendal beda sebelah? batin Willo menatap sandal pria yang sedang memilih minuman pada mesin pendingin jauh di depannya.

'ya tuhan, kirimkan aku teman kalau sayang sama anak mu ini. Aku pengen di temenin pinta Willo tidak serius. Lagian mana mungkin teman-temannya segang diwaktu seperti ini, mereka pasti sedang menghabiskan waktunya entah bersama keluarga ataupun teman.

Sedang asik melamun antrian willo diserobot, membuat willo berdecak. la menepuk pundak si laki-laki bersandal beda sebelah, bermaksud bilang untuk mengantri dengan benar Tapi siapa sangka saat laki-laki itu menoleh, wajah shaka yang muncul.

"heh bambu! Ngantri yang bener, lo nggak liat gue ngantri duluan huh?" kesal willo sambil berkacak pinggang.

Shaka menunduk, menatap lawan bicara yang jauh lebih pendek daripada dirinya.

Shaka tersenyum, "enggak, lo pendek" ucap shaka membuat Willo jadi bertambah kesal.

Willo menginjak kaki Shaka, sambil menahan amarahnya ia merapalkan pasal-pasal yang belum lama ini hapalkan. Bertujuan agar perasaannya menjadi rileks.

Shaka mengumpat dalam hati, bisa-bisanya ia tidak membawa ponsel dan dompet namun membeli minuman dimini market Sekarang ia kebingungan ingin membayar bagaimana

"disatuin aja mas sama punya saya" ucap Willo sambil menyerahkan jajanannya dan uang cash.

"nggak us-"

MisunderstandingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang