"gue nggak sanggup Sho, matkul gue banyak banget! Mana dosen gue kebanyakan ambil kelas pengganti, jadi akhir-akhir ini padet. Emang si minggu kemarin jadi libur, tapi minggu ini jadi super capek. Gue mau hengkang aja rasanya" adu Gisell meluruhkan tubuhnya pada meja kafetaria kampus.
Kelasnya sudah selesai hari ini, ia sedang istirahat dulu sebelum pulang bersama Shota Terhitung Gisell sudah empat kali masuk kelas dengan dua mata kuliah sama dan dua yang berbeda. Otaknya rasanya ngeblank, padahal semasa sekolah dulu tidak sampai seperti ini deh..
Shota mengelus kepala Gisell, "yang semangat dong Jel, kalau semangat kuliah tuh nggak terlalu kerasa. Kalau lo cape ijin aja sekali di matkul yang bener-bener padet minggu ini, nanti lo tanya aja apa yang pelajarin sama temen kelas lo" nasihat Shota membuat Gisell mengangguk.
"gue juga cape si sebenernya, kenapa yaa dosen kita akhir-akhir ini sering banget kelas pengganti. Jadwal gue jadi padet" keluh Shota membuat Gisell berseru setuju.
"YAKAN?! Apalagi pak arifin dosen kelas bahasa, sering banget kelas pengganti. Kenapa nggak dosen pengganti aja yaa biar nggak kosong hari itu! Atau minta tuker sama matkul yang lain kalau bisa. Kita mahasiswa yang ribet" menggebu-gebu Gisell lagi-lagi menyandarkan kepalanya karena kelelahan.
Untuk nya saja hari ini jadwalnya dengan Shota hampir berbarengan, jadi Gisell bisa berangkat dan pulang bersama Shota.
"gue nggak mau pulang, ayah gue pulang hari ini. Gue males ketemu sama dia" Keluh Gisell lagi.
"pulangnya nantian aja, lo mau main kerumah gue? Ibu buat puding caramel katanya" tawar Shota membuat Gisell mengangguk dengan semangat.
'enaknya punya teman peka' tapi kamu nya nggak peka Jel...
°°°°°
"siapa?" tanya Genta menatap Sora penasaran.
"Shota sama Jijel baru pulang kuliah yah, mereka kehujanan ditengah jalan nih jadi basah kuyup" kata Sora sambil memerintah kedua anak itu untuk masuk setelah memberikan handuk.
"sore om, aku main lagi nihh!" sapa Gisell tersenyum membuat Genta ikutan tersenyum senang.
"gapapa Jijel, sering-sering main yaa biar rumah nggak sepi. Soalnya kalau hari biasa Shota Cuma di kamarnya aja jarang mau ngobrol sama om" jelas Genta membuat Sora dan Shota saling berdehem.
Pasalnya terkadang penyakit Genta sering kambuh, jadi Shota disarankan untuk dikamar saja oleh Sora demi kedamaian bersama. Tapi anehnya, jika ada Gisell Genta selalu melihat Shota sebagai Shota. Anaknya yang selalu bermain setiap hari bersama Gisell yang Genta ingat ompong dulu.
"sayang, mereka ganti baju dulu ya. Kasian kedinginan" kata Sora membuat Genta juga memerintahkan keduanya untuk buru-buru mengganti bajunya yang basah.
"waduh, ternyata baju tante nggak muat di kamu ya Jel" bingung Sora karena bajunya terlalu kecil untuk Gisell.
"maaf ya tante, badan aku emang gemuk" tak enak Gisell membuat Sora menggeleng.
"badan kamu sehat loh Jel, porsi pas. Kalau kata anak jaman sekarang mah pulen. Ini mah tante aja yang terlalu kecil, tinggi tante 149 lohh. Kamu kan tinggi jadi ngaruh juga. Kalau celananya muat kan? Soalnya itu udah paling longgar" tanya Sora dan diiyakan oleh Gisell.
Sora mengetuk pintu kamar mandi, ia membawa baju milik Shota.
"maaf ya tan jadi ngerepotin banget aku" tak enak Gisell membuat Sora menggeleng.
"gapapa ah, lagian nggak ngerepotin kok! Tante malah seneng ada temen cewek nya" antusias Sora menarik Gisell untuk turun kebawah.
"bu, kok mie cup aku yang rasa kari nggak ada yaa?" tanya Shota mencari keberadaan mie dengan rasa paling enak bagi nya pada rak khusus mie dan tepung.
"ayah makan tadi, maaf yaa ayah kira nggak ada yang punya. Nanti ayah ganti" jelas Genta tersenyum tak enak pada anaknya.
Shota mengerucutnya mulutnya, padahal ia lagi ingin makan mie itu. Tapi ya sudahlah, lain kali saja ia makan mie itu.
"gapapa yah, mie yang lain masih ada kok"
"sekalian buatin Jijel ya Sho, kamu mau rasa apa?"
"samain aja sama Shota"
"tadi kuliahnya gimana? Lancar? Kamu bisa?" tanya Genta pada Gisell.
"bisa om, walaupun aku cape banget karena jadwalnya padet. Dari pagi sampe sore, tapi demi diri aku sendiri dimasa depan aku harus semangat!!" jelas Gisell dengan antusias mengepalkan kedua tangannya, membuat Sora dan Genta tertawa senang.
"tadi aku juga ngeliat Shota waktu kelas tari, wahh keren banget deh om, tante. Sampe dosen kasih apresiasi karena Shota gerakannya luwes sama clear" cerita Gisell lagi membuat kedua orang tua Shota merasa sangat senang mendengarnya.
"wahh om pengen liat Shota nari jadinya" penasaran Genta membuat Shota menggeleng malu.
"nanti kalau ada kelas tari lagi, aku vidioin!"
Mereka lanjut mendengarkan Gisell bercerita dengan penuh semangat, dari keseharian kampusnya bersama Shota, juga saat mereka senggang dan menghabiskan waktu bersama. Genta dan Sora menatap Gisell antusias, mereka senang sekali mendengar cerita tentang Shota lewat Gisell. pasalnya bisa dibilang Shota tertutup dan jarang menceritakan tentang dirinya sendiri tahun belakangan.
"masih hujan loh Jel, kamu mau nginep aja disini?" tawar Sora melihat ke arah jendela yang masih diguyur hujan deras.
"boleh tan?" tanya Gisell antusias.
"boleh, nanti kamu tidur dikamar Shota aja, biar Shota tidur diruang tengah" jawab Sora sambil mengelus rambut Gisell dengan lembut.
Gisell menatap Shota dan dibalas anggukkan, Gisell bersorak dalam hati. Bagus, dia tidak perlu pulang dan bertemu dengan ayahnya nanti.
°°°°°
Esok dan Shaka sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Shaka sedang mengerjakan soal yang diberikan oleh sekolah untuk latihan olimpiade, sedangkan Esok sedang sibuk belajar bahasa indonesia membuat jurnal berita. Kalau kalian penasaran, Esok sudah lelah diomeli mulu sama Shaka karena selalu menangis ribut pagi-pagi belum mengerjakan tugas.
Alangkah baiknya melihat kembarannya sibuk belajar, Esok pun ikutan belajar mengerjakan tugasnya. Daripada nanti dia sendiri yang susah sendiri karena belum mengerjakan.
"Sok, coba lo telpon kak Jijel. Kok belum pulang yaa dia?" tanya Shaka memutar bangkunya menatap Esok yang belajar di kasur.
"katanya dia lagi neduh dirumah bang Shota, Shak. Kalau udah dirumah bang Sho mah nggak perlu khawatir udah pasti aman" jelas Esok tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar ponsel dan bukunya. la sedang mencatat berita yang akan ia pakai untuk bahannya nanti.
"kita terlalu santai ngga si Sok ke bang Shota?? Padahal bang Sho kan cowo juga lohh" ujar Shaka menatap Esok dengan sedikit gelisah.
Esok menggeleng, "percaya aja sama bang Sho, dia orangnya nggak berani macem-macem kok Shak" ucapnya sambil menatap Shaka meyakinkan.
"tau dari mana? Kita nggak tau kan bang Sho gimana aslinya"
"tau lah gue. Kalau bang Sho berani, udah lama dia bakal macem-macem. Lo tenang aja udah, nggak perlu lo kuntit mereka lagi kalau lagi jalan bareng atau lagi berduaan." Jelas Esok membuat Shaka mendengus dan menggeleng.
"Iyaa sii, tapi gue juga khawatir kak Jijel ngapa-ngapain bang Sho" Kata Shaka lagi dengan penuh curiga pada keduanya.
"Kalau itu gue baru setuju!" Seru Esok menjentikkan jarinya.
Adik macam apa kalian ini....
"Esok, Shaka, ayo turun makan" panggil Tian membuka pintu kamar si kembar membuat keduanya terkejut dan buru-buru berdiri dan mengikuti ayah tirinya itu.
Tidak biasanya Tian memanggil Esok juga Shaka untuk makan bersama, apalagi setahu mereka berdua Tian baru pulang setelah tiga hari bekerja lembur dikantor. Apakah ada hal yang ingin dibicarakan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Misunderstanding
General FictionMasuk ke dunia novel dan jadi antagonis, sudah biasa. Tapi nyangka nggak si, kalau seorang aeri harus jadi antagonis di novel bl. Ini semua berawal dari karin, sohib absurd aeri yang mendadak gabut bikin novel bl. Entah ke sialan apa yang menimpa ga...
