teman cerita

82 12 2
                                        

Esok merenungkan kejadian yang terjadi barusan, ia sudah berhenti menangis, namun kepalanya masih betah bersandar pada pundak Chena. Rasanya sangat nyaman sampai membuat Esok sedikit mengantuk, sudah berapa lama dirinya menahan semua ini sampai Esok sendiri merasa dirinya sangat hebat. Sebenarnya ia ingin sekali mengeluarkan semua gulandah yang mengganjal, tapi itu sepertinya adalah pilihan buruk. Lebih baik Esok biarkan dirinya menyimpan semua itu sendiri

Chena menepuk tangan Esok, "jadi lo butuh temen cerita atau butuh temen sandaran malam ini Sok?" tanya-nya menatap Esok lembut.

"nggak biasa nih gue liat lo lembut begini, kau ni ape?" tanya balik Esok membuat Chena kesal dan mencubit perut Esok dengan kencang.

"masih sempet-sempetnya bercanda?!" geram Chena.

Esok tertawa, ia menatap langit terlebih dahulu sambil menyusun kata untuk ia ceritakan pada gadis disebelahnya.

"tadi gue ketemu ayah kandung gue Che, perasaan gue berkecamuk. Dia minta maaf, tapi nggak segampang itu buat gue maafin dia. Apalagi kalau mengingat kelakuan dia dulu, rasanya kepala gue pusing, perut gue juga mual. Gue selamanya nggak akan pernah lupa. Walaupun orang bilang dia tetep ayah gue" jelas Esok dengan helaan nafas berat.

la tidak akan pernah melupakan masa itu, masa dimana dirinya merasa tidak berhak dan layak untuk diberikan hidup.

"dia tetep ayah lo, gue nggak setuju sama argumen itu Kalau ada yang begitu ke lo pukul aja kepalanya, dia nggak ngerasain jadi lo gimana Kalau lo nggak mau maafin ayah lo gapapa, apa yang ditanam itu yang didapat Jadi masih untung lo nggak bales dendam ke ayah lo Semua keputusan terserah sama diri lo, nggak ada yang berhak buat ngatur ngatur Gue emang nggak ngerti si perasaan lo gimana, tapi semangat ya Sok" ujar Chena menepuk punggung Esok agar tidak bersedih lagi.

Mau gimanapun, semua keputusan itu terserah Esok. Mau Esok memaafkan, atau Esok tidak maafkan, ataupun Esok ingin membalas rasa sakitnya dulu sekalipun. Chena tidak berhak ikut campur, karena yang merasakan itu Esok bukan dirinya. Chena hanya bisa menemani Esok seperti sekarang saja.

"kok lo bijak banget si Che, cocok jadi jubir pak presiden. Nanti kalau ada suara rakyat pasti dengarkan deh" kata Esok asal membuat Chena menggeleng. biarkan saja Esok dengan mulut asal bunyinya itu

"kalau lo udah mulai ngerasa tenang, anterin gue ke ruman Willo. Dia udah nungguin gue" beritahu Chena menepuk bahu Esok lumayan keras.


°°°°°



"DEK WILLO!! ADA SOMAY NIH, MAU NGGAK?" tanya Dirga teriak dari luar rumah.

Willo keluar menuju teras kamarnya, ia balas berteriak pada Dirga kalau dirinya pesan du sekalian kedua orangtuanya juga mau. la sedang melihat-lihat vidio lucu pada beranda sosmed nya sambil menunggu Chena yang katanya sedang keluar bersama Esok, dan akar menginap lagi dirumahnya.

"bang pesen empat porsi lagi yaa, yang satu nggak pedes" kata Dirga pada abang tukang somay

'eh, kok kayak kenal' batin Dirga melihat ke arah sepeda yang melaju ke arah dirinya.

"KAK DIRGA MINGGIR!!" teriak Chena dari jauh karena Esok hampir menyerempet Dirga saking mengebutnya.

"kan udah gue bilang jangan ngebut! Udah tau turunan juga!" omel Chena memukuli Esok dengan jantung berpacu dua kali lipat. Hampir saja celaka.

"kak Dirga gapapa kan?" tanya Chena mengecek keadaan Dirga takutnya kenapa-napa.

"aman"

"loh orang nggak jelas tadi" gumam abang tukang somay saat melihat Chena dan Esok

"nginep lagi kah Che? Masuk gih nih sekalian bawa somay" perintah Dirga memberikan kantung plastik berisi somay pada Chena

"oiya siapa lo ini?" tanya Dirga menatap Esok penasaran.

"Esok bang, temen Chena sama Willo" ucap Esok memperkenalkan dirinya.

"oh Esok, temen lo Che. Abis dari mana kalian?" tanya Dirga menangkringkan lengannya pada bahu Esok

"abis makan angin bang, angin malem enak. Kalau gitu gue pamit pulang dulu ya Chen" kata Esok tersenyum canggung ke arah Dirga dan melambaikan tangannya pada Chena

"langsung pulang ya Sok! Jangan kelayaban, kak Gigi nyariin lo!" perintah Chena sedikit berteriak lalu Esok iyakan.

"temen Che? Che, temen? Si Esok?" ledek Dirga menatap Chena.

"tau ah" Chena langsung kabur saat itu juga tanpa membalas ejekan dari Dirga.

"eh Chena, Willoo Chena udah dateng nih. Sini duduk Che, bunda lagi buat es buah" panggil bunda Willo memerintahkan Chena untuk duduk pada sofa ruang tengah.

"wiih, dalam rangka apa tuh bun buat es buah malem-malem?" tanya Chena menaruh plastik berisi somay pada meja makan dan menghampiri bunda Willo

"dalam rangka malem minggu dong Che, om sama bunda kan mau romantis juga kayak anak muda. Nah kamu sama Willo dan kak Dirga jadi topping dunia nya" ujar ayah Willo membuat Chena tersenyum dan manggut-manggut

"salah tuh yah, yang jadi topping mah aku sama Willo Chena abis pacaran, pacarnya ganteng loh tadi aku ketemu dia nganter Chena kesini" sahut Dirga dari arah pintu membuat Chena buru-buru menyanggah karena takut terjadi kesalahpahaman.

"Che, Che!! Lo udah nyuruh si Esok pulang? Kak Gigi sama kak Shota otw mau cari Esok katanya" tanya Willo sambil berlari dari lantai atas.

"udah, bilang aja ke kak Gigi gausah dicariin." Perintah Chena membuat Willo buru-buru mengirim pesan pada Gisell seperti kata Chena.

"lagian bocah ada-ada aja segala kabur" cibir Willo mengantungi ponselnya dan menarik Chena untuk duduk

"si Esok itu kabur dek? Kenapa?" tanya Dirga yang tak sengaja mendengar pembicaraan dua gadis remaja itu.

"masalah pribadi kak, gapapa" jawab Chena membuat Dirga mengangguk paham.

"tapi lo tau nggak si? Si kak Shota ngirim foto Shaka lagi nangis jir banyak banget ahahahahh. Kocak banget dah, waktu itu juga gue pernah liat dia nangis pas disamperin sama kak Gigi" beritahu Willo menyerahkan ponselnya dan menunjukan room chatnya bersama Shota.

"bukannya waktu itu mah lo duluan ya yang nangis Wil" ledek Chena menatap Willo sambil menaik-turunkan alisnya.

"yaa itukan beda ceritanya"

"tadi gue juga liat Esok nangis Wil"

"YANG SERIUS LU?! SI ESOK NANGIS? DEMI APA?" kaget Willo menatap Chena tidak percaya.

"gausah heboh gitu dong!! Ya bisalah, namanya juga manusia. Tapi sumpah gue juga kaget banget" ucapnya sambil tertawa kecil sambil tersenyum.

"CHE! SUMPAH CHE! Coba deh lo pikirin lagi kalau mau suka sama orang, jangan Esok Chel" teriak Willo mengguncang tubuh Chena untuk segera sadar.

Intinya Willo masih belum terima kalau sahabat sehidup sematinya menaruh perasaan pada orang slengean seperti Esok Yasha.

MisunderstandingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang