nestapa

111 9 5
                                        

Sore-sore gini tuh emang paling enak makan es krim, seger. Kayak ke-empat remaja yang beranjak dewasa ini lagi makan es krim sambil menghitung mobil lewat. Gabut dan sangat tidak berfaedah memang, tapi biarlah.

"kalau ada 10 mobil merah lewat, gue bakal beliin kalian eskrim" celetuk Esok sambil menggigiti gagang es krim.

"beneran ni Sok? Gue nanti ambil tiga es krim lohh ya" seringai Shota dengan semangat menunggu sepuluh mobil merah lewat.

Gisell menggeleng, nyeleneh aja anak satu itu.

"lo masih liatın soal latihan Shak? Kapan olimpiade nya? Biar gue bisa tengok nanti" tanya Gisell penasaran.

"gue lagi main game kok. Olimpiade nya nanti waktu deket-deket sama natalan kak, kalau lo sibuk, nggak dateng juga gapapa" jawab Shaka yang fokusnya masih pada layar ponsel.

"gue mahh udah libur itu, jadi bisa dateng lah!! Sekalian gue ajak kakek sigit ya!! Pasti kakek nggak nyangka Shaka si cengeng bisa jadi perwakilan sekolah buat ikut olimpiade" senang Gisell mengelus punggung Shaka bangga. Shaka mengangguk sebagai balasan.

"sepuluh!! Anjay, sebelas tuh Sok!! Traktir lahh!" semangat Shota langsung ngibrit masuk ke dalam toserba untuk mengambil janji Esok tadi.

"sial, baiklah janji tetap janji. Pangeran enggak pernah langgar janji orangnya!" Esok selalu berpegang teguh pada ucapannya, anjay

"tapi katanya lo awalnya nggak mau ya Shak?" tanya Gisell yang kemarin diceritakan sama Willo kalau Shaka sempat menolak saat namanya ingin dicantumkan sebagai perwakilan sekolah.

"ini juga mau karena terpaksa aja, gue nggak pede. Kalau nggak menang nanti gimana ya?" sebenarnya Shaka over thinking dari kemarin. Kalau hasilnya tidak memuaskan bagaimana ya? Yang ada malu-maluin nama sekolah aja. Shaka juga nggak terlalu percaya sama kemampuan dirinya sendiri, selalu merasa ada yang lebih baik daripada dirinya.

"kocak, kalau di denger si piscok bisa di sleding lo Shak. Ini menghantarkan massa buat kroyok lo, willo bilang lo tuh kebanyakan nggak pede nya. Narsis gitu, flexing sesekali nggak masalah. Lo cakep, tinggi, pinter, minus dimulut mulut rombeng doang sama cengeng kayak bocah, Selebihnya oke, jangan kebanyakan nggak pede. Noh si esok, dapet kelas ke dua dia flexing kesana kesini, berasa Albert Einstein dia" saran Gisell agar membuat adiknya itu tercerahkan sedikit.

Habis, makin kesini Shaka orangnya makin nggak pede. Padahal kalau kata Esok asikin aja bang.

"kalian mau nggak? Si Esok yang beliin" tawar Shota yang keluar dari toserba dengan senyum lebar sambil menenteng sekantung plastik.

"buset bang, lo ngerampok gue atau gimana dah?! Beli es krim doang aja duit yang merah sampe ngilang dari dompet" cemberut Esok menatap dompet nya. Tersisa uang berwarna abu-abu selembar, sudah dipastikan uang itu akan lenyap juga untuk membayar parkir motor.

"cemberut mulu lo, katanya mau traktir gue"

"yaa, iya sii..."

"nanti gue ganti tenang aja, sini duduk" kata Shota yang berniat hanya ingin mengerjai Esok tadi. Esok langsung menghampiri dengan wajah sumringah, bukannya nggak ikhlas jajanin bag Shota, tapi Esok perlu uang itu untuk bertahan hidup. Bertahan hidup agar bisa top up, separuh nafas Esok ada pada game. No game, no life

Sedang asik-asik nya bercanda bahu Esok ditepuk, empu nya menoleh dan mendapati pria paruh baya yang menatapnya dengan wajah sedih. Shaka mengerutkan dahinya, siapa itu? Apakah kenalan Esok? Tapi kenapa Shaka merasa familiar dengan wajahnya?

"Esok? Shaka?" tanya pria paruh baya itu dengan nada sedikit parau.

Gisell melirik panik ke arah Esok maupun Shaka, bagaimana bisa tuan kalandra ayah dari si kembar berada disini? Apalagi kemarin mereka sempat perang dingin akibat pembahasan mengenai orang itu.

"bener kan? Ada kamu juga yang kemarin. Kamu ingat saya kan?" tanya tirta menunjuk Gisell.

Esok menatap tirta dengan sinis, perasaan tidak suka nya meluap. la berdiri dari bangkunya dan menarik tangan Shaka untuk menjauh, namun sebelum itu ia ditahan oleh tirta.

"kamu mau kemana? Ayo bicara dulu sebentar" pinta tirta menatap Esok berkaca-kaca.

"persetanan sama bicara!" esok menepis tangan yang bertengger pada bahunya dengan kasar. Shota dan Gisell yang terkejut langsung buru-buru membantu tirta untuk berdiri.

"Esok ayo kita bicarakan dulu semuanya, ayah-"

"ayah? Siapa? Siapa yang ayah? Saya nggak punya ayah! Emang apa si yang mau dibicarain? Semua udah basi tau!" teriak Esok sambil mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi.

"Esok" ucap Shota menatap Esok agar tidak bertindak lebih lagi.

"ayah tau kamu marah nak, tapi ayah mau jelasin kesalahpahaman ini dulu" pinta tirta memegang tangan Esok agar mau menurut

Lagi lagi, Esok menghempaskan tangan sang ayah. Ia menatap jijik pria paruh baya di depannya sambil berdesis sinis.

"anda mau bilang ini atau itu, mau ngelurusin kesalahpahaman, atau alasan yang nggak berguna. Itu semua nggak guna! Mau bicara apa? Bicara omong kosong??" tanya Esok dengan nafas memburu. la langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan gusar penuh amarah.

"Shaka..."

"nanti, aku mau nenangin diri dulu" ucap Shaka mendudukkan diri pada kursi yang lumayan jauh jaraknya dari tirta sambil mencoba mencerna kejadian barusan.

"maaf pak, silahkan duduk dulu sambil tenangin diri" pinta Shota sambil menarik kursi dan menuntun Tirta yang kelihatannya sedang syok

"terlalu lembut lo mah Sho' dengus Gisell yang melihat Shota sedang memapah tirta.

"maafin tingkah Esok tadi pak, dia punya alasannya sendiri kenapa sampai kayak gitu dan saya yakin bapak pasti tau alasannya" lanjut Shota.

"saya yakin saya sudah memberikan kartu nama saya ke kamu, kenapa kamu nggak langsung menghubungi saya?" tanya Tirta menatap Gisell sedikit sinis.

"maaf, soalnya anak om nggak mau berhubungan lagi sama om" jawab Gisell sekenanya mendatangkan amarah Tirta.

"gara-gara kamu anak-anak saya jadi begini! Seharusnya kamu menghubungi saya lebih cepat! Semua ini karna kamu" ucap Tirta menunjuk Gisell geram.

Gisell speechless, bagaimana bisa jadi salah dirinya? Dari semua manusia dibumi, Gisell yakin pasti akan terheran-heran karena pria paruh baya di depannya saat ini menyalahkan diri Gisell

"kok jadi saya om?" tak terima Gisell menatap Tirta kesal.

"salah kamu memang!"

"apaan si nggak jelas banget jadi orang!" kesal Gisell mengepalkan tangannya. Setidaknya biarkan Gisell memukul pria itu sekali saja!

"intinya gara-gara kamu ini"

Shota menahan Gisell sambil mengelus pundak empunya untuk sabar.

"jangan menyalahkan orang yang nggak bersangkutan. Padahal disini kita semua tau kan salah siapa? kalau aja dulu bapak bertindak seperti seorang ayah yang tepat buat Esok sama Shaka kejadian hari ini nggak bakal kayak gini. Tolong banak-banyak intropeksi diri" nasihat Shota yang merasa jengkel karena Tirta menyalahkan Gisell yang tidak ada sangkut pautnya.

"gg! Liat tuh langsung kicep" senang Gisell menatap tirta yang terdiam.

Shota menggelengkan kepalanya, "sekarang gimana kita ngurusin dua anak itu?"

Gisell dan Shota menatap satu lain, pasti bakal susah dan semerawut Bisa dibayangkan jika Esok pasti akan mengeluarkan jurus terpendamnya lagi kali ini, silent treatment. Gisell sudah bisa tebak bagaimana keadaan rumah saat pulang nanti, entah Esok akan salah paham atau bagaimana. Yang penting Gisell akan mengurus urusan disini terlebih dahulu.


____________

Hai hai
Maaf yaa baru up sekarang, niatnya kemarin malem tapi ada beberapa kata yang harus direvisi😇🤧
Makasii buat kalian yang selalu support aku terus🤧
Aku terharu guys, thank's and love you😘💋

MisunderstandingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang