"kakak, adek tercintamu ini pulang!" teriak Esok sambil membuka pintu rumah.
Gisell yang sedang menunggu kepulangan Esok bersama Shota langsung berlari dan mengecek keadaan adiknya itu. Ternyata aman, dan terlihat normal juga karena tadi memanggil dirinya sendiri adek.
"kenapa baru pulang?! Telpon gue sama Shota juga kenapa nggak diangkat?! Shaka nungguin lo sampe ketiduran karna cape" omel Gisell menjewer telinga Esok lalu ia peluk Esok dengan penuh kelegaan.
"lo okey Sok? Maafin gue yaa nggak buru-buru nahan lo tadi" sesal Gisell merasa dirinya bodoh karena tidak dapat menenangkan dan menemani adiknya.
"gapapa kak, gue udah okey Gue juga nggak perlu ditahan, emang gue napi?" tanya Esok membuat Gisell lagi-lagi menjewer telinganya.
"lo mau minum Sok?" tanya Shota mengelus punggung Esok.
"mau bang, cape gue goes sepeda jauh banget"
"lo sama Chena kemana aja?" tanya Gisell.
"keliling sini aja, terus nganterin dia ke rumah Willo. Kak sumpah deh gausah natap gue gitu nanti gue nangis lagi bahaya kak, kota kita bisa jadi lautan nanti tenggelem air mata pangeran duyung" pinta Esok yang dipandang dengan sangat khawatir oleh Gisell
"kakak lo khawatir Sok" sahut Shota menepuk bahu Esok agar mengerti sedikit.
"gausah khawatir, gue udah tenang sepenuhnya kok. Lo juga nggak perlu nyusun kata-kata penenang, cukup temenin gue aja jangan tinggalin gue tiba-tiba." Pinta Esok memeluk Gisell dan mengelus pundak kakaknya.
"beneran nggak butuh kata-kata semangat?" tanya Shota meyakinkan Esok.
"nggak, lo, bang Shota, kak Jijel, sama Shaka. Ngeliat kalian baik baik aja cukup jadi penenang gue kok" lanjutnya membuat Gisell bertambah mewek dan memeluk Esok lebih erat lagi.
"ada rasa geli-geli gitu Sok jujur Tapi gue ikutan terharu nih" kata Shota sambil mengacak rambut Esok dengan gemas.
"gue khawatir sama lo Piscok, kalau lo benci gue karena kejadian tadi maafin gue"
"kenapa jadi nangis si? Malu tuh sama bang Shota, mana ingusan lagi
Gisell memukul lengan Esok, "jangan ngeledek dulu!"
"gue nggak benci lo, kenapa harus? kan lo nggak salah apa-apa. Udah yaa kak? Masalah tadi lupain aja nggak perlu dibahas lagi." pinta Esok menghapus air mata pada pipi Gisell.
Shota memberikan tisu pada Esok agar anak itu dapat menghapus air mata Gisell. shota melihat kedua kakak beradik itu dengan tatapan sendu, setiap orang punya lukanya masing-masing. la memeluk keduanya dalam dekapannya, memberikan semangat dan dukungan bahwa dirinya akan selalu berada pada sisi keduanya.
°°°°°
Willo menatap dua laki-laki didepannya dengan bingung juga aneh. la menatap Chena meminta penjelasan namun yang ditatap mengangkat bahunya karena tidak tau apa yang terjadi. Chena menerka, mungkin masih ada kaitannya dengan masalah yang Esok ceritakan.
"lo berdua, abis ngapain sampe sembab gitu matanya?" tanya Willo yang diam-diam menusuk baso milik Esok.
"abis ngapain kek, kepo amat lo" jawab Shaka jutek membuat Willo berdecih.
"ooh, pasti abis nangis kan? Gue punya foto cengeng lo Shak" ledek Willo memamerkan foto Shaka yang menangis. Apalagi salah satu foto itu Shaka sedang ditenangkan oleh Shota.
"lo ya Sok?" tuduh Shaka menunjuk Esok menggunakan garpu
Esok membuka matanya, ia menggeleng
"eh kocak, lo liat dong foto itul Ada gue nggak?! Gue aja lagi menyendiri ya waktu itu" kesal Esok menendang kaki Shaka dari bawah meja.
"ini dari kak Shota" kata Willo memperlihatkan chatnya bersama Shota.
Shaka berdecak, pasti ulah kakaknya itu. Karena setahu Shaka, Shota tidak akan se-jail itu apalagi masalah kemarin juga cukup serius. Bisa-bisanya kakaknya mengirim foto aib seperti itu pada Willo.
"menyendiri pala lo, kabur lo mah" cibir Shaka membalas menendang kaki Esok, membuat Esok tertawa cengengesan.
Jadi alasan mengapa mata si kembar sembab adalah, mereka kemarin saling menceritakan curahan hati masing-masing. Tanpa mencerca satu sama lain seperti biasanya, kemarin mereka saling memahami perasaan satu sama lain. Mengutarakan perasaan mereka yang sebenarnya, dari lubuk hati yang terdalam. Saking intens nya suasana kemarin, mereka jadi terbawa perasaan yang menumpahkan air mata.
Untungnya ada Gisell dan juga Shota yang datang menghampiri mereka dan memberikan si kembar kata penenang. Semua akan baik-baik saja jika dilakukan bersama.
"kok baso gue ilang satu? Apa udah gue makan yaa?" gumam Esok menghitung bakso kecilnya tersisa dua biji, padahal tadi ada tiga. Sedangkan yang mengambil bakso milik Esok sedang tertawa dalam hati melihat Esok kebingungan mencari baksonya.
"tapi tunggu dehh, lo berdua kenapa duduk dimeja gue sama Chena? Kenapa?" tanya Willo menatap kedua nya dengan curiga.
Si kembar pura-pura tak mendengar dan asik saling mereview makanan pada satu sama lain, membuat Willo kesal karena merasa di kacangin. la pun menggebrak meja membuat kedua nya diam.
"masa gitu aja nggak tau si Wil, mereka tuh malu sama temen-temennya. Liat tuh, matanya sembab, tadi aja dikelas Esok diledekin sama Hisyam. Terus dijalan tadi Shaka diceng-cengin sama Leo, karena katanya 'yaa kocak lakik bukan lo cengeng amat, sini bang poto dulu poto' gitu" jelas Chena yang menyaksikan semua kejadian itu, membuat Shaka terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri saat ingin menyanggah.
"yaa kocak!! Kalau gue sebar foto lo Shak, akun gue bisa rame. Pansos gue kali-kali" gurau Willo menendang kaki Shaka untuk meledek.
"gausah songong lo cil"
"HEH KEMBAR!! KOK DUDUKNYA MISAH SII??!" teriak Asa yang langsung ditarik oleh temannya yang lain untuk segera duduk. Karena mereka malu tiba-tiba jadi pusat perhatian orang-orang.
"ssstt lu diem, jangan teriak-teriak. Kita misah soalnya Shaka katanya mau bahas materi olimp sama Willo, kalau si Esok mah pasti bocah fomo dia" jelas Bisma yang habis bertukar pesan dengan Shaka.
"itu mah akal bulus Esok aja nggak sii, dia akhir-akhir ini nempelin Chena mulu" kata Leo sedikit berbisik tanda akan memulai gosip.
"tapi bukannya kata lo kemarin lo curiga kalau si kembar belok gara-gara cerita bang Jeran sama bang Josua?" tanya Alin membuat yang lain berseru setuju dan memandang Leo aneh.
"yakan curiga, abis nii siapa yang nggak curiga itu du anak ngikut bang Shota mulu. Mana perhatian banget lagi, kayak sedikit tidak wajar. Tapi gue emang penuh curiga orangnya" jelas Leo membuat yang lain bersorak dan memukuli Leo karena tidak jelas.
"udah si, urusan mereka itu. Cuma mereka sama tuhan yang tau kebenarannya" nasihat Hans memerintahkan yang lain untuk fokus saja pada makanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Misunderstanding
Ficción GeneralMasuk ke dunia novel dan jadi antagonis, sudah biasa. Tapi nyangka nggak si, kalau seorang aeri harus jadi antagonis di novel bl. Ini semua berawal dari karin, sohib absurd aeri yang mendadak gabut bikin novel bl. Entah ke sialan apa yang menimpa ga...
