Guilty feelings

132 10 3
                                        

"kamu gimana selama ini? Baik?" tanya kakek Sigit menatap cucu semata wayangnya.

"i'm good, walau sedikit banyak gila nya hehehe. Kakek gimana?" tanya Gisell membuat Sigit membalas sama seperti jawab Gisell.

Mereka berbincang sedikit, mengenai kegiatan sekolah Gisell. Gisell meneritakan satu-satu sampai membuat kakek Sigit dibuat tertawa karenanya, cerita-cerita tentang masa remaja Gisell mengingatkan kakek Sigit pada anaknya. Dulu, Clarisa juga sama seperti Gisell selalu menceritakan pengalaman sekolahnya dengan mata berbinar. Kakek Sigit mengelus surai cucunya dengan penuh kasih sayang, Gisell merasa terenyuh, entah kenapa dadanya terasa sakit lagi. Entah kenapa gisell merasa seperti menjadi penipu, entah kenapa gisell merasa jika dirinya tidak seharusnya berada disini, mendapat perlakuan lembut seperti ini.

"kakek, kalau misalnya yang duduk disamping ini bukan cucu asli kakek gimana?" tanya Gisell spontan, kakek Sigit menatap gisell dengan sorot mata lembut, ada kasih sayang yang Gisell tidak dapat pahami.

"kamu itu cucu kakek, mau gimana sifat kamu, mau gimana bentuk kamu, kamu tetap cucu kakek Jijel jawab kakek Sigit namun tidak membuat hati Gisell berhenti gelisah.

"kalau aku bukan Gisell, tapi orang lain?" tanya Gisell dengan nada sayu, kakek Sigit tertawa.

"maka kakek akan tetap menyayangi kamu, kita bisa mencari Gisell bersama kan?" jawab kakek Sigit yang masih mengelus pucuk kepala Gisell.

Gisell terenyuh, batinnya terus merasa bersalah. Gisell merasa seperti sudah menipu kakek Sigit yang penuh kasih sayang pada Gisell, entah, Gisell merasa sangat merasa bersalah jika ada dihadapan kakek Sigit. Sebenarnya Gisell juga bingung, perasaan bersalah sebesar ini sebenarnya berasal dari mana? Seperti menggerogoti seluruh hati Gisell, yang tersisa adalah rasa bersalah.

"kakek, aku boleh minta kakek selalu lindungi aku sama Esok dan Shaka?" pinta Gisell mengalihkan arah pembicaraan mereka.

"kenapa memangnya?"

"hmmm, nggak tau kenapa aku selalu ngerasa bahaya kahir-akhir ini. Tolong kakek berdoa yaa sama tuhan biar jijel sana kembar selalu diberi keselamatan "Pinta Gisell dengan sungguh-sungguh. Karena kalau kata Shota, doa orang tua untuk anaknya sangat ajaib.

"tanpa kamu minta kakek selalu mendoakan kalian yang terbaik kok" jawab kakek Sigit memeluk cucu perempuannya agar merasa tenang.

Gisell mengangguk, ia membalas pelukan kakek Sigit, merasa kasih sayang kakek Sigit yang begitu dalam untuk dirinya.

'maaf kakek, aku bukan cucu asli kakek Tapi aku janjı bakal lindungin Gisell, Esok, Shaka bahkan Shota sekalipun. Aku nggak bakal biarin ending bejat itu nyentuh aku sedikit pun. Gisell, ijinin gue buat ngelanjutin hidup lo ya? Gue nggak bakal berbuat macam-macam, makasi karena dari semua manusia lo udah milih gue'

°°°°°

Gisell menatap kepergian kakek Sigit dengan perasaan sedih, padahal baru kemarin Gisell bercerita dengan kakek Sigit sekarang kakek Sigit sudah harus balik untuk mengurus pekerjaan. Apalagi selama ada kakek Sigit rumah rasanya sangat tentram sekali, tidak ada Lemil yang mengomel atau tatapan intimidasi Tian lagi, baiklah, bye kehidupan tenang selama seminggu ini.

"sering-sering kesini, yah" pinta Tian dengan senyum nya. Sigit tertawa dan menimpali omongan Tian, lalu kakek Sigit pamit pada Gisell dan si kembar. Gisell dan si kembar melambaikan tangannya kala mobil kakek Sigit sudah menjauh, mereka menghela nafas.

"akhirnya bisa bebas juga" seru lemil tersenyum puas dengan senyum mengembang.

Tian mengangguk, ia berlalu tanpa sepatah kata memasuki mobil untuk berangkat kerja. Gisell mendengus, baiklah si gila kerja akhirnya pergi juga. Karena memang segila kerja itu ayahnya, terkadang lembur sampai empat hari tidak pulang kerumah.

MisunderstandingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang