"WILLO! BELIIN BUNDA INI DONG DIPASAR DEK" teriak bunda yura dari arah dapur.
"WILLO!!" teriak Yura lagi karena anaknya tidak menyahuti perkataannya.
"heh, lo dipanggil bunda lo tuh!" kata Shaka menendang kaki Willo yang sedang serius mengoreksi jawaban milik Shaka.
"bentar, dikit lagi selesai nih"
"WILLOOO!!" teriak Yura membuat Willo mau tidak mau menghampiri bundanya itu.
"kenapa si bun?" tanya Willo menatap bundanya kesal.
"tolong beliin bunda bahan kue, ternyata kurang. Nih udah bunda list, kamu tau kan toko bahan kue langganan bunda?" pinta Yura memberikan selembar kertas pada Willo membuat anak itu melongo.
"banyak banget ini bun! Nanti aja tunggu kak Dirga pulang, soalnya motor juga dipake sama dia" kata Willo membuat Yura menggeleng. karena Dirga jika sudah nongkrong pulangnya bisa tengah malam tidak ingat waktu.
"acaranya nanti besok pagi loh Wil! Sedangkan ini aja udah sore, kalau nunggu Dirga pulang udah tutup toko itu. Kamu minta tolong aja sama temen kamu itu, siapa namanya? Shaka yaa?" kata Yura menaik turunkan alisnya membuat Willo menggeleng.
"jangan ah ngerepotin! Aku suruh kak Dirga pulang aja"
"gapapa loh Wil, minta tolong sama temen kamu aja"
"ah bunda! Jangan malu-maluin aku deh!" kata Willo menatap Yura kesal.
Willo kembali ke kamarnya, ia ingin mengirim pesan pada Dirga untuk cepat-cepat pulang. Entah kakaknya itu akan membaca pesannya dengan segera atau nanti.
"ayo sama gue aja" kata Shaka melihat Willo yang sedang mencak-mencak sendiri.
"huh? Apanya?" tanya Willo bingung.
"tadi kata bunda lo"
Willo mendesis dalam hati, sial pasti Shaka mendengar ucapan asal bundanya itu.
"gapapa nih?" tanya Willo menatap Shaka tak enak.
"nggak biasa nya lo nggak enakan begitu cil" ledek Shaka membuat Willo kesal.
Yasudah kalau Shaka nya tidak masalah, Willo tidak rugi ini. Mereka langsung jalan pergi setelah Yura menyerahkan beberapa lembar uang pada Willo.
.
.
.
"beli apa aja?" tanya Shaka mengintip list belanjaan pada kertas yang Willo pegang.
"udah lo tenang aja" kata Willo sambil menyerahkan lembar kertas itu pada orang yang sedang menjaga toko.
Willo dan Shaka menunggu pesanan sambil memainkan ponselnya masing-masing, yang satu sibuk bermain onet, yang satu sibuk bermain pubg.
"kak, ini udah semua" beritahu orang itu sambil memberikan bon yang harus Willo bayarkan.
Setelah membayar Willo dan Shaka langsung mengangkut kantung belanja menuju motor.
"bunda lo jualan cil?" tanya Shaka membuat Willo mengangguk.
"tapi ini buat acara arisannya besok"
"kesitu dulu, ke kafe itu Shak!! Lagi ada promo tuhh lumayan!" beritahu Willo memukul pundak Shaka pada tengah keramaian jalan raya.
"lo serius nih?" tanya Shaka melihat antrian yang lumayan panjang.
"dua rius! Lo cari meja gue yang antri!! Cepet sana! Sekalian istirahat" perintah Willo mendorong Shaka untuk buru-buru mencari meja.
Willo mencari keberadaan Shaka, Shaka melambaikan tangannya membuat Willo buru-buru menghampiri Shaka.
"kaki gue lemes banget" beritahu Willo karena lumayan lama mengantri.
"lagian, emang gapapa nih nggak langsung pulang? Nanti bunda lo nungguin lagi" tanya Shaka dibalas anggukan oleh Willo.
"berapa?" tanya Shaka sambil mengeluarkan dompetnya.
"apanya?"
"pesenan gue"
"ah gausah, pake duit bunda kok. Bunda yang nyuruh nih" beritahu Willo memperlihatkan pesan yang dikirim bunda Yura dan dirinya, untuk mentraktir Shaka karena sudah membantu Yura untuk mengantar Willo membeli bahan kue.
"oke"
"ambil pesenan kita sana, gue cape" perintah Willo menendang kaki Shaka pelan membuat empunya mendengus.
"untung berhenti dulu kesini, macet banget gila" monolog Willo melihat jalanan membludak sampai mobl tidak dapat bergerak.
"lohh, heh Willo!!" teriak seorang gadis membuat Willo terkejut dan mencari asal suara tersebut.
'sialan, kenapa ketemu si busuk si jing?!' batin Willo mencaci maki Zaya dan menatap Zaya sinis.
"kok bisa ketemu disini yaa?" tanya Panji sambil tertawa membuat Willo mendengus sebal.
"lo sendiri? Aah pasti bareng Chena yaa? Kalian berdua kan dari dulu nggak laku, sampe lo jadi pho, upss" sindir Zaya membuat sumbu Willo menaik. Rasanya Willo ingin menjambak dan berteriak pada wajah Zaya bahwa itu semua adalah fitnah terkeji.
"najis banget gue jadi pho lo, soalnya pacar lo ituuu, pfft lo tau sendiri lahh" ledek Willo sambil membuat gestur pada wajahnya.
"kenapa? Kenapa huh??"
"ck, pacar lo jelek, bang.et. bukan tipe gue, jadi lo bisa tenang" lanjut Willo membuat Zaya dan Panji jadi kesal.
"ngajak ribut lo?"
"males"
"kenapa nih?" tanya Shaka penasaran. Habis dia lihat dari jauh, Willo seperti sedang cekcok sama orang.
"gausah ikut campur!" seru Panji membuat Willo jadi malu. Soalnya teriakannya membuat beberapa orang jadi memusatkan perhatian mereka ke meja Willo.
"lo kalau suka jadi pusat perhatian sendiri aja, sana gue udah nggak ada urusan lagi sama lo" usir Willo mengkibaskan tangannya.
"mana temen lo? Ayo kita ribut aja, masalah kita belum selesai"
"kenapa si?" bingung Shaka menatap Willo meminta penjelasan, pasalnya Shaka mau duduk tidak bisa karena dihalangi.
"orang gila, udah lo duduk sini" Willo mendorong Zaya dan menarik Shaka untuk segera duduk.
"hah? Lo dateng bareng dia?" tanya Zaya pada Shaka membuat Shaka mengangguk dan menatap Zaya tidak suka.
"kak mohon maaf, tolong jangan ribut karena mengganggu pelanggan lain. Kalau mau ribut tolong diluar saja jangan disini ya kak" tegur salah satu pelayan yang mendapat aduan kalau merasa terganggu.
"maaf ya kak, saya nggak kenal mereka tiba-tiba ngajak ribut" jelas Willo pada pelayan itu membuat pelayan mengangguk paham.
"awas lo Wil"
"nggak takut wlee" kata Willo tanpa suara.
"siapa si tadi?!" tanya Shaka menatap Willo penasaran. Ia menyuap es krim matcha nya dengan tidak sabaran.
"kepo lo bambu. Lo inget cerita gue yang dikantin waktu itu nggak? Nah itu orangnya" beritahu Willo sambil mencuri satu sendok es krim milik Shaka.
"enak juga ternyata"
"yang mana? Lo sama si siscom punya segudang cerita"
Willo mendengus, lagian tumben banget Shaka kepoan begini.
"si busuk sama jelek" Shaka mengangguk ingat.
"lo suka sama dia dulu? Sampe berebutan? Serius?" kaget Shaka sambil melihat ke arah meja yang lumayan jauh dari mejanya.
Willo menendang lutut Shaka dan menatapnya sebal.
"udah gue bilang kalau dia yang suka sama gue"
"beneran nihh??" gurau Shaka menatap Willo tak percaya.
"gue banting lo nanya gitu lagi!" ancam Willo mengepalkan tangannya.
"es krimnya enak Shak" kata Willo sambil menatap Shaka dan tersenyum manis.
Shaka mendengus, ia menukar es krim miliknya dengan milik Willo membuat gadis itu tersenyum senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Misunderstanding
Ficção GeralMasuk ke dunia novel dan jadi antagonis, sudah biasa. Tapi nyangka nggak si, kalau seorang aeri harus jadi antagonis di novel bl. Ini semua berawal dari karin, sohib absurd aeri yang mendadak gabut bikin novel bl. Entah ke sialan apa yang menimpa ga...
