Gisell merenung, menatap lembaran kertas serta beberapa chip dengan bercakan darah dilantai. Otaknya kosong tidak dapat memikirkan apapun, tubuhnya kaku untuk merespon kejadian yang sedang ia alami. Jiwa Gisell rasanya sangat terguncang, ia tak pernah menyangka kejadian seperti ini akan menimpa dirinya.
"akhirnya aku bisa lega untuk sekian lama" ucap pria itu sambil tertawa dan menendang bingkai foto berisi foto Gisell dan kedua orang tuanya dulu.
"kenapa?" tanya Gisell dengan nada lemah.
"kenapa kamu tanya? Tentu aja karena mami kamu terlalu ikut campur urusan akul Dan kamu sebagai anaknya, yang juga ikut campur harus dimusnahkan sekarang juga. Sebagai bonus, orang-orang itu juga aku kirim ke akhirat untuk menemani kamu disana Kamu kangen mami kamu kan?" terus terang pria itu menunjuk ketiga laki-laki yang terkulai lemas dibanjiri darah menggunakan pistolnya.
Tubuh Gisell bergetar, hatinya terasa seperti dicabik-cabik dan dihujam pisau berkali-kali. Seharusnya dirinya tidak usah melibatkan mereka, seharusnya Gisell berdiam diri saja tidak perlu memberitahu ketiganya. Ini salahnya, karena telah membuat ketiga orang terkasihnya kehilangan nyawa..
"ada kata terakhir?" tanya pria itu menodongkan pistol ke arah kepala Gisell.
"Gisell... lari.." perintah Shota menatap Gisell untuk segera kabur dari bangunan ini. Shota menahan pria itu dengan mulut yang mengeluarkan darah, sambil menahan sakit luar biasa pada dada nya.
Pria itu berusaha melepaskan diri dari cengkraman kuat Shota.
Gisell menggeleng, merasa tidak benar jika dirinya kabur sendirian. Shota menendang flash disk berwarna ungu dengan catatan 'bukti' pada Gisell, mengisyaratkan pada gadis itu untuk lari membawa barang tersebut.
Dor. Dor.
Belum ada enam langkah Gisell ambil, telinganya mendengar suara pistol itu lagi dengan suara tubuh ambruk. la menoleh, kakinya melemas. Niatnya untuk mengikuti perintah Shota lenyap, rasanya Gisell tidak sanggup jika harus meninggalkan mereka. Gisell juga tidak yakin jika memang ia kabur, apakah dirinya akan terjamin selamat dan membongkar alibi ini semua.
"brengsek! Aku bakal balas!" teriak Gisell menatap pria itu dengan perasaan getir dan dendam jadi satu.
Dor.
Gisell membuka matanya, ia mengambil nafas banyak-banyak sambil menetralkan jantungnya akibat mimpi menyeramkan barusan. Gisell mencoba meraih ponselnya pada meja, namun ponselnya langsung terjatuh ke lantai akibat tangannya lemas dan gemetar.
Gisell mengusap wajahnya, memegang dadanya yang terasa nyeri sambil memejamkan matanya mengingatkan diri sendiri kalau itu hanyalah mimpi lewat saja.
la bergegas menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dan menatap cermin. Wajahnya terlihat sedikit pucat, mungkin efek mimi menyeramkan tadi. Membayangkan mimpi tadi membuat perut Gisell menjadi mual. Rasanya makin hari, mimpi Gisell semakin seram dan menakutkan saja.
Ia mengambil ponselnya, menelpon nomor Esok yang terdapat paling atas.
"halo kak? Kenapa?" tanya Esok pada seberang telpon.
"belum tidur?"
"ini baru mau tidur, eh ditelpon sama lo"
"kenapa?" tanya Shaka dari meja belajar. Dirinya sedang bermain game bukan belajar.
"gue abis mimpi buruk tentang kalian" kata Gisell membuat si kembar saling menatap.
"jangan bilang lo liat kita mati lagi kak?" tanya Esok membuat Gisell berdehem.
"mimpi lo tuh sadis banget deh perasaan, serem banget. Gue sama Esok padahal sehat-sehat aja" seru Shaka yang diiyakan oleh Esok.
"mana gue tau. Intinya gue seneng dehh kalau lo berdua baik-baik aja, jangan tidur malem-malem! Besok sekolah" ingat Gisell.
"syap!"
"gue matiin yaa" sambungan telpon terputus.
Gisell menghela nafasnya, mimpi buruknya selalu berhasil membuat dirinya tidak tenang dan gelisah. la merasa kalau kejadian tersebut benar-benar terjadi dan dialami oleh dirinya sendiri. Walaupun tidak seburuk saat awal-awal bermimpi buruk, tapi tetap saja Gisell menjadi super gelisah.
...
Shota menaruh ponselnya, perutnya tiba-tiba lapar, la berjalan menuju lemari pendingin, mencari sesuatu yang dirasa bisa sedikit mengganjal perutnya pada tengah malam begini. la melihat roti yang ia beli kemarin malam, Shota akan memakannya dengan susu hangat.
"Sho" panggil Gisell membuat Shota sedikit terkejut dan melempar rotinya.
"kenapa kaget gitu si?" tanya Gisell mengambil roti pada lantai dan menyerahkannya kembali pada pemiliknya.
"lo dateng tiba-tiba gitu gimana nggak kaget?" ucap Shota lagi memegang dadanya yang berdegup kencang.
"maaf, lo laper?"
"iya, lo mau?" tawar Shota dibalas gelengan oleh Gisell.
Keduanya duduk pada sofa setelah Shota menghangatkan rotinya. Gisell menceritakan mimpi mengerikan itu pada Shota.
"mimpi aja itu. Emang lo ngapain sampe dibunuh begitu, nggak usah dipikirin" kata Shota sambil menepuk tangan Gisell.
"bener si. Tapi kalau ada tafsirnya gimana Sho? Kayak misalnya kecelakaan? Abis nggak sekali doang gue mimpi kayak gitu" gelisah Gisell menatap tangannya sendiri.
"gapapa, nggak usah dikhawatirin. Mimpi itu kalau dipikirin malah jadi sugesti" nasihat Shota menatap Gisell untuk tenang.
"gue nggak bisa tidur lagi, takut mimpi serem kayak tadi"
"mau ikut gue nonton bola?" tawar Shota sambil menyerahkan sebelah headset nya.
'sebenernya nggak ngerti si, tapi nonton aja deh' Gisell mengambil headset tersebut.
la berdua Shota menonton pertandingan ulang bola itu, sambil sesekali ribut kecil jika pemain akan mencetak gol.
"gol!" seru Gisell menunjuk pemain yang sedang berpelukan bersama temannya karena berhasil mencetak gol pada gawang musuh.
"tapi itu bukan tim yang kita dukung Jel" ucap Shota memandang Gisell bingung.
"gapapa, yang penting gol. Gue mau dukung yang menang aja, jadi siapa yang menang itu yang gue dukung" jelas Gisell membuat Shota menjadi speechless, memang boleh begitu?
"tuh kan Jel! Tim gue menang!!" ribut Shota menunjuk layar ponselnya dengan sombong, ia menatap Gisell yang ternyata sedang terkantuk.
"lo pindah ke kamar aja" perintah Shota menepuk pundak Gisell untuk segera pindah.
"gendong dong, gue lemes nih" gurau Gisell dengan suara ngantuk nya.
Tap siapa sangka Shota berjongkok didepan Gisell, membuat gadis itu terkekeh.
"gue berat nggak?" tanya Gisell pada Shota.
"berat banget gue sampai nggak kuat jalan" gurau Shota membuat dirinya dipukul oleh Gisell.
"boong aja! Ini kita udah sampe kamar ya"
"good night ya Sho" bisik Gisell menatap Shota yang hendak menuju ruang depan.
"mimpi indah Jel"
KAMU SEDANG MEMBACA
Misunderstanding
Fiksi UmumMasuk ke dunia novel dan jadi antagonis, sudah biasa. Tapi nyangka nggak si, kalau seorang aeri harus jadi antagonis di novel bl. Ini semua berawal dari karin, sohib absurd aeri yang mendadak gabut bikin novel bl. Entah ke sialan apa yang menimpa ga...
