ajakan mengejutkan

80 12 0
                                        

"kalian berdua kelas berapa tahun ini?" tanya Tian menatap si kembar yang ingin menyuap makanan pada mulutnya, mereka mengurungkan kegiatan itu dan takut-takut menatap Tian.

"mereka kelas tiga sma tahun ini Tian" jawab Lemil yang greget sendiri karena kedua anaknya tidak kunjung menjawab.

"berarti kalian sama Gisell beda setahun yaa?"

"iya" jawab Esok sambil mengangguk.

"Gisell akhir-akhir ini gimana kesehariannya?" tanya Tian membuat Shaka terkejut dan tak sengaja menjatuhnya sendok yang sedang ia pegang.

"maaf"

"kak Jijel akhir-akhir ini sibuk kuliahnya, jadi sering ngeluh cape" jawab Esok membuat Tian mengangguk paham.

"dia masih dirumah Shota? Bisa telpon Gisell sekarang?" tanya Tian membuat ketiga orang yang berada pada ruang makan menjadi panas dingin menanti hal apa yang akan Tian lakukan pada anak perempuan satu-satunya itu.

°°°°°


"sho, gue mau nanya deh" ucap Gisell menatap Shota dari atas kasur.

"tanya apa?"

"katanya waktu itu lo udah mulai cerita ke orang tua lo masalah sekolah, tapi tadi kata om Genta lo nggak mau cerita apa-apa. Lo boong?" tanya Gisell membuat Shota menggeleng dengan panik.

"gue sempet cerita waktu itu, waktu awal gue kasih tau lo. Kalau sekarang-sekarang ini udah nggak lagi, karena yaa gitu" ucap Shota mengangkat bahunya, Gisell mengangkat bahunya juga sambil menggeleng dan tersenyum.

"yaudah cerita ke gue aja, nanti gue jadi perantara kalian kalau lo masih takut sama ayah lo" kata Gisell memberikan senyumnya dan memainkan kedua alisnya.

"lo juga mau gue jadi perantara antara lo sama om Tian?" gurau Shota menaik turunkan alisnya membuat Gisell mendengus dan mengatakan kapan-kapan.

"eh si Shaka telpon nii! Sini Sho cepet! Gue mau bikin dia cemburu lagi! alangkah bagusnya kalau ada Esok juga biar dia tantrum nggak jelas!" perintah Gisell menyuruh Shota untuk ikut membalas telpon dari adiknya dan meledeknya nanti.

"halo Dawni! Ada si Piscok nggak? Gue lagi sama Shota nii, abis makan puding eenaaaak banget buatan tante Sora" ucap Gisell menunggu balasan mencak-mencak dari adiknya, tapi kok tidak ada balasan?

"halo? Shaka?"

"Gisell" Gisell menjatuhkan ponselnya begitu nama nya dipanggil oleh suara yang sangat la kenal, la menatap Shota terkejut dan menunjuk-nunjuk ponselnya dengan gelisah.

"halo? Gisell? ayah mau bicara" panggil Tian lagi dari sebrang telpon.

"Jel, bales dulu itu hei" bisik Shota pada Gisell yang sedang mondar mandir melihat ponselnya resah.

"lo aja yang bales, aduh tiba-tiba kok takut yaa. Bales dong Sho" pinta Gisell menunjuk-nunjuk ponselnya yang berada dilantai.

Shota menggeleng, ia mengambil nafas sebanyak mungkin. Memantapkan hati untuk membalas telpn milik Gisell.

"halo om ini Shota, Gisell nya ada disebelah saya" beritahu Shota membuat Tian mengernyit dan menatap si kembar bingung.

"kenapa kamu yang bicara?" tanya Tian membuat Shota dan Gisell sedikit ketar-ketir.

"maaf om sebelumnya, Gisell katanya belum siap buat ngomong sama om"

"ken-"

"ngomong sama Shota aja nanti aku dengerin!" kata Gisell sedikit berteriak membuat Shota menatap Gisell tidak percaya.

"ayah ngomong aja, malah lebih bagus kalau bang Sho yang ngomong sama ayah" jelas Esok.

"emangnya dia jubir Gisell" gumam Tian yang masih dapat Shota dengar dari telpon.

"ekhem, coba kamu tanya Gisell rencana natal nanti dia mau kemana" perintah Tian membuat Shota menatap Gisell meminta jawaban.

"kemana Jel? Ada rencana?"

"olimp nya Shaka" bisik Gisell.

"kan kata Shaka datengnya kalau babak final aja" bisik Shota lagi membuat Gisell meringis karena lupa.

"kita kan mau natalan bareng sama kembar" bisik Gisell lagi.

"nggak ada si om. Niatnya kita waktu hari natal mau habisin waktu bareng Esok sama Shaka." Balas Shota membuat Tian menangguk paham.

"berarti nggak ada rencana?" tanya nya dan diiyakan oleh Shota.

"kok nggak ada? Kan ada!" bisik Gisell lagi sambil memukul lengan Shota.

"kalau gitu, natalan kali ini ayo rayain bareng ke rumah kakek sigit" ajak Tian.

"APAA??! BENERAN?! ITU BENERAN AYAH SHO?!" teriak Gisell menatap ponselnya tidak percaya.

Mari Gisell hitung sudah berapa tahun ayahnya itu tak merayakan natal bersama, ahh Gisell sudah lupa!! Terakhir sepertinya saat awal pernikahan Tian dan Lemil, itu juga atas desakan dirinya dan si kembar. Setelah itu? Tak ada. Gisell selalu sendiri, terkadang dia akan merayakan berdua saja dengan Shota.

Entah tersambar petir, atau memang ayahnya sudah gila sampai tiba-tiba mengajaknya merayakan bersama.

"kamu nggak mau?" tanya Tian dari seberang telpon.

"EH, MAU KOK MAU! BARENG ESOK SAMA SHAKA JUGA KAN?!"

"iya, bareng mereka juga"

Shota membekap mulut Gisell saat gadis itu akan menyebutkan namanya untuk ikut merayakan bersama.

"wahh om! Gisellnya lagi lompat-lompat kesenengan!" ucap Shota yang masih membengkap mulut Gisell.

Gisell menatap Shota kesal, lepasin nggak?! Begitu kira-kira arti tatapan Gisell.

"kamu mau ikut juga Sho?" tawar Tian kali ini membuat Lemil tak sengaja menuang air pada gelas keluar.

"makasi om tawarannya. Saya mau rayain natal sama keluarga saya. Om juga rayain sama keluarga om aja, mungkin nanti setelah itu baru kita rayain bareng." Kata Shota menolak tawaran yang Tian berikan.

"oke. Kalau gitu om tutup ya"

Sambungan telpon terputus membuat Shota langsung melemas dan bernafas lega. Gisell melepaskan tangan Shota pada mulutnya, ia menatap Shota kesal dan memukulinya sebentar.

"kenapa nggak mau ikut aja?!" tanya Gisell menatap Shota garang.

"jangan natap gue gitu dong, takut nihh. Gue mau rayain bareng ayah sama ibu tahun ini, jangan nangis yaa" ucap Shota meledek Gisell membuat empunya mendengus lalu tersenyum.

"tuh kan, lo rayain sama ayah lo aja. Seneng kan, rayain bareng ayah Tian untuk sekian lama" goda Shota lagi menaik turunkan alisnya.

"ah gatau deh!" balas Gisell menyembunyikan wajahnya pada kedua telapak tangan.

Apakah ayahnya sedang ada masalah?? Atau seperti kata orang, biasanya manusia yang umurnya tidak lama lagi akan berubah?

Entahlah, mau mengelak bagaimana juga benar yang Shota bilang. Walaupun Gisell benci pada Tian, tapi dirinya sangat senang karena bisa merayakan natal bersama ayahnya. Apalagi bersama Shaka dan Esok.

MisunderstandingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang