Pergi Untuk Sementara

862 34 4
                                        

Begitu kembali, Thea lekas bergabung dengan saudara-saudaranya. Mereka yang sudah tau kemana gadis itu pergi, tak banyak bertanya lagi. Dengan jalan serempak, kelimanya akan menuju Kelasnya masing-masing.

Di Lorong, mereka berpapasan dengan Nayla dan Sissy. Nayla masih menatap Tristan penuh kebencian. Tristan yang ditatap seperti itu semakin merasa bersalah. Sedangkan Sissy, gadis itu tengah curi-curi pandangan pada Digo. Sementara Digo sendiri, ia hanya bisa menatap Sissy canggung. Jujur, ia belum bisa bersikap romantis.

"Loh, Galang! Leher kamu kenapa?"

Fokus Nayla teralih pada suara guru yang tengah bertanya pada Galang. Melihat perban di leher laki-laki itu, Nayla menatap khawatir. Dengan melewati Tristan CS, Nayla menghampiri Galang dan Tino yang tak jauh dari tempat keberadaan mereka.

Sissy yang penasaran juga pun segera menghampiri mereka. Namun sebelum melewati Tristan CS, gadis itu curi-curi senyum terlebih dahulu pada Digo. Sehingga Digo semakin dibuat salting oleh tingkah Sissy.

"Galang! Lo kenapa? Kok bisa kayak begini, sih?" Tanya Nayla khawatir.

Tristan memalingkan wajahnya. Rasanya begitu campur aduk begitu ia melihat kekhawatiran di mata Nayla yang bukan untuk dirinya.

"Itu, ta–ta-tadi. Tadi saya sama Tino keluar dari area Sekolah karna ada urusan sebentar. Eh, tau-tau di Perjalanan, kita kejebak sama anak-anak dari Sekolah lain yang mau tawuran. Karna terkepung, kita berusaha membela diri sebisa mungkin. Tapi malah saya yang kena luka." Jelas Galang berbohong sambil menunjukkan cengirannya.

Tino yang disana pun mengangguk mengiyakannya.

"Ya ampun, Galang! Kok bisa, sih? Tapi lo gak papa, kan?" Tanya Nayla semakin khawatir.

"Iya, gue gak papa! Lo tenang aja." Ucap Galang dengan senyum yang menenangkan.

"Lagian Galang, Tino. Kalian ada urusan apa sih, sampe harus keluar dari Sekolah?"

Galang kelabakan, "Ya, Ya pokoknya ada urusan, pak! Masa saya harus kasih tau urusannya apa?"

Guru itu mendengus. Namun beliau tak bisa memaksa. Alhasil, pria paruh baya itu hanya menyuruh mereka semua masuk Kelas karna bel sudah berbunyi.

"Ya sudah kalau kamu tidak apa-apa. Lain kali, kalau ada urusan yang mengharuskan kalian keluar dari area Sekolah, kalian harus izin. Mengerti?"

Galang dan Tino cengengesan, "Ngerti, pak!"

"Ya sudah! Kalau begitu, masuk Kelas sekarang!"

Galang, Tino, Nayla, dan Sissy segera memasuki Kelasnya. Sementara Tristan dan saudara-saudaranya terlibat dalam obrolan yang sebentar.

"Tawuran? Apa itu tawuran?" Tanya Liora sambil mengernyitkan dahinya. Entahlah? Hidup selama ratusan tahun membuat mereka menemukan istilah-istilah baru yang tak mereka ketahui.

Digo mengeluarkan HPnya. Ia pun terkekeh tengil pada Liora.

"Sekarang jaman udah canggih. Apapun yang gak kita tau, bisa cari di internet." Ucap Digo sambil mengetik di mesin pencarian Google, apa itu tawuran?

"Tawuran merupakan suatu perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat." Jelas Digo sambil membacakan hasilnya. Ia pun meng-scroll bagian lain untuk mencari pengertian lain, "Berdasarkan dari Wikipedia, Tawuran (atau tubir) adalah bentuk dari kekerasan antar geng sekolah dalam masyarakat urban di Indonesia." Lanjutnya.

Yasha mendengus, "Lalu, apa manfaatnya tawuran?"

"Tidak ada. Justru hanya akan merugikan kedua pihak atau bahkan masyarakat sekitar." Jawab Thea tanpa bantuan Google, "Tapi, Galang terluka bukan karna itu." Lanjut Thea.

Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang