David dan Tania saling lirik melirik. Begitu keduanya saling terciduk, mereka pun langsung membuang muka canggung. Tadi tiba-tiba Thea membawa David kemari. Rupanya David juga sama-sama korban jebakan itu seperti dirinya. Dan sekarang, gadis itu tengah pergi mencari tau soal penawar dari racun itu. Sedangkan disini, David dan Tania berduaan.
Perasaan Tania tak karuan. Semenjak ia membiarkan David menangis di bahunya waktu itu, ia selalu merasakan degdegan ketika berada di dekat laki-laki itu. Bahkan jika belum melihatnya, Tania akan penasaran. Makanya ia spak-spik ke Hutan dekat Wilayah serigala. Tujuannya ingin melihat David walaupun dari kejauhan.
Saat ini, Tania sendiri tengah berbaring di sebuah dipan. Sementara David, ia duduk menyandar di kursi kayu yang agak jauh dari Tania. Itu karna sudah tidak ada alternatif lain untuk ia berbaring juga. Di Gubuk ini, memang tidak ada fasilitas apa-apa selain dipan dan kursi itu.
"Lo kenapa, bisa kena jebakan itu?" Tanya David yang memulai percakapan.
Tania tersentak kaget, "Eh? Oh? Gu-gue cuma lagi berburu. Ya, berburu!" Jawabnya gugup.
David terkekeh mendengar nada jawaban dari Tania. Kentara sekali kalau gadis itu terlihat gugup.
"Lo sendiri, kenapa kena?" Tanya Tania juga guna mengalihkan perhatian.
"Gue pulang kuliah dan mau menuju Hutan serigala." Ucap David
"Emang Thea belum memperingati lo?"
"Gue baru ketemu Thea saat dia menolong gue untuk melepaskan jebakan itu." Jelas David membuat Tania mengangguk paham.
Tiba-tiba, David sedikit meringis. Hal itu membuat Tania sedikit khawatir, "Vid, lo masih kuat, kan?"
Ringisan David sedikit tertahan. Entah mengapa, mendengar pertanyaan khawatir dari Tania membuat sesuatu berdesir di hatinya. Ia pun tersenyum jahil.
"Lo khawatir sama gue?" Tanya David menggodai.
Seketika Tania kelabakan lagi, "A-apaan, sih? Siapa yang khawatir sama lo? Orang gue cuma nanya!" Elaknya malu.
David semakin memasang senyuman jahilnya. Menggodai Tania ternyata seru juga! "Lagian, dibandingkan lo khawatir sama gue, mending lo khawatir sama diri lo sendiri. Lo juga lagi sekarat, tuh!"
Tania mendengus kesal, "Siapa yang khawatir sama lo, sih? Pede amat!" Sanggahnya.
David tersenyum. Kali ini senyumannya terlihat tulus, "Kalo khawatir beneran juga gak papa, kok! Ternyata, dikhawatirin sama cewek cantik enak juga, ya!" Ucapnya menggombal.
Seketika Tania memalingkan wajahnya. Ia memblusing malu mendengar ucapan David itu. Bisa dibilang, David adalah cowok kedua yang menyebutnya cantik setelah Galang. Dan Tania baper pada David.
"Apaan sih, lo! Lagi sekarat juga masih sempet-sempetnya ngegombal!"
David terkekeh, "Lo juga sekarat."
"Sama-sama sekarat mendingan diem."
***
"Jadi, David juga kena?" Tanya Sissy khawatir akan penjelasan Thea.
Thea pun mengangguk sebagai jawaban. Saat ini, ia tengah mengajak berunding pada semua anak-anak Hara dan juga Erick.
"Gue takut, kalo racunnya tidak segera diberi penawar, mereka akan mati." Ucap Thea khawatir.
"Terus, keadaan mereka gimana sekarang?" Tanya Ken.
"Sejauh ini, keduanya masih bisa sadarkan diri. Tapi tubuh mereka sudah sangat lemas dan wajah mereka pun sudah sangat pucat." Jelas Thea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) END
FanfictionGanteng Ganteng Serigala Fanfiction (My Version) Ketika makhluk Immortal hidup berdampingan dengan manusia. Galang dan Nayla adalah dua orang sahabat yang merupakan manusia biasa. Keduanya dekat bahkan saling membutuhkan. Namun, semuanya berubah ke...
