Kecemburuan Thea

1.1K 42 7
                                        

Sepanjang pelajaran, Galang hanya menghela napas lesu. Semalam, papsky nya pergi dan belum kembali sampai sekarang. Dimana keberadaan papsky berada pun, Galang tak tau.

Tino yang duduk didepannya Galang hanya melirik si empu. Ia paham, apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Semalam, Galang mengabari dirinya jika sang ayah telah berubah menjadi vampir.

Begitu bel Istirahat berbunyi, sang guru pun lekas menutup pelajaran. Setelah guru itu keluar Kelas, baru lah anak-anak yang menghambur keluar.

Tobi yang gak tau apa-apa pun mendekati Galang. Ya, ia ingin meledek Galang karna sedari tadi anak itu terus terdiam.

"Eh, Lang! Lo kayak orang lagi nahan mules aja, diem melulu. Lo kenapa, sih?"

Mendengar pertanyaan Tobi, Nayla dan Sissy melirik. Berbeda dengan Tristan yang sudah mengetahui masalah Galang.

Galang hanya mendelik. Ia sedang tidak ingin bercanda sekarang.

"Syutt!" Tino memberi kode, namun Tobi tak paham.

"Lo kenapa, Tino? Mata lo kejepit gajah?" Tanya Tobi yang membuat Tino mendelik jengkel. Alhasil, Tino memberi gestur agar Tobi mendekati dirinya. Tobi pun menurut.

"Jangan ganggu Galang. Dia lagi ada masalah." Bisik Tino pada Tobi.

Bisikan Tino yang masih terdengar, membuat Nayla dan Sissy mengernyit bingung. Galang punya masalah apa?

Krekk...

Tristan segera bangkit dari kursinya. Ia pun menghampiri Galang guna meminta maaf. Bagaimanapun juga, Tristan merasa menyesal karna terlambat menolong ayahnya Galang itu.

"Galang. Untuk soal tadi malam, gue minta maaf. Kalo aja gue lebih cepet–"

"Udahlah!" Potong Galang, "Gue juga gak nyalahin lo, kok. Mungkin emang harus begitu kejadiannya. Kan dari awal gue bilang, semua adalah salah gue. Jadi lo gak usah ngerasa bersalah gitu." Ucap Galang pasrah. Tristan semakin menunduk tak enak. Nayla dan Sissy terus memperhatikan. Ada apa sebenarnya ini?

"Udah kan? Udah gak ada yang perlu diomongin lagi? Gue pergi, ya!" Pamit Galang.

Tristan mengangguk. Ia mengizinkan Galang untuk pergi. Mungkin laki-laki itu memang sedang butuh sendirian.

Sekepergian Galang, Nayla menghampiri Tristan. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Galang kelihatan sedih begitu? Kenapa juga Tristan harus meminta maaf kepada Galang?

"Tristan! Apa yang terjadi? Kenapa sama Galang?" Tanya Nayla.

Tristan bingung harus menjawab apa? Diam-diam ia melirik Tino untuk meminta bantuan. Tino pun sadar akan lirikan Tristan itu.

"Oh itu, Nay! Semalem, papsky nya Galang diterkam hewan buas." Jelas Tino meringis. Dalam hati ia meminta maaf pada bangsa serigala karna menjadikannya sebagai kambing hitam.

"WHAT!" Bukan Nayla, melainkan Sissy yang berteriak heboh.

"Kok bisa, sih?" Tanya Nayla khawatir. Kenapa ia tidak tau soal ini? Kasihan Galang.

"Kejadiannya begitu cepat." Hanya itu yang bisa Tristan katakan.

"Terus, kenapa lo yang minta maaf sama Galang?" Tanya Nayla penuh selidik.

Diam-diam Tristan melirik Tino lagi, untuk meminta bantuan. Lagi-lagi Tino pun peka.

"Gini Nay! Bukan cuma Tristan yang ada di tempat kejadian. Tapi gue sama Galang juga. Karna kejadian itu, Gue sama Tristan merasa bersalah gara-gara gak bisa nolongin bokapnya Galang. Tapi daripada gue ataupun Tristan, Galang yang paling ngerasa bersalah." Jelas Tino.

Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang