Ditahan!

920 52 10
                                        

Tok-tok-tok...

Tristan mengetuk pintu Rumah Nayla dengan brutal. Itu karna ia panik. Ia buru-buru ingin membawa Nayla pergi dan meninggalkan Kota ini.

Ceklek...

Nayla membuka pintunya. Ia pun menatap Tristan bingung. Bukankah hari ini ada peperangan?

"Tristan? Kenapa? Kok, kayaknya lo panik banget?" Tanya Nayla.

"Nay, kita harus pergi dari sini." Ucap Tristan panik.

"Kenapa?"

"Galang jadi tawanan Venossa. Karna itu, bangsa serigala kalah dan akan dijadikan budak. Terus lo ingat soal jiwa gue yang di segel di Istana Venossa? Itu karna keluarga gue menyembunyikan keberadaan lo. Sekarang, Venossa udah tau soal lo. Dan dia pengen nangkep lo. Jadi kita harus pergi dari sini. Jangan sampe lo jatuh ke tangan Venossa." Jelas Tristan terburu-buru.

Seketika Nayla menitikkan airmatanya, "Terus, Galang gimana?" Tanya khawatir. Ingat! Hanya Galanglah satu-satunya keluarga yang Nayla punya.

"Justru itu gue ngajak lo kabur. Karna kalo lo sampe jatuh ke tangan Venossa, itu akan menjadi kehancuran bagi Galang ataupun bangsa serigala lainnya." Jelas Tristan.

Nayla lekas menyeka airmatanya. Tristan benar! Ia harus kabur bersama Tristan. Jika ia tidak bisa berbuat banyak untuk Galang, setidaknya untuk tidak merepotkan Galang adalah yang terbaik. Ia mengangguk setuju untuk kabur bersama Tristan. 

Melihat anggukan dari Nayla, Tristan lekas mengenggam kekasihnya itu. Setelah itu, ia membawa Nayla melesat pergi.

***

Keluarga Agra termasuk Agra sendiri akhirnya di penjarakan di Penjara bawah tanah. Jika Agra jahat pada anak-anaknya, bisa saja ia memilih kabur sebelum ditangkap dan meninggalkan anak-anaknya. Namun, tidak! Agra sayang anak. Alhasil, ia memilih untuk tetap disisi anak-anaknya dengan merelakan dirinya yang juga ikut dipenjarakan. Agra bersama anak-anaknya, kini berada dalam satu jeruji.

"WOI, VENOSSA! LEPASIN KITA!" Teriak Digo tak terima.

Walaupun Digo teriak-teriak seperti kesetanan, tetap saja tidak ada yang mengubris. Sehingga Digo frustasi sendiri.

"Digo! Percuma lo teriak-teriak kayak orang gila. Mereka gak akan dengerin lo! Yang ada berisik doang!" Tegur Yasha.

"Semua ini gara-gara Tristan! Coba aja kalo dari dulu dia mau mengorbankan Nayla! Gak akan kayak gini ceritanya! Sekarang liat! Dia aja berhasil kabur gitu aja! Ninggalin kita disini!" Omel Digo.

"Digo! Lo gak bisa menyalahkan Tristan. Coba kalo keadaannya di balik? Sissy yang punya darah suci? Apa lo mau mengorbankan Sissy?" Tanya Liora membuat Digo skakmat.

Sejak kehilangan Ken, Liora mulai mencoba lebih memahami cinta. Ia mengerti jika Tristan tidak ingin kehilangan Nayla. Sama seperti dirinya yang tidak ingin kehilangan Ken.

Sementara Thea hanya diam saja. Tatapannya kosong. Jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat mengkhawatirkan Galang. Bagaimana keadaannya sekarang? Galang sudah sekarat, ditawan pula. Thea tak sanggup memikirkan kemungkinan apa yang mungkin terjadi kedepannya? Apakah Galathe is Never Die ucapan Galang kemarin itu akan terwujud?

"Galang." Lirih Thea dengan sendu.

"Ini lagi, satu anak! Galang mulu yang dipikirin! Sekarang, kita pikirin diri sendiri dulu! Gimana caranya untuk kabur dari sini?" Omel Digo.

"Digo! Gak selayaknya lo ngomong kayak gitu sama Thea." Tegur Yasha lagi. Digo hanya mendengus kesal.

Thea tak mengubris. Ia tak peduli, Digo mau mengatainya seperti apa. Yang ada dipikirannya adalah Galang. Ia pun menangis.

Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang