Tiga hari setelah kejadian om Billy itu, semua kembali berjalan seperti biasanya. Termasuk Tristan dan saudara-saudaranya yang tengah menghadap sang ayah sekarang.
"Ada apa ayah memanggil kami semua kemari?" Tanya Tristan.
Saat ini, semua anak-anak Agra berkumpul di Ruang Agra. Tanpa Thea tentu saja. Bagaimana pun juga, Agra harus tetap berhati-hati mengingat Thea sudah berbelot memihak bangsa serigala.
Bagi Agra, mau Thea memihak pada siapa, yang penting anaknya itu bersamanya. Sebenarnya, Agra itu adalah sosok yang penyayang. Terutama pada anak-anaknya. Ketegasan Agra pada anak-anaknya hanya bentuk perlindungan dirinya pada anak-anaknya dari hukum vampir. Termasuk pada Velove dulu, ia hanya tak bisa membantah apa yang sudah menjadi perintah.
"Ini bahaya. Semalam, ayah mendapatkan pesan peringatan dari Venossa. Venossa kini sudah tau, jika kita telah menyembunyikan darah suci." Ucap Agra membuat semua anak-anaknya terbelalak.
"Memang sedari awal, seharusnya ayah tak menyuruhmu untuk mencari darah suci itu, Tristan. Sehingga kamu tidak akan jatuh cinta padanya. Seharusnya ayah sendiri yang mencari. Tapi ya sudahlah! Nasi telah berubah menjadi bubur. Ayah yang akan mempertanggungjawabkan ini semua pada Venossa." Ucap Agra pasrah.
"Tapi ayah! Bagaimana kalau Venossa malah membunuh ayah?" Tanya Liora khawatir.
"Itu sudah menjadi konsekuensi bagi ayah. Mengirim kalian, adalah kesalahan yang besar. Jika ayah yang mencarinya, ayah pasti sudah mendapatkan darah suci sedari lama. Sehingga kita bisa melawan Venossa. Tapi ya sudahlah, sudah dua kali ayah melawan Venossa. Pertama, ayah juga pernah mencintai darah suci 100 tahun yang lalu dan membunuhnya agar dia tidak jatuh ke tangan Venossa. Lalu sekarang, ayah sengaja menyembunyikan darah suci untuk diri ayah sendiri dan disamping itu, semua demi kamu Tristan. Jadi, ayah yang akan mempertanggungjawabkannya." Jelas Tristan membuat lagi-lagi semua anaknya terbelalak.
"Tidak ayah!" Ucap Tristan tegas, "Aku tidak akan membiarkan ayah kesana."
"Apa kau punya ide, Tristan?" Tanya Agra.
Tristan menghela napas, "Sedari awal, ini adalah kesalahanku. Aku malah melibatkan hatiku untuk tugas ini. Jadi, aku yang akan mempertanggungjawabkan semuanya."
Semua terbelalak. Mereka pikir, Tristan punya solusi.
"Lalu kamu pikir, apakah ayah akan membiarkan itu? Tentu saja tidak! Ayah tidak ingin kehilanganmu, nak!" Ucap Agra marah.
"Ayah harus! Ayah harus mengizinkanku ke Istana Venossa. Percayakan semuanya padaku, ayah! Aku bisa mengatasinya." Pinta Tristan memohon. Ia merasa bersalah pada keluarganya, karna melibatkan mereka dalam situasi sulit demi kebahagian dirinya sendiri.
"Tidak, Tristan! Ayah tidak akan mengizinkanmu. Kamu tidak tau seberapa kuatnya Venossa." Ucap Agra tegas. Bagaimanapun juga, Agra tak ingin mengambil resiko kehilangan anaknya lagi.
"Lalu aku membiarkan ayah yang bertanggung jawab? Tentu saja tidak, ayah! Bagaimanapun juga ini adalah kesalahanku. Aku tidak ingin ayah mengorbankan diri ayah demi diriku." Ucap Tristan tak kalah tegasnya.
"Tristan! Lo jangan gegabah! Kita pikirin solusi ini matang-matang. Pasti ada caranya, kok!" Ucap Inge.
Tania mengangguk setuju, "Iya! Gue yakin. Setiap masalah, pasti ada solusinya."
"Kita gak mau kehilangan lo, Tristan." Ucap Liora yang kini sudah berderai airmata.
"Iya, Tristan! Lo pikirin ini baik-baik. Kita semua gak ingin kehilangan lo." Ucap Yasha.
"Iya, lo pikirin kita semua. Gimana sama kita, kalo kita kehilangan lo?" Tanya Jordan.
"Kalo lo pergi, kita semua ikut pergi sama lo! Deal?" Putus Digo dan semua mengangguk setuju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) END
FanfictionGanteng Ganteng Serigala Fanfiction (My Version) Ketika makhluk Immortal hidup berdampingan dengan manusia. Galang dan Nayla adalah dua orang sahabat yang merupakan manusia biasa. Keduanya dekat bahkan saling membutuhkan. Namun, semuanya berubah ke...
