Galang terdiam setelah mendengar kisah dari papskynya. Jadi, selama ini papskynya masih hidup dan bersembunyi?
"Kenapa papsky gak pernah kembali kalau papksy masih hidup? Apa papsky gak mikirin perasaan Galang yang terus-terusan merasa bersalah? Terus mamsky–" Galang tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia hanya bisa menangis dalam diam.
Puguh yang sedang duduk di pinggir ranjang itu pun mengangguk paham. Ia tau seberapa menderita anaknya selama ini.
"Papsky tau. Papsky juga tau soal apa yang terjadi sama mamsky lu. Saat papsky denger kabar itu, papsky memutuskan untuk mulai mengawasi lu dari jauh. Itu karna papsky masih belum berani bertemu lu. Lalu saat lu ke Itali itu, papsky sedikit tenang karna lu sama orang yang tepat. Tapi papsky jadi sedih karna gak bisa liat lu." Cerita Puguh.
"Kalo seandainya papsky muncul saat Galang tau mamsky meninggal, Galang pasti akan jauh lebih baik." Ucap Galang.
Lagi-lagi Puguh mengangguk paham, "Papsky tau. Papsky minta maaf, ya!"
Mendengar itu, Galang menunduk. Bukan hanya papsky yang merasa bersalah. Tapi ia juga.
"Galang juga minta maaf, papsky." Ucap Galang lirih.
Puguh tersenyum. Ia mengusap rambut putra kandungnya itu penuh dengan kasih sayang. Galang yang kembali mendapatkan perhatian itu dari papsky tersenyum. Ternyata ia kembali merasakan kehangatan ini, walaupun kali ini tidak ada mamsky.
Setelah puas mengusap rambut Galang, tiba-tiba Puguh beranjak pergi membuat Galang terkejut. Alhasil, Galang menahan sang ayah lagi.
"Papsky mau kemana?" Tanya Galang panik. Sepertinya ia takut ditinggal lagi.
"Papsky mau ngambil ramuan buat lu sebentar. Tadi, papsky sempet bikin ramuan. Dada lu masih sakit, kan? Nanti ramuan itu cukup untuk netralin rasa sakit." Jelas Puguh.
Galang mengangguk mengiyakan tentang dadanya yang masih sakit. Saking ia bahagianya, ia lupa kalau dirinya sedang sakit, "Tapi papsky gak lama-lama, kan? Gak jauh juga?"
"Ya elah! Cuma ke Dapur, Lang!" Ucap Puguh kaget.
Galang mengerucutkan bibirnya, "Siapa suruh ninggalin Galangnya lama banget?"
Puguh terkekeh. Ia mengusak rambut Galang dengan gemas. Terkadang anaknya ini memang suka manja, "Papsky ke Dapur doang. Gak lama-lama, oke!"
"Oke, papsky!" Ucap Galang ceria sambil mengangkat jempolnya. Puguh pun lekas menuju Dapur.
Sementara Galang sendiri, ia kembali memegangi dadanya. Rasa sakitnya mulai terasa lagi. Namun sebisa mungkin ia menahannya, karna ia ingin terlihat baik-baik saja dihadapan papskynya.
"Argh!" Galang sedikit meringis dan mencari posisi ternyamannya untuk ia berbaring.
Tak lama kemudian, Puguh pun datang dengan secangkir ramuan. Melihat keadaan anaknya, Puguh kembali panik.
"Lang! Lu kenapa?" Tanya Puguh dan buru-buru meletakkan cangkirnya diatas nakas.
Setelah itu, ia membantu Galang memposisikan diri untuk duduk. Bagaimanapun juga, Galang harus meninum ramuannya dalam posisi duduk. Setelah itu, Puguh duduk di tepi ranjang dan menyerahkan cangkir itu. Dahi Galang pun mengernyit bingung, saat ia menerima secangkir ramuan yang berwarna hijau yang sangat pekat.
"Ini apaan?" Tanya Galang bingung.
"Ramuan."
"Papsky yang buat?"
"Emangnya siapa lagi?" Dengus Puguh.
"Yakin gak, ini? Sejak kapan papsky bisa bikin ramuan?" Tanya Galang lagi heran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) END
FanfictionGanteng Ganteng Serigala Fanfiction (My Version) Ketika makhluk Immortal hidup berdampingan dengan manusia. Galang dan Nayla adalah dua orang sahabat yang merupakan manusia biasa. Keduanya dekat bahkan saling membutuhkan. Namun, semuanya berubah ke...
