Misi Penyelamatan Tristan

813 49 17
                                        

Malam ini, Galang termenung di Balkon Kamarnya. Ia memikirkan soal kemunculan tanda matahari kembar itu. Itu artinya, peperangan akan terjadi sebentar lagi.

Ia bingung. Disatu sisi, ia harus menjaga Nayla dengan ketat mengingat bangsa vampir pasti gencar mengincar Nayla. Namun disisi lain, ia tak mau hubungannya dengan Thea terganggu. Satu-satunya cara agar Nayla tetap ada yang menjaga, yakni mengembalikan Tristan. Tapi bagaimana caranya?

"Kata papsky, mungkin Tristan masih ada harapan. Karna tubuh dia belum berubah menjadi abu. Mungkin jiwa dia hanya tersegel di suatu tempat. Tapi dimana?" Gumam Galang bertanya pada diri sendiri.

"Tristan menitipkan Nayla sama lo, karna dia akan pergi ke Kerajaan vampir untuk menemui Venossa. Namun ternyata, Tristan malah dibunuh sama Venossa. Sementara lo, lo malah enak-enakkan disini sama Nayla?" Tiba-tiba Galang teringat akan ucapan Thea waktu gadis itu marah beberapa hari yang lalu.

"Venossa. Istana vampir. Apa mungkin jiwa Tristan tersegel disana?" Gumam Galang lagi.

Setelah ia memikirkan segala kemungkinannya, Galang pun mengangguk yakin.

"Iya! Pasti jiwa Tristan tersegel disana. Dan gue harus selamatin dia. Demi hubungan gue sama Thea, dan demi Nayla. Gue gak peduli dengan apa yang terjadi sama gue nantinya. Yang penting gue akan usaha dulu." Setelah yakin memutuskan itu, Galang kini menjadi tenang dan kembali masuk ke Kamarnya. Akhirnya ia bisa tidur juga.

***

Thea termenung di depan Teras Mansionnya, selepas pulang Sekolah. Ingatannya dengan Tristan berputar dikepalanya. Thea tak dapat memungkiri jika ia sangat merindukan kakaknya itu.

"Tristan. Gue kangen sama lo. Kenapa lo pergi secepat itu?" Ucap Thea sendu.

Tanpa Thea sadari, dibelakangnya ada Liora yang ternyata memperhatikan gadis itu. Mendengar ucapan Thea, Liora pun ikut sedih. Ia pun lekas menghampiri sang adik.

"Thea."

Mendengar sapaan dari kakaknya, Thea lekas menyeka airmatanya. Ia tersenyum menatap Liora menutupi kesedihannya.

"Liora?"

Liora pun mengusap bahu Thea, "Gue tau apa yang lo rasain. Gak mudah bagi kita, untuk melepas kepergian Tristan. Selama ini, dia adalah kakak terhebat yang pernah kita punya. Dia menjadi pemimpin dan kakak tertua di keluarga ini, yang berhasil mengayomi adik-adiknya." Ucap Liora sendu.

Thea mengangguk setuju, "Dia selalu menjadi panutan kita."

Kini kedua gadis adik dan kakak itu saling merangkul satu sama lain. Saling menguatkan perasaan tentang sakitnya kehilangan seorang kakak. Hingga akhirnya, kebersamaan mereka terhenti karna kedatangan seseorang.

Wuuuusssshhhhhh...

Thea dan Liora pun melepaskan rangkulan mereka. Sementara Thea, ia pun berbinar melihat siapa yang datang.

"Galang?"

Galang sedikit tak enak hati, "Eh, maaf. Gue ngeganggu, ya?"

Liora menggeleng, "Enggak, kok! Lo gak ganggu. Kalian ngobrol aja. Dan Lang, maaf ya karna gue bikin Thea ninggalin lo malam itu."

Galang mengangguk paham, "Gak papa. Gue ngerti, kok! Lo cuma khawatir sama Thea. Justru gue berterima kasih sama lo, karna lo udah nyelamatin Thea."

Liora pun tersenyum, "Makasih atas pengertian lo. Kalo gitu, gue masuk dulu, ya?"

Keduanya pun mengangguk mengizinkan. Begitu Liora telah masuk, Thea menatap Galang.

"Ada apa?" Tanya Thea penasaran.

Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang