Kabar Buruk dari Tansky

897 41 5
                                        

Daripada pulang, Nayla meminta Thea agar mengantar dirinya ke Rumah Tristan. Sedikitnya Thea agak merasa ragu. Namun karna permintaan Nayla, mau tidak mau Thea menurutinya. Setidaknya bersama Tristan, Nayla akan lebih aman.

Dan disinilah mereka berada. Di depan Mansion keluarga Agra. Tanpa perlu Thea mengetuk pintu, semua keluarga Agra lekas keluar karna aroma Thea dan darah suci yang amat menyengat.

"Tristan." Nayla langsung menghambur pada pelukan Tristan begitu ia melihatnya. Dengan kekhawatiran yang selama ini dirasakannya, Tristan membalas pelukan itu.

"Nay? Lo gak papa?" Tanya Tristan khawatir dan masih memeluk Nayla.

"Gue takut." Tangis Nayla.

Mendengar itu, Tristan menatap Thea, "Lo nemuin Nayla dimana?"

"Tadi Nayla dateng sama Galang. Tugas gue hanya mengantar dia. Sekarang, gue pamit." Ucap Thea dan terburu-buru pergi. Ia takut akan ditanya-tanya lagi, kenapa Nayla bisa bersama Galang? Bukan apa-apa. Thea tidak ingin menghakimi Galang terlebih dahulu.

"Thea!" Panggil Agra.

Thea hanya menghentikan langkahnya. Namun ia enggan untuk berbalik.

"Apa kamu tidak ingin kembali, nak?" Tanya Agra begitu teduh.

"Sejujurnya aku menyayangi kalian. Tapi ucapan salah satu anakmu telah menyakiti perasaanku. Maafkan aku, ayah!" Setelah itu, Thea melesat pergi.

Agra hanya mampu menghela napasnya pasrah. Mungkin ia memang harus kehilangan salah satu anaknya itu.

Begitu Thea sudah menjauh, ia menghentikan lesatannya. Pikirannya melayang jauh memikirkan Galang. Sejujurnya, ia belum yakin atas semua ini. Entah mengapa hatinya lebih ingin mempercayai Galang daripada fakta yang sudah ada dihadapannya. Thea diambang kebimbangan saat ini.

"Apa yang harus gue lakuin? Harus pada siapa gue percaya? Hati gue seolah mengatakan untuk percaya pada Galang. Tapi kenapa semua bukti malah mengarah pada dia?" Tanya Thea menangis.

"Kalo hati gue mengatakan itu, mungkin itulah kebenarannya. Jadi gue harus samperin Galang. Gue harus ngomong sama dia kalo gue percaya sama dia. Gue gak mau menyesal." Akhirnya Thea merasa yakin akan perasaannya. Alhasil, Thea segera melesat menuju Rumah Galang. Thea harap, Galang sudah ada disana.

***

Galang tiba di depan Rumahnya dengan motornya. Setelah memarkirkannya, ia termenung diatasnya tanpa berniat untuk turun terlebih dahulu. Ia masih tak percaya atas apa yang menimpanya.

"Ternyata Denis orangnya. Ternyata dia pengkhianat itu. Dia ngejadiin gue sebagai kambing hitam dengan tuduhan-tuduhan itu. Dia siapa? Ada masalah apa dia sama gue sampe dia tega nuduh gue kayak gitu?" Gumam Galang sedih.

Dalam sekejap, Galang kehilangan semuanya. Semua sudah tidak mempercayai dirinya lagi. Bahkan mungkin semua bangsa serigala juga tidak mempercayai dirinya.

"Eh, Lang! Lo sekate-kate banget sih, ninggalin gue?" Ucap Tobi tiba-tiba yang baru saja pulang Sekolah. Ya, Tobi pun juga sudah kembali Sekolah. Dan ia kesal karna ditinggal oleh Galang tadi.

Galang hanya terdiam tak menanggapi Tobi. Ia masih memikirkan masalahnya. Melihat Galang yang hanya termenung, Tobi mengernyit bingung. Dengan inisiatif, ia pun menanyai pelan-pelan.

"Lang, lo ada masalah apa? Lo bisa cerita sama gue. Gue kan sahabat lo! Gue kagak tega liat lo murung-murung begitu. Apa? Lo mau sembunyiin masalah lo? Eh, Lang! Gue udah tau siapa lo. Jadi lo gak usah sembunyi-sembunyi lagi." Cerocos Tobi.

Galang melirik Tobi. Benar, Tobi sudah tau mengenai identitas dirinya. Cerita sedikit pada Tobi tentang bangsa serigala tidak apa-apa, kan?

"Gue difitnah."

Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang