Dengan hati-hati, Galang meletakkan David di kasur Kamar Tamu Rumahnya. Ya, Galang memutuskan untuk membawa David bersamanya dan merawatnya. Bagaimanapun juga, David adalah saudaranya.
"Eh, Lang! Lagian kenapa bisa begini, sih? Kejadiannya? Terus, kenapa si David gak dibawa ke Rumah Sakit aja? Kenapa malah dibawa kesini?" Tanya Tobi main nyerocos.
Galang menghela napas bingung. Bagaimana ia harus menjelaskan pada Tobi kalau David tidak bisa dibawa ke Rumah Sakit? Secara David bukan manusia.
Tadi begitu Galang datang bersama Thea dan menggotong David, Tobi syok. Ia pun membantu keduanya untuk menggotong David juga.
"Galang tau apa yang terbaik. Jadi lo gak udah banyak tanya." Celetuk Thea ketus membuat Tobi terdiam karna takut. Galang pun menghela napas lega.
"Untuk sementara, David tinggal disini dulu sampai dia sembuh." Jelas Galang.
"Emangnya, keluarganya gak pada nyariin?" Tanya Tobi lagi seolah melupakan ucapan Thea.
Galang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Enggak, kok! Gak bakal. Kan gue bilangnya nginep di Rumah gue beberapa hari. Lo kan tau, dia Kuliahnya diluar Kota. Jadi kalo dia main kesini, kan harusnya nginep. Kalo gak nginep, capek perjalanan doang." Galang berusaha meyakinkan Tobi.
"Iya juga, sih! Tapi kan, Lang! Namanya orang tua kan, harusnya lebih berhak tau keadaan anaknya?"
"Tobi!" Gertak Thea, "Bisa diem, gak? Galang tau apa yang terbaik. Kenapa lo masih banyak tanya, sih?" Lanjutnya kesal.
Tobi bersungut, "Iya! Iya! Dasar lo, Thea muka pucet!"
Thea tak mengubris ucapan Tobi. Yang penting, Tobi sudah tidak bertanya-tanya lagi saja itu sudah cukup.
Galang menghela napas, "Sekarang gue tanya. Waktu kemarin gue hanyut di Sungai, ada lo berani kabarin mamsky gue?"
Seketika Tobi cengengesan. Iya juga, ya?
"Daripada lo disini diem gak jelas, mending lo siapin gue makan, gih! Gue laper!" Suruh Galang agar Tobi meninggalkan tempat ini.
"Lo udah kayak majikan aja! Iya! Iya! Gue siapin. Bentar, ya!" Tobi pun menatap Thea, "Lo juga mau makan, gak?"
Thea hanya menggeleng sebagai jawaban.
Tobi pun kembali menatap Galang, "Gue siapin, awas aja lo gak dimakan!" Ancamnya.
"Iya! Bakal gue makan. Udah sana Pergi!" Usir Galang dan Tobi langsung keluar dari Kamar Tamu itu. Keduanya kini menghela napas lega.
"Gimana ini, Lang? Gue takut David gak selamat. Secara, penawarnya hanya darah suci." Ucap Thea khawatir.
"Gue gak tau, The! Di satu sisi, gue gak mau melukai Nayla. Tapi disisi lain, David itu sodara gue. Gue bingung harus kayak gimana?" Galang menjawabnya dengan lesu.
Mendengar itu, Thea menghela napas lesu juga. Tadi saat Agra memberitahu kalau darah suci adalah penawarnya, Tristan lah yang paling pertama menolak. Karna tak terima, Tristan langsung membawa Nayla melesat pergi dan meninggalkan David bersama Galang dan Thea.
Tanpa Galang dan Thea ketahui, alasan Agra memberitahu Galang penawarnya karna Agra menaruh harapan pada Galang agar mau mengorbankan darah suci. Bagaimana pun juga, David masih cucunya. Kalau Agra berharap pada Tristan, rasanya tidak mungkin. Agra tau, jika Tristan tidak akan mau mengorbankan Nayla.
Dengan membujuk Galang, siapa tau Galang mau mengorbankan Nayla demi saudaranya. Tapi, sekarang malah Galang dibuat bingung dengan keputusan apa yang harus ia ambil?
"Eungh."
Terdengar sebuah lengkuhan membuat Galang dan Thea menoleh pada asal suara. Rupanya David mulai sadarkan diri walaupun wajahnya masih pucat. Laki-laki itu pun melirik sekitar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) END
FanfictionGanteng Ganteng Serigala Fanfiction (My Version) Ketika makhluk Immortal hidup berdampingan dengan manusia. Galang dan Nayla adalah dua orang sahabat yang merupakan manusia biasa. Keduanya dekat bahkan saling membutuhkan. Namun, semuanya berubah ke...
