Kirana sejak tadi tak bisa menghentikan tangisannya. Ia takut, hubungan persaudaraannya dengan Galang kandas begitu. Padahal selama beratus-ratus tahun yang lalu, mereka sangat menanti kelahiran reinkarnasi Ilalang. Sehingga mereka menjadi utuh lagi. Namun, itu pupus seketika karna Excel.
"Kita udah cari Galang kemana-mana, tapi gak ketemu." Ujar Freedom menghela napas lesu.
"Bahkan kita sudah ke Rumahnya, tapi cuma ada si jin tomang." Sahut Ken juga.
"Gue gak habis pikir, kenapa Excel sampe berpikir begiitu?" Heran Aurel dan menghela napas kasar.
Melihat kelesuaan itu, semua mendesah pelan. Bagaimana caranya mereka memperbaiki hubungan dengan Galang?
Sejak tadi, David hanya terdiam. Sesaatnya, ia ikut menimpali.
"Gue curiga, Galang ada di suatu tempat."
"Dimana?" Tanya Ray penasaran.
"Di tempat yang gak mungkin kalian kunjungi." Ucap David. Ia pun melirik semua saudaranya, "Gue akan coba kesana. Siapa tau, dia bisa mendengarkan gue. Mungkin aja, Galang hanya marah sama kalian yang selaku sodara kandungnya. Karna dari pengamatan gue, konteksnya adalah tentang bunda Helen–bunda kandung kalian."
Semua mengangguk. Mereka menyetujui ucapan David itu. Setelah itu, David pun melesat pergi.
***
Seperti biasa, Tania selalu melesat saat akan berangkat ataupun pulang Sekolah. Karna Sekolahnya kali ini berbeda dengan yang dulu, maka ia melewati Hutan dekat wilayah vampir untuk memotong Jalan.
Kriukk...
Seketika Tania memegangi perut. Kenapa ia malah merasa lapar? Tania pun mendengus kesal.
"Nih perut, gak tau waktu apa? Masa laper sekarang? Harus segera nyari darah, nih? Tapi dimana?"
Seketika Tania menyadari. Dirinya tengah berada Hutan dekat Wilayah vampir.
"Apa gue berburu aja, ya?" Tanyanya pada diri sendiri.
Senyumnya sumringah. Ia pun mengangguk mantap. Setelah itu, Tania lekas melesat untuk berburu.
***
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Galang mengamuk sendirian di Hutan yang sudah jauh dari Wilayah serigala. Dirinya meyakini, jika para saudaranya tidak akan menyusulnya sampai kesini. Secara, ini hampir dekat dengan Wilayah vampir. Tentunya mereka tak ingin berurusan dengan vampir.
Galang hanya menonjok-nonjoki pohon. Tak peduli tangannya sampai berdarah-darah. Rasa sakit di tangannya tak seberapa dengan rasa sakit dihatinya. Saudaranya sendiri yang mengkhianatinya. Dan juga Thea? Galang tak pernah menyangka ini.
"Aaaaaaarrrrrrrrrrgggggghhhhhh!" Jeritnya menangis.
Ia berhenti sejenak. Mau pada siapa ia meluapkan segala kesedihannya sekarang? Sulit bagi Galang untuk mempercayai semua orang.
"Mamsky. Kapan mamsky pulang? Galang butuh mamsky sekarang." Lirihnya sendu. Saat ini, hanya mamsky nya yang ia percaya.
Kembali Galang mengamuk lagi. Menjambaki rambutnya, menendang-nendang pohon, bahkan kembali menonjoki pohon. Darah yang sudah berceceran ditangannya, semakin deras. Galang tak peduli jika ada vampir yang mendekat. Bahkan jika ia mati sekarang, rasanya ia siap. Dengan begitu, saudara-saudaranya akan senang.
"Galang!" Pekik seseorang dan langsung menahan pergerakan Galang yang masih menonjok-nonjoki pohon.
"Galang, berhenti! Lo apa-apaan, sih?" Pinta gadis itu semakin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) END
FanficGanteng Ganteng Serigala Fanfiction (My Version) Ketika makhluk Immortal hidup berdampingan dengan manusia. Galang dan Nayla adalah dua orang sahabat yang merupakan manusia biasa. Keduanya dekat bahkan saling membutuhkan. Namun, semuanya berubah ke...
