"My Baby Honey, Digo. Kita ke Kantin bareng, yuk!" Ajak Sissy tersipu-sipu. Sebenarnya alasan lain Sissy mengajak itu guna mengalihkan perhatian agar Digo melupakan kejadian tadi. Takut Digo merasa curiga kenapa dirinya bersikap seperti itu?
Digo mengangguk saja. Karna memang ia tak menaruh kecurigaan itu sedikitpun. Melihat itu Sissy menghela napas lega. Untung saja Digo tak curiga.
Sesaat kemudian, Sissy seolah kehilangan ingatan bagaimana caranya bernapas. Pasalnya, tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba Digo mengenggam tangannya erat seolah mengatakan pada semua orang kalau Sissy itu miliknya. Sissy yang diperlakukan seperti itu senyum-senyum saja.
Rupanya karna ajakan Sissy tadi, Digo memang berniat ke Kantin bersama gadis itu. Tapi masalahnya, Kantinnya berada di sebrang Lapangan sana dan otomatis harus berjalan melalui Lapangan yang sedang panas terik matahari itu. Sissy yang masih curiga Digo itu vampir, seketika merasa takut. Takut nanti malah Digo kenapa-napa, Sissy menarik tangan Digo sebelum laki-laki itu mulai menyebrangi Lapangan.
"Loh kenapa, Si?" Heran Digo melihat respon Sissy.
"Lo serius mau lewat Lapangan? Matahari terik banget, loh. Bukan apa-apa. Gue pernah liat lo sama sodara-sodara lo kayak kesakitan gitu pas lagi dibawah sinar matahari."
Deg
Digo tertegun. Kenapa ia bisa lupa kalau matahari sedang terik? Dan juga, kenapa Sissy ngomong begitu? Sudahkah Sissy tau kalau dirinya itu seorang vampir? Seketika Digo melirik pada jemarinya. Cincin ini? Apakah bisa cincin ini memberikan efek agar dirinya tak terbakar oleh matahari?
"My Baby Honey, Digo. Apa bener, lo itu adalah vampir? Soalnya, selain pernah liat lo terbakar matahari, gue juga pernah liat bayangan lo gak terlihat di cermin."
Digo terbelalak. Karna terkejut, laki-laki itu membalikkan tubuhnya membelakangi Sissy. Melihat itu Sissy terenyuh. Apakah itu memang benar? Sesaat kemudian, gadis itu tersenyum manis.
"Tapi gak papa My Baby Honey, Digo. Apapun dan siapapun kamu, Sissy yang cantik ini akan menerima kamu apa adanya. Bahkan jika kamu mau menghisap darah dari leherku ini, silahkan! Asalkan aku bisa masuk kedalam hati kamu. Aduh! Romantis banget gue." Ucap Sissy dengan nada centil.
Setelah memantapkan diri, Digo berbalik menatap Sissy. Tentunya dengan tatapan yang tajam, "Heh! Memangnya siapa yang bilang gue vampir? Gue buktiin ya ke elo! Kalo gue itu bukan vampir. Gue buktiin dengan menyebrangi lapangan ini."
Sissy terbelalak. Seandainya Digo memang vampir bagaimana? Seketika Sissy mengkhawatirkan keselamatan Digo.
Disisi lain, dari kejauhan Yasha, Liora, dan Thea memperhatikan interaksi Digo dan Sissy.
"Kira-kira, apa yang tengah dilakukan Digo?" Tanya Yasha. Pasalnya obrolan keduanya tak sampai terdengar oleh ketiga vampir itu.
"Gue gak tau. Tapi yang gue liat dari ekspresi mereka, mereka sedang bersitegang." Jelas Thea.
"Benar-benar gawat kalau Digo beneran jatuh cinta sama gadis itu. Dengan begitu, dia bakalan melindungi gadis darah suci itu secara Sissy dan Nayla adalah sahabat." Ujar Liora khawatir.
Thea mengangguk, "Ya, mungkin aja. Karna liat! Adik kalian itu mau menyebrangi Lapangan, untuk membuktikan cintanya pada Sissy."
Mendengar ujaran Thea, Yasha dan Liora terbelalak.
Sedangkan Digo sudah akan melangkahkan kakinya, Sissy langsung menarik tangan.
"Ya, ampun! My Baby Honey, Digo. Gak perlu! Apapun dan siapapun kamu, aku terima, kok! Kamu gak perlu buktiin apa-apa!" Sissy panik. Kalau Digo terluka bagaimana?
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) END
FanfictionGanteng Ganteng Serigala Fanfiction (My Version) Ketika makhluk Immortal hidup berdampingan dengan manusia. Galang dan Nayla adalah dua orang sahabat yang merupakan manusia biasa. Keduanya dekat bahkan saling membutuhkan. Namun, semuanya berubah ke...
