Sebuah langkah kaki begitu menggema ketika kaki itu melangkah memasuki Ruangan di Istana. Begitu tiba menghadap sang raja, lelaki itu lekas membungkuk sedikit untuk memberikan penghormatannya. Setelah itu, ia berdiri tegak kembali.
"Apa yang membuat raja Venossa memanggilku kemari?" Ucap laki-laki itu.
"Bagaimana keadaanmu, Volturi? Apa kau sudah lebih baik?" Tanya Venossa pada laki-laki yang ternyata adalah Volturi.
"Sudah raja! Terima kasih atas pemberian darahmu. Karna itu, aku sembuh dan sekarang menjadi lebih kuat lagi." Ucap Volturi senang.
Mendengar itu, Venossa tertawa keras, "Bagus! Semua itu karna kau membuatku senang. Aku sangat senang, ketika kau berhasil membuat Lestat sekarat."
Volturi pun terlihat berpikir sejenak. Ia jadi bertanya-tanya. Apa yang terjadi pada Lestat setelah kejadian itu? Dan yang terpenting, dimana Denis sekarang? Apakah anak itu telah menipu dirinya?
"Tapi disamping itu, aku memiliki perintah untukmu, Volturi." Ucap Venossa membuyarkan lamunan Volturi.
"Apa itu, raja?" Tanya Volturi penasaran.
"Bawa gadis pemilik darah suci itu kehadapanku." Ucap Venossa membuat Volturi terbelalak kaget.
"Apa? Jadi Venossa telah mengetahui keberadaan gadis itu? Sialan! Kalo begini, gimana gue bisa merebut kekuasaan Venossa? Secara, gue harus tetap seolah mengabdi pada dia." Gerutu Volturi dalam hati.
"Baik, raja! Akan aku laksanakan." Ucap Volturi pada akhirnya. Tak lupa ia membungkuk lagi untuk memberikan penghormatan.
***
Galang terduduk di sebelah Nayla yang masih menangis. Saat ini, keduanya tengah duduk di kursi Teras Rumah Galang. Sejak kedatangannya tadi pagi, gadis itu hanya menangis saja.
"Lo kenapa sih, Nay? Dateng-dateng gak cerita, cuma nangis doang? Kalo kayak gini kan, gue gak bisa ngapa-ngapain buat bantuin lo jadinya." Ucap Galang yang sejak tadi kebingungan.
Nayla menatap Galang dengan mata yang berair, "Lang! Lo kasih tau gue, Lang! Tristan itu sebenarnya kemana? Kenapa sejak kita jalan lima hari yang lalu, dia gak pernah keliatan lagi?"
Mendengar itu, Galang pun mendesah pelan. Ia juga tidak tau Tristan itu kemana? Apalagi, Thea belakangan ini juga mengkhawatirkan kakaknya itu.
"Gue juga gak tau, Nay! Kalo gue tau juga, bakal gue kasih tau lo. Malam itu, dia nemuin gue sama Thea. Dia minta, agar gue ngejagain lo. Udah itu doang! Selebihnya dia gak bilang mau kemana." Jelas Galang seadanya.
Nayla semakin mengeraskan tangisannya. Entah mengapa, ia merasa khawatir dengan Tristan. Apakah Tristan memiliki tugas penting sesuatu dari bangsa vampir? Itu yang menjadi pertanyaan Nayla.
Tanpa sadar, Nayla menyandarkan tubuhnya pada Galang. Galang pun terbelalak. Ingin menegur Nayla, tapi ia tidak enak hati. Galang sedikit takut, jika Thea datang dan melihat ini.
"Nay–"
"Sebentar aja, Lang! Gue pengen tenang sebentar." Potong Nayla yang tau jika Galang ingin menegurnya.
Galang menghela napas panjang. Ia sudah tidak bisa apa-apa jika Nayla sudah begini. Alhasil, ia membiarkannya.
Namun rupanya, dari kejauhan sana Thea memperhatikannya. Suasana hatinya yang tidak baik semakin menjadi karna melihat pemandangan ini. Rasanya sesak. Kenapa ia ada perasaan tidak rela ketika Galang membiarkan Nayla menyandarkan tubuh padanya?
Hingga akhirnya, tatapan Galang dan Thea saling bertemu. Galang yang melihat kehadiran Thea dengan mata berkaca-kaca pun terbelalak. Ia pun menggeleng ribut ketika Thea memilih untuk melesat pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) END
FanfictionGanteng Ganteng Serigala Fanfiction (My Version) Ketika makhluk Immortal hidup berdampingan dengan manusia. Galang dan Nayla adalah dua orang sahabat yang merupakan manusia biasa. Keduanya dekat bahkan saling membutuhkan. Namun, semuanya berubah ke...
