"Semoga Langgeng, Ya!"

1.1K 50 8
                                        

"Thea! Lo mau kemana?" Tanya Liora penasaran ketika melihat Thea yang hanya melewati Ruang Tamu. Disana juga ada Digo yang asyik dengan gitarnya.

"Gue pengen keluar. Pengen cari angin segar."

"Yakin? Atau lo mau ketemu sama Wingky?" Sinis Digo tanpa melirik Thea. Ia masih asyik dalam memperbaiki senar gitarnya itu.

Thea menatap Digo tajam, "Gue udah gak ada urusan sama dia!" Tegasnya.

Kini Digo menatap Thea. Ia tersenyum bangga pada kakaknya itu, "Bagus, deh! Ini yang gue harapin."

Thea mendengus kesal. Setelah itu, ia memilih melengos pergi daripada meladeni adiknya.

***

Sambil menuntun, Galang berjalan kaki. Niatnya mau jogging berubah menjadi jalan kaki biasa karna sambil menuntun Diva. Galang menghela nafas. Gak papa, lah! Sama-sama olahraga ini. Jalan kaki pagi juga sehat, kok! Apalagi terkena vitamin matahari pagi seperti ini.

Sejak tadi Galang tak boleh lengah sedikitpun. Kalau anak orang hilang, bisa gawat! Makanya, ia sama sekali tak melepaskan tuntunannya pada gadis kecil yang menjadi adik sepupunya itu sedari tadi.

"Kakak Galang, Diva capek!" Keluh gadis kecil itu.

"Capek-capek! Makanya, suruh siapa minta ikut?" Cibir Galang kesal.

Diva terkikik geli, "Gendong!" Pintanya.

Galang mendelik kesal. Nih, anak daritadi ngeribetin melulu!

"Gendong, kakak!" Pintanya kesal karna di abaikan oleh Galang sambil menghentak-hentakkan kakinya, "Gak gendong, Diva nangis, nih!"

Baru saja anak itu akan mengeluarkan tangisan mautnya, Galang berdecak. Alhasil, ia langsung menggendongnya. Galang mencubit hidung gadis kecil itu gemas. Anaknya siapa sih, ini?

"Bisa aja lo jurusnya." Gerutu Galang. Lagi-lagi Diva hanya terkikik geli.

Kini Galang melanjutkan langkahnya, dengan Diva yang ada di gendongannya. Melirik sekeliling yang rupanya banyak orang juga sedang jogging di sekitar sini. Ya, tempat ini adalah Taman yang di khususkan untuk berjogging. Dan biasanya memang banyak pengunjung ketika di hari sabtu-minggu.

"Kakak! Diva haus."

Galang terdiam. Kini ia pun merasa haus juga. Alhasil, Galang mengangguk, "Kita cari Warung, ya!"

"Oke!" Ucap Diva lucu.

Kini Galang berjalan lagi, melirik-lirik sekitarnya lagi dengan teliti. Siapa tau, ada Warung di sekitar sini. Sekalian kalau ada Warteg. Mungkin ia akan sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan jalan kakinya.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Akhirnya Galang dan Diva menemukan sebuah warung. Sayangnya, itu bukan Warung makan seperti Warteg yang diharapkan Galang. Tapi gak papa! Yang penting dahaganya akan segera teratasi. Alhasil, Galang mampir.

Begitu memasuki Warung itu, tujuan Galang langsung pada lemari es. Memilah-milih kira-kira, minuman apa yang cocok untuk menghilangkan dahaganya? Namun, ia dihadapkan pada beberapa pilihan ketika ia membuka pintu kulkas itu. Ada banyak jenis minuman disana.

"Diva mau apa?" Tanya Galang meminta pendapat gadis kecil itu.

Diva malah menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya, "Gak mau!" Tolaknya.

Galang menghela nafas lelah. Nih anak maunya apa, sih? Tadi minta minum, sekarang enggak. Gimana, sih? 

Karna Galang yang juga haus, ia pun segera mengambil satu botol minuman isotonik. Lumayan, buat pengganti ion di tubuhnya. Setelah puas pada pilihannya, ia pun segera menuju Kasir Warung itu.

Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang