Keputusan Pergi

1.1K 57 21
                                        

Dengan harap-harap cemas, semua menunggu Galang yang kini tengah diperiksa oleh Dokter di Kamarnya. Galang terkena demam tinggi. Tadi saja nafasnya sampai tersengal. Untung saja Galang tidak sampai kejang mengingat saking tingginya suhu tubuhnya.

"Saya sudah menyuntikkan obat pereda panas. Kalau masih belum ada perubahan, bisa langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Kalau bisa, jangan biarkan dia stress. Sepertinya, dia seperti ini karna banyak tekanan."

Rona menghela napas. Bagaimana mana mungkin untuk membuat Galang tidak tertekan? Berita duka ini yang membuatnya seperti itu.

"Baiklah, dokter. Terima kasih atas sarannya." Ucap Rona.

"Kalau begitu, saya pamit." Ucap dokter itu.

"Saya anter, dok." Ucap Zidan dan lekas mengantar dokter itu.

Begitu dokter itu dan Zidan telah menghilang dari pintu Kamar, Rona segera menghampiri Galang yang masih belum sadarkan diri. Wanita itu terlihat mengusap dahi Galang penuh dengan kasih sayang. Cukup lama Rona mengusap dahi Galang sampai Zidan kembali lagi kedalam Kamar.

"Tansky yakin kamu kuat, sayang. Tansky sayang sama kamu. Jadi kamu jangan merasa sendiri. Tujuan lain tansky kesini, karna tansky mau bawa kamu pergi ikut tansky ke Itali, sesuai amanat mamsky kamu." Ucap Rona berbisik pada Galang.

Mendengar itu, Thea, Tobi, dan David terbelalak. Sementara Ken memilih keluar dari Kamar Galang. Fakta ini amat menyakiti dirinya. Ia tidak rela jika harus kehilangan saudaranya lagi. Diluar Kamar, Ken menangis sejadinya.

"Maafin gue, Lang! Gue gak becus jadi sodara lo. Seharusnya gue ada disana saat lo disudutkan. Gue sayang sama lo, Lang! Gue gak sanggup jika harus berjauhan sama lo."

Tak tau ingin berlari kemana? Ken memilih untuk menemui seseorang yang mampu menjadi sandarannya.

Kembali kedalam Kamar Galang.

Elusan Rona seolah mengusik tidur Galang yang terlelap itu. Melihat mata itu akhirnya terbuka, Rona tersenyum.

"Tansky. Tadi Galang cuma mimpi, kan? Mamsky pasti balik kesini lagi, kan?" Tanya Galang dengan lirih. Tersirat sebuah harapan yang besar disana.

Thea menutup mulutnya menahan tangis. Sementara Rona menggeleng sedih. Rupanya Galang masih belum terima semuanya.

"Kamu gak mimpi, sayang! Kamu harus sabar dan ikhlas. Ya?" Bujuk Rona pelan-pelan.

"Galang udah gak punya siapa-siapa lagi, tansky." Ucap Galang hilang harapan.

"Kata siapa? Kamu masih punya tansky. Punya Zidan. Kami adalah keluarga kamu." Jelas Rona.

Galang menggelengkan kepalanya, "Kalian juga pasti akan meninggalkan Galang. Sebentar lagi, kalian pasti akan kembali ke Itali. Iya, kan?"

Rona melirik Zidan. Melihat Zidan mengangguk yakin, Rona jadi semakin yakin.

"Kamu mau ya? Ikut tansky sama Zidan ke Itali. Mau ya? Ini permintaan mamsky kamu." Bujuk Rona.

Galang terlihat berpikir sejenak. Tak ada gunanya lagi ia disini. Semua bangsa serigala sudah membenci dirinya. Tak ada lagi yang mempercayai dirinya. Dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi. Alhasil, Galang pun mengangguk setuju. Ia hanya ingin berlari sejauh mungkin.

Rona tersenyum, "Kita berangkat besok, ya!"

Thea menggeleng tak percaya. Ia pikir, Galang tidak akan setuju. Tak kuasa menahan tangis, Thea berlari keluar. David yang melihat itu, lekas mengejar Thea.

Thea berlari sampai keluar Rumah Galang. Disana Thea menangis tersedu-sedu. Rasanya ia tidak sanggup jika harus berjauhan dengan Galang. Padahal tadi Thea berharap Galang tidak setuju. Ternyata jawaban Galang tidak sesuai ekspetasinya. Namun Thea maklum. Galang seperti ini karna ia sudah sangat terluka. Thea menyesal, karna ia tidak bisa membela Galang saat Galang disudutkan. Jadinya, Galang merasa tidak memiliki siapa-siapa lagi disini.

Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang