Hari mulai senja. Galang dan Thea masih jalan berdampingan dengan Diva yang nyaman di gendongan Galang. Sebenarnya, mereka masih terlalu muda untuk menggendong seorang anak. Namun jangan salahkan, jika orang lain mengira mereka adalah sepasang suami istri.
Sebelumnya, Galang telah mengabari ibunya Diva, jika Diva bersama dirinya.
Ya, ibunya Diva sempat panik karna pihak TK bilang, Diva hilang. Pihak Sekolah pun sudah melapor pada petugas Pantai dan pihak berwajib. Namun karna ini di Pantai, tentu tidak bisa di cari hanya sekedar melalui pengumuman Mikrofon.
Karna adanya kabar dari Galang, alhasil pihak berwajib pun batal mencari. Dan malam ini, tansky nya itu akan menyusul Diva kesini karna takut Diva akan mengganggu aktifitas Galang.
Begitu lama mereka berjalan-jalan kaki sambil sesekali mengobrol. Hingga akhirnya, mereka berpasasan dengan dua orang yang sepertinya adalah sepasang kekasih.
"Sayang! Kalau kita nanti udah nikah, kita harus selalu romantis kayak pasangan itu, ya!" Ucap si perempuan menunjuk Galang dan Thea.
Mendengar itu, Galang dan Thea menahan tawa. Apa mereka benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri? Bahkan sepertinya wajah mereka terlalu muda untuk itu. Hanya saja, Galang dan Thea memang terlihat serasi. Makanya pasangan lain menatap iri pada mereka.
"Tentu dong, sayang! Nanti anak kita juga banyak."
"Berapa?"
"Dua puluh."
Pletak...
Galang dan Thea melongo. Sesaat kemudian mereka terkikik pelan menahan tawa. Dua puluh anak, katanya?
"Enak di kamu, gak enak di aku, dong! Kamu pikir, dua puluh anak bisa ngurusnya? Suka gak ngotak permintaan kamu." Protes cewek itu, dan mereka lekas berjalan pergi. Begitu pasangan kekasih itu menjauh, barulah Galang dan Thea tertawa keras.
"Aduh! Ngakak gue. Dua puluh anak, gak tuh?" Ujar Galang yang tak bisa menghentikan tawanya. Thea pun sama. Sementara Diva hanya terdiam polos. Masih kecil gak boleh tau.
"Galang! Kita duduk disana, yuk!" Ajak Thea yang kini berhasil menghentikan tawanya.
"Oh, iya! Udah mau Sunset. Yuk liat Sunset." Ucap Galang antusias. Namun sebelum itu...
"Kakak Galang!" Diva menarik-narik baju Galang, "Mau es klim." Pintanya menunjuk kearah tukang es krim yang kebetulan lewat.
"Ya udah! Kita beli es krim, habis itu duduk disana, ya!"
"Iya."
Alhasil, Galang membelikan Diva es krim terlebih dahulu sebelum duduk bertiga menikmati tenggelamnya matahari.
Setelah keinginan Diva terpenuhi, mereka pun segera menuju dermaga untuk duduk disana. Pemandangannya sangat cantik. Dan Thea amat menikmatinya karna ia bersama Galang. Galang pun menikmatinya juga. Apalagi bersama Thea dan Diva. Jatuhnya definisi seperti membangun keluarga gak, sih?
"Cantik." Gumam Thea tanpa sadar.
Galang melirik Thea yang ada disebelahnya. Ia pun tersenyum memandangi wajah gadis itu yang dirasanya sangat cantik sore ini.
Galang menghela napas, "Sunset memang cantik. Bahkan bidadari yang ada disamping gue pun, gak kalah cantik."
Thea memblusing. Tak tahan menahan malu, gadis itu lekas mencubit perut Galang.
"Aw, sakit!" Ringis Galang pelan, "Kebiasaan deh, lo." Walaupun begitu, Galang terkekeh.
"Suruh siapa? Nyebelin." Ambek Thea pura-pura.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) END
Fiksi PenggemarGanteng Ganteng Serigala Fanfiction (My Version) Ketika makhluk Immortal hidup berdampingan dengan manusia. Galang dan Nayla adalah dua orang sahabat yang merupakan manusia biasa. Keduanya dekat bahkan saling membutuhkan. Namun, semuanya berubah ke...
