Setelah menemui Galang, Michelle mencoba menuju ke Perbatasan untuk memantau. Saat ini ia masih berada di Wilayah vampir yang langsung berbatasan dengan Wilayah serigala. Tujuannya ia ingin mencari keberadaan Nayla dengan memantau gerak-gerik dari laki-laki serigala pengkhianat itu.
Namun ketika ia sedang asyik memantau dari Wilayah vampir, Michelle dihadang oleh Venossa sang raja vampir. Rupanya, Venossa ingin menghukum Michelle atas apa yang dilakukan oleh gadis itu, sesuai ucapannya tadi.
"Hahaha! Mau kemana kau, Putri Vekgo? Setelah aku menyandera ayahmu lalu Volturi menyekapmu, ternyata kau dengan cerdik melarikan diri." Ucap Venossa menyeringai.
"Aku tidak terima, kau mengacaukan segala rencanaku dan memberi kemenangan bagi bangsa yang menyedihkan itu." Lanjut Venossa.
"Bangsa serigala bukan bangsa yang menyedihkan! Bangsa vampir sendirilah yang menyedihkan! Kalian hanya haus akan kekuasaan dan kekuasaan. Tanpa peduli pada rakyat-rakyatnya." Bantah Michelle kesal.
"Lalu apa bedanya dengan ayahmu dulu, Michelle? Ayahmu juga sama kejamnya. Bahkan ayahmu dengan tega membunuh ibumu. Bukan hanya ayahmu, ibumu pun juga sama. Dengan tega dia membunuh putri kandungnya sendiri. Sheila." Ucap Venossa dan kembali tertawa.
"Ya, kesalahanku dulu adalah berdiam diri. Tapi sekarang tidak lagi! Jika ayahku salah, dengan berani aku akan menentangnya. Aku tidak takut! Bahkan jika aku mati sekalipun, aku akan mati dalam keadaan terhormat karna membela kebenaran." Tekad Michelle kuat.
Venossa menyeringai, "Benarkah? Kalau begitu lawan aku, gadis muda."
Michelle balik menyeringai, "Dengan senang hati."
Alhasil, terjadi pertarungan antara raja dengan anak mantan raja itu. Dengan lihai, Michelle menyerahkan segala kekuatannya untuk melawan Venossa. Venossa sendiri pun dengan mudah menangkis serangan-serangan yang dilayangkan oleh Michelle. Sesekali Venossa juga melayangkan serangan, namun berhasil dihindari oleh Michelle.
Pertarungan itu terjadi cukup lama. Hingga akhirnya Michelle terengah, barulah Venossa mengambil kesempatan. Ia memberikan serangan terbaiknya untuk mematikan serangan dari Michelle.
Bugh...
Michelle terjatuh di tanah. Ia meringis memegangi lehernya. Melihat itu, Venossa tertawa keras.
"Hahaha, Michelle! Habislah riwayat kamu! Aku sudah menanamkan racun pada tubuhmu melalui lehermu. Jika tidak cepat-cepat diobati, maka kamu akan segera mati terbakar."
Mendengar itu, Michelle menatap Venossa marah. Rasa terbakar mulai menjalar dari leher menuju seluruh tubuhnya. Di tengah kesekaratan Michelle, Venossa melesat pergi.
"DASAR SIALAN LO, VENOSSA! RAJA BIADAB! ARRRRGGGGHHHH!" Teriak Michelle mengumpat. Setelahnya ia mengerang kesakitan.
"Waktu gue udah gak lama lagi. Sebelum gue mati, gue harus nemuin Nayla dulu. Setidaknya gue ingin Nayla tau. Kalo gue adalah adiknya." Gumam Michelle menangis mengingat hidupnya yang sebentar lagi. Harapannya untuk hidup abadi bersama sang kakak harus sirna begitu saja.
***
Tobi melongo tak percaya melihat sosok Zidan yang duduk dihadapannya, sambil menyemili cemilan dengan wajah polos. Wajah Zidan benar-benar plek ketiplek dengan Digo. Ingin menuduh dia sebagai Digo seketika urung ketika melihat kegiatannya itu. Secara, Digo gak mungkin makan.
"Kenapa lo liatin gue kayak begitu?" Tanya Zidan sengit.
"Eh, enggak!" Ucap Tobi ketakutan. Bagaimanapun juga, ia membayangkan dia adalah Digo. Dan Tobi agak sedikit trauma dengan Digo.
Srett...
"Eh, Lang! Punya gue itu!" Protes Zidan tak terima. Secara tiba-tiba Galang datang dan langsung menyerobot cemilan milik Zidan dan langsung duduk di sebelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Creature (GGS Fanfiction My Version) END
FanfictionGanteng Ganteng Serigala Fanfiction (My Version) Ketika makhluk Immortal hidup berdampingan dengan manusia. Galang dan Nayla adalah dua orang sahabat yang merupakan manusia biasa. Keduanya dekat bahkan saling membutuhkan. Namun, semuanya berubah ke...
