25. Till It Less Hurt

138 17 6
                                    

***

***

***

Louis baru menyadari kedua sudut bibirnya sudah terangkat, begitu ia memasuki kediamannya dan berjalan menyusuri lorong gelap yang minim penerangan di malam hari. Ia yakin, ekspresinya saat ini sangat berbeda dengan raut wajahnya di acara pesta dansa tadi yang ia berat hati harus hadiri karena penyelenggaranya keluarga Marquis Winsor, tamu yang seminggu lalu pulang dari rumahnya dengan suasana buruk, padahal niat awal cuma mampir untuk melihat tamannya.

Sangat sulit bersosialisasi bagi Louis, sementara suasana emosinya yang ia akui masih belum stabil dengan berbagai hal yang terjadi selama akhir-akhir ini. Dan wanita itu seakan menjadi pelariannya, masih sampai sekarang. Ia harap, ia memang sungguh tak memaksanya, menerima beban emosional yang Louis buang padanya dengan cara yang sangat tidak konvensional.

Cara memandang Louis pada si pelayan Rosier berubah dan terlalu tertutup oleh bayang-bayang keegoisannya semenjak malam itu. Ia tahu, tak seharusnya melakukan seseorang seperti itu. Dan karena minimnya penolakan, membuat Louis meneruskan klaimnya. Setiap ada kesempatan, hampir tiap malam selama seminggu ini, ia akan memberikan Jean serangkaian perintah atau alasan di hadapan valet mudanya atau penghuni Arcus Hall lain jika diperlukan, untuk membeli kesempatan berdua dengan pelayan Rosier itu.

Itu sangat konyol. Nyonya Spinner mungkin sudah paham dengan apa yang sebenarnya mereka lakukan di balik pintu. Bahkan putra muda Tuan Bauer pun juga, dengan gerak-gerik dan wajahnya yang selalu memerah setiap ketiganya berada dalam satu ruangan. Beruntung, Jean, adalah pelayan kamarnya, hingga tak akan terdengar begitu mencolok di depan pelayan lain jika wanita itu keluar masuk kamarnya. Meskipun tak sesering itu juga.

Bagaimana hubungan mereka yang mengobrol panjang lebar bak teman sebaya lama -terlepas kasta-, berubah menjadi penuh gairah fisik seperti ini setiap mereka berpapasan? Mencuri-curi kontak mata, seperti sepasang remaja yang baru jatuh ke dalam lubang kasmaran. Atau mungkin Louis saja yang bersikap seperti itu, Jean terlihat cuma menurut.

Louis pikir rasa ketertarikan itu, ibarat rasa penasaran pada coklat istimewa mahal yang ketika dimakan tak lebih dari rasa coklat setengah harganya. Namun, rasa penasaran itu ternyata rasa haus yang semakin menjadi begitu akhirnya mendapat kesempatan untuk mengecap.

Dan setiap saat bersama terasa pengalaman yang baru, terlebih dirinya yang hanya baru mengenal Jean satu bulan lebih terhitung sejak kepergian mereka ke Arcus Hall.

Semua akan menjadi sia-sia jika semua ini berakhir dengan semestinya. Apakah mereka masih bisa menjadi teman?

Louis hanya bisa menyalahkan dirinya yang memulai.

Sikap impulsifnya yang memberi makan keegoisan akan rasa penasarannya pada seorang wanita yang telah mampu menarik perhatiannya. Terlebih lagi, didorong oleh keinginannya untuk menghilangkan rasa sakit ketika tahu kenyataan yang sebenarnya atas kecelakaan yang membuat ayahnya menderita dan berakhir ajal.

Begitu ia sampai di kesimpulan mengerikan itu setelah membaca surat Raja Thothage kepada Permaisuri Eleanor -yang ditemukan oleh orang suruhannya-, Louis bergegas pulang dan mengunci diri. Namun, ia juga menginginkan presensi seseorang di dekatnya, biarpun cuma sebatas kata-kata manis, menguatkan, menenangkan kalau semuanya memang salah.

Dan sosok Jean menjadi pertama yang terlintas dalam kepalanya. Selain karena kedekatan semu mereka, juga rasanya tak ada orang lain lagi yang bisa Louis tarik untuk menjadi pundak bersandarnya. Dirinya terlalu sendiri sejak kecil sampai sekarang. Tak ada yang bisa diajak bertukar cerita tanpa dirinya bercuriga atau terganggu karena dirinya merasa lemah. Bahkan kepada Bernard Warden ataupun Claude yang sudah cukup lama ia kenal -itu tentu saja karena mereka laki-laki. Louis tak mungkin 'kan, di umur dua puluh delapan tahun menangis sesenggukan di hadapan mereka sambil berkata dunia sungguh tak adil.

The Saintess' EscapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang