Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

50-2. Coronation

2.2K 114 24
                                        

***






Dan itulah sekarang, setelah lima hari penuh persiapan matangnya, Vivienne akan segera pergi. Mumpung sedang banyak orang keluar-masuk istana berkat penobatan raja baru mereka yang kini begitu sangat sibuk bersih-bersih birokrasi kerajaan. Bahkan dari kabar yang terbaru sudah lebih lima puluh persen orang dewan yang dipenjara dan menunggu hukuman. Minggu pertama lelaki itu menjadi raja akan dipenuhi dengan darah dan kepala. Sedangkan pemakaman Raja Credence baru dilaksanakan kemarin akhirnya. Jadi, ini adalah waktu yang paling tepat untuk Vivienne pergi. Semua urusannya juga sudah selesai. Dan pria itu menjadi Raja, suka atau tidak.

Ia bersyukur, lima hari ini mereka tak kembali bertemu, dan merasa-Vivienne yakin-hanya akan menggoyahkan niatnya untuk kabur ke negeri seberang.

Ia tak bisa membayangkan dan berandai lebih lagi seketika pria itu menjadi raja sungguhan sekarang. Bukankah itu sebuah pertanda untuk Vivienne lebih baik mundur? Dan ia merasa perutnya semakin menampakkan diri.

Yang wanita itu bisa imajinasikan sekarang adalah hidup sederhana di desa jauh dan membesarkan anak dikandungnya, terlepas sang ayah janin seorang raja atau bukan. Hal tersebut yang paling realistis. Karena Vivienne sama sekali tak bisa membayangkan dirinya bersanding dengan lelaki itu, tidak sebagai Felicia yang lain, apalagi sebagai Eleanor untuknya. Belum lagi kalau identitas asli Vivienne terbongkar dan ternyata dirinya sama sekali tak memiliki kekuatan Saintess. Memang pilihan terbaik dan satu-satunya tetaplah mencari pelarian yang jauh.

Dengan tekad bulat, sang Saintess mengendap-endap di antara gelapnya malam yang sunyi di paviliun yang telah ia tinggali hampir tiga bulan. Dengan cekatan, ia membebaskan satu kuda dari kandangnya sebagai kendaraannya nanti, dan menyandang satu buntelan kain berisi tiga baju paling sederhananya dan perhiasan pemberian mendiang permaisuri yang akan ia jual nanti. Ia hanya punya ini, karena semua uang tabungannya masih berada di Arcus Hall, dan Rosier Chateau sebagian besar. Jika ia berani bertaruh, mungkin Vivienne akan mampir ke sana sebentar untuk mengambil dan pamit, selagi pemiliknya masih sangat sibuk di istana. Tapi sepertinya, itu terlalu riskan untuk Vivienne yang tak punya banyak waktu sejujurnya. Jadi ia harus belajar mengikhlaskan tabungan lima tahun itu. Tapi cukup mending jubah beludru emerald dan belati kesayangannya telah dikembalikan beberapa minggu yang lalu oleh lelaki itu.

Sembari mengajak kuda yang ia curi berkompromi untuk diam, ia berjaga mata ke sekeliling.

"Vivienne?"

Seorang lelaki menunggangi kuda menampakkan diri dari sudut yang tak ia kira, halaman belakang istana yang menuju hutan tempat berburu raja. Arah di mana Vivienne akan keluar dari istana, jalur yang lebih aman dibanding lewat gerbang. Itu adalah pintu keluar istana yang paling sepi karena melewati hutan-hutan, setelah ia mengamati berhari-hari kemarin.

Tanpa pikir panjang, wanita dengan jubah emerald bertudungnya segera melompat naik ke kuda yang ia tuntun sedari tadi. Lalu menghentakkan kaki dan tali kekang untuk berpacu pergi secepatnya.

Sebentar lagi, Vivienne.

Dengan sekuat tenaga ia mencoba menambah kecepatan sang kuda.

Kau akan benar-benar bebas.

Motivasinya untuk dirinya sendiri. Sementara lelaki yang baru saja ia temui tadi tak diam saja melihat, langsung berbalik mengejar dengan kecepatan penuh.

Insting Louis begitu kuat, kalau wanita itu adalah Saintess Vivienne dalam remang-remang malam dan pepohonan. Rasa panik entah kenapa menyeruak begitu panggilannya tak dihiraukan.

"Vivienne! Berhenti sebentar!"

Wanita itu malah memerintah kudanya berlari lebih cepat lagi, dengan hentakan kaki dan tali kekangnya.

The Saintess' EscapeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang