***
***
***
Dibuatkan kebun, dipuji penuh keindahan
Dulu oh dulu
Sekarang akarnya mencari semua itu di tanah seberang
Dalu hanyalah waktu
Dalam bawah tabir melepas dahaga bersama lawang
Krisan-ku enggan layu
***
Hari ini adalah kepulangan rombongan Raja Thothage. Orang-orang istana sudah bersiap mengantar, berdiri di anak tangga depan pintu masuk istana Hawthorn. Keempat Duke -bahkan Duke Merle juga, lalu beberapa bangsawan penting, ikut turut hadir, terkecuali sang selir yang jarang-jarang dianggap, dan Grand Duke muda Rosier yang entah ke mana. Sebelumnya Permaisuri sudah menanyakan berkali-kali ke hampir semua orang di sana keberadaan pria itu, tapi tentu saja tak ada yang tahu. Termasuk juga Vivienne sendiri yang padahal sudah semalaman berdua dengannya di kamar paviliun, di atas ranjang, untuk membicarakan hasil kunjungan Sheaniel tentu saja...
Yah, sesekali diselingi ciuman atas kerinduannya yang tak bisa ia katakan karena masalah harga diri. Hanya itu. Yang bersangkutan pergi saat matahari pagi muncul sejengkal di ufuk timur.
Vivienne memilih mengambil tempat di belakang barisan setelah para dayang permaisuri, memperhatikan dari jauh. Bola matanya sesekali menyapu sekilas ekspresi orang di sekitar. Para pelayan istana juga tak luput dari pengamatannya ketika pembesar Syca dan Thothage bertukar kata terakhir kali sebelum berangkat.
Dua pelayan wanita kentara tengah berbisik di belakang tangan mereka, Vivienne perhatikan, sejak Permaisuri Eleanor memberikan salam dan kata-kata perpisahan kepada Raja Thothage serta putrinya. Sebelum akhirnya rombongan mereka bersiap dan kereta mulai berangkat. Tepat saat itu, sosok seseorang muncul di samping Vivienne cukup dekat dan membuatnya spontan melihat dari ekor mata. Grand Duke muda Rosier muncul jua di saat-saat terakhir, dan sekarang tengah membalas lirikannya dengan sama.
Berpikir untuk waspada, Vivienne menggeser tubuhnya sejengkal lebih jauh, tak ingin dalam sisa waktu upacara ini menjadi masalah besar jika mereka berdua dilihat orang dengan mata penuh curiga dan otak gosip.
"Selamat pagi, Yang Mulia Grand Duke," sapa Vivienne pelan tapi cukup keras juga untuk telinga para pelayan di belakang mereka.
"Selamat pagi juga untuk anda, Saintess."
Sepasang mata biru itu berkilat menggoda. Dan kontak mata mereka sayangnya harus terputus begitu Permaisuri Eleanor menyadari kehadiran keponakannya yang terlambat.
"Oh, aku tak tahu keponakanmu yang tersayang hadir dan memilih berdiri di belakang." sindir Permaisuri ke arah Raja Credence yang hanya meninggikan bahunya sekilas.
"Saya baru saja tiba, Yang Mulia Permaisuri, karena ada urusan mendadak yang perlu segera diselesaikan. Tanya saja Saintess Vivienne."
Dan vivienne dalam sesaat membeku ketika berpasang mata malah tertuju ke arahnya kini. Entah kenapa -terlepas hubungan aneh mereka, ia pikir lelaki di sampingnya suka sekali melihat dirinya berdiri tak nyaman di publik seperti sekarang ini.
Vivienne menganggukkan kepalanya, "benar, Yang Mulia, Grand Duke baru saja tiba."
Setelah memberikan tatapan telisik ke arahnya, Permaisuri Eleanor kembali beralih ke Louis dengan dagu terangkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Saintess' Escape
Fantasy𝑹𝒐𝒎𝒂𝒏𝒄𝒆 𝑭𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔𝒚 Seorang Saintess yang dimuliakan di penjuru Kerajaan Syca, memilih kabur dari kuil yang telah membesarkannya, hanya karena merasa muak dengan semua masalah yang dilimpahkan padanya untuk diselesaikan. Sementara itu, tan...
