22. Deep Inside Their Bubble

143 16 5
                                    

***


***


***

Ini hari ketiga Jean berada di ruang kerja tuannya sangat lama, mengarsipkan transkrip ke Isidore yang sejatinya menjadi bahasa utama dalam hubungan antar kerajaan, terlebih sifat bahasa Isidore yang sudah tetap, berbeda dengan Saxon dan Norman yang masih sering menyesuaikan zaman dan situasi.

Beberapa kali Adrien Warden bergabung membantu, atau ikut mengerjakan pekerjaannya di sana, mengajaknya mengobrol ringan sebelum Grand Duke mengusirnya secara halus dengan berbagai macam alasan. Membuat Jean berpikir kalau tuan mereka tak suka jika ada pelayan yang menjalin hubungan di bawah atap rumahnya, selain karena sikap Adrien cukup kurang sopan tentu saja.

Wanita bersurai hitam itu tak menghiraukan dan kembali menulis dengan rasa kesal membayangi, karena dirinya tak punya kesempatan untuk pergi dan melakukan rencananya. Namun ia coba kesampingkan, bersabar sampai ia bisa menyelesaikan tugas-tugas aneh ini secepatnya.

Sesekali bertanya jika tulisan transkrip asli tak terbaca olehnya. Selebihnya mereka berdua -si tuan dan pelayan, bekerja dalam keheningan yang nyaman, diselingi interupsi kudapan dan makan siang dari Nyonya Spinner yang dibarengi dengan lirikan curiga, bergantian dari si tuan ke arah pelayan dari Rosier itu, apalagi saat hanya ada mereka berdua di ruangan privat tersebut. Jean sangat tahu maksud tatapannya, dan ingin merotasi bola mata ke arah kepala pelayan Arcus Hall.

Terlebih kemarin Jean baru keluar dari ruang itu begitu hari telah menggelap. Berbagai pertanyaan penuh penasaran mengerubunginya dengan ekspektasi tinggi ketika ia sampai dapur, dan ia jawab dengan seadanya.

Memangnya apa yang bisa mereka harapkan dari hubungan seorang pelayan dan tuannya selain memenuhi tugas? Hubungan terlarang seperti keluar dari buku-buku 'terlarang' milik para wanita bangsawan?

Yang benar saja.

Siang sudah kembali beranjak ke sore ketika Jean mendongak untuk bertanya sekali lagi kepada pria yang tampak memakai setelan lebih santai dibanding kemarin-kemarin, hanya kemeja putih dan celana hitam tanpa cravat-nya maupun vest. Semua detail penampilannya terlihat begitu nyaman dan terasa tak acuh, membuat mata Jean ingin memperhatikan lebih teliti lagi bagaimana balutan itu memberikan kesan tertentu pada tuannya yang selalu tampak rapi.

Itu sangat tak adil, batinnya melihat bagaimana rupa menawan itu terwujud begitu saja tanpa susah payah membuat, memperbaiki, ataupun menjaga sikap. Jean menepis pikirannya yang mulai terlalu mengagumi. Tapi sayangnya, ia hanyalah wanita normal.

Beruntunglah siapapun yang akan menjadi pasangannya nanti.

"Yang Mulia, saya ingin memastikan transkrip ini. Di sini tertulis 'dengan Count Cuisset atau Auisset'? Saya pikir kalau dengan Count Cuisset tidak mungkin, County itu sudah tak ada lagi karena digabungkan wilayahnya dengan si menantu yang dari County sebelahnya enam tahun yang lalu, dan ini kontrak baru dibuat tiga tahun setelahnya."

Alis pria itu menaut bingung, sebelum berdiri dari kursinya dan menghampiri Jean yang masih duduk di permadani lantai. Kemudian ikut duduk di sana juga, bersila kaki sembari meminta kertas yang dipegang wanita di seberang meja rendah yang digunakan untuk alas menulis seperti kemarin-kemarin.

Louis membaca lebih teliti lagi pernyataan bantuan pasokan gandum dengan nominal yang cukup besar selama dua tahun kepada salah satu wilayah County di Rosier itu. Sekilas memang tak ada yang mencurigakan kalau saja orang tak mengingat hal yang Jean sebutkan tadi, beralasan bantuan setelah badai besar meluluhlantakkan wilayah County. Seperti Louis pun tak mengingat kabar terbaru dari semua County di Dukedom Rosier. Bernard pun ia yakini begitu, ia harap. Pengkhianatan adalah hal terburuk baginya.

The Saintess' EscapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang