***
***
***
Pikiran Vivienne tentu tak bisa fokus pada tugasnya saat ini. Entah berapa kali ia membaca kalimat yang sama dari kitab Viada-nya.
Seharusnya ini tak berjalan seperti ini.
Ia mencoba tak acuh pada hasil dari percobaan tesnya tadi pagi buta. Ujung jarumnya memang berubah warna menjadi merah kehitaman, tapi mungkin saja tak semuanya akurat. Ia tak mungkin hamil, mengandung anak seorang pria bangsawan tanpa ikatan pernikahan. Terlebih dirinya yang masih punya banyak masalah dan keinginan.
Vivienne merasa rodanya berputar ke jalan yang ditempuh orang yang melahirkannya. Tapi, apakah ia akan tega meninggalkan bayinya sendiri ke tempat lain yang lebih baik? Atau apakah ia yakin ingin melahirkannya? Karena dirinya merasa sangat tak siap, sementara Vivienne belum punya tempat tinggal yang tetap dan penghasilan untuk membesarkannya. Pilihan untuk memberitahu sang ayah serasa tak mungkin. Mengingat bagaimana ia masih tak bisa membaca emosinya, membuat Vivienne takut kalau hal tersebut berakhir lebih sengsara. Ia masih tak lupa masa penjaranya dan akan terus ingat, biarpun mengaku telah jatuh cinta. Dan tak mungkin lelaki dengan status tinggi seperti Louis Archer menginginkannya sebagaimana Vivienne inginkan.
Ia juga merasa cinta yang dirasakan saat ini tak akan mampu membuatnya mati dengan bodoh. Menjadi begitu tergila-gila hingga mau melakukan apapun demi bisa bersama.
Hidupnya menjadi begitu rumit. Padahal ia kabur dari kuil menginginkan kedamaian yang sederhana. Dan dirinya malah terjebak di istana. Haruskah ia terima saja hidupnya sebagai wanita simpanan dengan anak tak sah? Apakah hidup mereka akan lebih terjamin? Namun egonya tentu tak akan terima jika bersentuhan lagi dengan pria yang telah sah dimiliki orang lain, jadi buat apa dirinya sebagai simpanan kalau tak mau digunakan? Tak mungkin seorang pria begitu saja mau membiayai orang yang tak ada timbal balik untuknya.
Kecuali, apakah Vivienne bisa mengancamnya dengan membeberkan rahasia hubungan mereka ke musuh?
Tidak tidak, salah-salah kepalanya yang lebih dulu putus dari badan jika nekat.
Apa yang harus aku lakukan?
Vivienne menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan. Ia benar-benar ingin segera keluar dari tempat menyesakkan ini. Suara dalam kepalanya terus-terusan berseru untuk secepatnya 'kabur'. Satu bagian otaknya sedari penemuan hasil tes tadi pagi masih berpikir keras mencari cara untuk kabur dari istana. Persetan dengan semua. Dan penyesalan merundungnya kembali begitu mengingat apa yang telah mereka lakukan semalam.
Lelaki itu juga bisa mulus keluar dari kamarnya tanpa ada kehebohan maupun sedikit kejanggalan dari raut muka orang-orang pagi ini, seakan memang tak terlihat. Bukankah itu berarti pengamanan di paviliun tak seketat yang ia kira? Apakah Vivienne juga bisa melakukannya?
"Maaf Saintess,"
Wanita bersurai hitam dengan tatanan sederhana itu mendongak dan melihat ke asal suara yang memanggil sebutannya.
"Apa Saintess baik-baik saja? Anda sudah terdiam cukup lama," ucap Putra Mahkota penuh perhatian.
Tapi sebelum mulutnya yang terbuka mengeluarkan suara, interupsi datang dari suara pintu yang dibuka lumayan keras, menampakkan Grand Duke muda Rosier yang matanya menemukan Vivienne dengan cepat setelah menyapu kilat penjuru ruangan. Sir Rogers yang ditugaskan untuk menjaga di depan pintu dan sebagai valet khusus melirik penasaran ke dalam sekilas sebelum pintu kembali ditutup pelan.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Saintess' Escape
Romance𝑹𝒐𝒎𝒂𝒏𝒄𝒆 𝑭𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔𝒚 Seorang Saintess yang dimuliakan di penjuru Kerajaan Syca, memilih kabur dari kuil yang telah membesarkannya, hanya karena merasa muak dengan semua masalah yang dilimpahkan padanya untuk diselesaikan. Sementara itu, tan...