Sakura meletakkan jas dokter miliknya. Saat pintu di belakangnya terbuka lebar, menampilkan sosok guru yang ia hormati.
"Tsunade-sama" sapanya dengan senyum lebar.
Tsunade mendekati Sakura yang terlihat bersiap pulang. Jelas jam kerja wanita itu telah usai.
"Kurasa kau harus menunda kepulanganmu untuk beberapa jam kedepan" ujar Tsunade tak enak hati.
Sakura mengernyit heran. Namun, kembali mengulas senyum simpul.
"Itu bukan hal aneh untuk dunia kita, bukan". Ujar Sakura santai. Ia tatap gurunya itu dengan serius. "Jadi, katakan padaku apa itu?". Sambungnya lembut.
Tsunade terkekeh pelan. Satu hal yang paling ia sukai dari anak didiknya itu.
Sakura akan amat sangat totalitas dalam pekerjaannya.
"Ada pasien VIP yang ingin kau memeriksa keadaan putranya. Mereka orang yang cukup terkenal. Dan pasienmu kali ini harus terjaga identitasnya" jelas Tsunade singkat.
Sakura melongo sejenak, lalu tertawa kecil.
"Kuharap pasien VIP kita ini, bukanlah orang yang menyebalkan" canda Sakura main-main.
Tsunade menggeleng geli.
"Kuharap kau bisa menyembuhkannya"
Sakura tersenyum angkuh.
"Well... Aku tidak ingin membuat daftar hitam dalam karir ku ini, Tsunade-sama"
Tsunade tersenyum mencemooh.
"Berdo'a lah... Karena kasus kali ini sungguh sulit bahkan untukmu"
Sakura yang hendak mengenakan jas dokternya terpaku atas perkataan Tsunade.
Tsunade menatap balik Sakura dengan wajah yang amat serius.
"Semua dokter terbaik telah mereka kunjungi... Dan hasilnya nihil"
***
Sakura menatap cemas Khusina Uzumaki yang menatap gaun ketiga yang ia kenakan.
Perlahan senyum merekah dari bibir wanita parubayah yang kecantikannya tidak luntur itu.
"Aku yakin putra bodohku itu akan ternganga melihat mu berjalan menuju altar" ucap Khusina penuh kekaguman sambil bersedekap.
Sakura tersipu.
"Kuharap dia tidak melakukan kesalahan apapun di hari pentingnya itu" canda Sakura.
Sakura mematut dirinya di cermin besar butik terkenal di Konoha.
Ia menyukai gaun ini. Detailnya terlihat simple dan elegan disaat yang bersamaan.
Membayangkan dirinya akan memulai hidup baru, sungguh membuat hatinya berdebar.
Khusina menyentuh pundak Sakura. Menatap gadis bersurai merah muda yang di gelung asal itu dengan manik lembut.
Tak menyangka, gadis yang ia tentang hubungannya dengan putranya itu kini akan menjadi bagian dari keluarganya. Istri putranya.
"Kau harus menjaga kesehatanmu dan segera lah mengambil cuti" saran Khusina lembut.
Sakura mengangguk kecil. Ia memang sudah mengajukan cuti, namun ia harus menuntaskan satu pekerjaannya.
"Ne, setelah operasi yang akan ku lakukan. Aku akan berlibur hingga bulan madu dengan Naruto-kun" jawabnya dengan wajah bersemangat.
Khusina mendengus geli.
"Kurasa kita harus berpisah disini" celetuk Khusina yang meraih tas mahalnya. "Aku harus mampir kesuatu tempat" tambahnya menatap Sakura.
Sakura mengangguk tipis.
"Aku juga harus kembali kerumah sakit"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hear Me: I am Sorry
FantasySinopsis: Sakura Haruno memutuskan untuk mengakhiri cinta sepihaknya selama dua tahun terakhir pada Sasuke Uchiha yang dingin, setelah membaca buku penuh tragedi berjudul 'Hear Me'. Lanjutan dari Hear Me... bisa di baca secara terpisah.
