37. Refleksi

310 34 15
                                        

Sakura Haruno mengusap kasar wajahnya menggunakan air keran yang dingin. Membiarkan keran terus mengalir sementara dirinya tetap menatap kosong cermin besar di hadapannya.

Emerald itu memantul kosong. Tak menampilkan ekspresi apapun atas bercak merah yang memenuhi hampir sekujur tubuhnya.

Perlahan ia meraih handuk kecil dan mengusap lembut wajahnya yang basah.

Ia membuka pintu kamar mandi yang langsung menghadap ranjangnya yang jelas berantakan.

Senyum getir itu akhirnya menghiasi bibir mungilnya.

"Uzumaki Naruto... Kau benar-benar..." Bisik Sakura terputus. Ia lemparkan tubuhnya begitu saja di ranjang. Meredam sumpah serapah yang hendak keluar dari mulutnya.

***

Khusina melirik heran kehadiran putra semata wayangnya itu. Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari.

Ia pikir bocah dewasa itu tak akan pulang malam ini.
Tapi, lihatlah. Pria bersurai kuning itu melangkah gontai menuju kamarnya di lantai atas.

Khusina tidak pernah menegur kelakuan Naruto yang kerap anaknya itu tunjukkan.

Jika ingatannya tak bermasalah, Naruto kerap pulang dini hari sejak tiga tahun yang lalu.

Anaknya itu bahkan sering kali pulang dalam keadaan mabuk.

Sempat terlintas dalam pikiran Khusina jika Naruto dan Sakura putus, itulah sebabnya Naruto akan mabuk pada waktu tertentu.

Tapi, kenyataannya berbanding terbalik. Hubungan keduanya cukup baik hingga bertahan sejauh ini.

Lalu, apa masalahnya?.

Apa yang menjadi penyebab kebiasaan buruk putranya itu?.

Khusina menghela nafas panjang. Kembali melirik tangga kosong yang di lalui putranya itu.

Ia datang menghampiri kamar putranya setelah membulatkan tekad untuk bertanya.

Kebiasaan itu jelas mengganggu Khusina. Naruto akan segera menikah. Dan tidak ada istri yang suka jika suami mereka mabuk-mabukan tak jelas.

Pintu kamar Naruto, ia buka perlahan. Terlihat sosok itu tertidur pulas.

Khusina mengusap lembut surai kuning yang merupakan warisan mendiang suaminya itu.

Ia sungguh menyayangi anaknya ini. Terlepas dari perasaannya yang masih enggan menerima Sakura Haruno sebagai pendamping Naruto.

Ya.

Khusina tidak munafik.
Ia masihlah menginginkan Hinata sebagai menantunya.

Namun, wanita Hyuuga itu menolaknya dengan tegas. Meminta Khusina untuk menerima Sakura Haruno.

Karena itulah, Khusina pun memberi restu atas hubungan keduanya. Dengan harapan Naruto dapat berbahagia dengan orang yang dicintainya.

Toh, Sakura Haruno bukanlah wanita yang buruk. Gadis itu baik hati dan berprestasi. Gadis yang membanggakan dan dokter muda kecintaan semua orang.

"Saku..raa"

Khusina mengerjab pelan. Ia menatap sendu putranya yang baru saja mengingau itu.

Senyum sendu terukir dari bibir tua Khusina.

"Kau pasti sungguh mencintainya, ne" bisik Khusina mengecup puncak kepala Naruto.

Khusina menutup pintu kamar putranya dalam diam. Membiarkan anaknya itu berlayar di dunia mimpi.

Yang Khusina tak sadari.
Setetes liquid bening mengalir jatuh dari sudut mata Naruto Uzumaki.

"Maafkan aku...Saku" lirihnya tanpa sadar.

Hear Me: I am SorryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang