50. Hati Yang Rapuh

97 11 1
                                        

Kakinya melangkah pelan memasuki rumah itu. Rumah yang ia bangun untuk ketenangannya, dan rumah itu pula membawa sesak dan nyeri di dadanya.

Bayang bagaimana manjanya Sakura saat mereka menikmati film yang mereka putar membawa sesak di hati Sasuke.

Mengapa?

Berulang kali ia bertanya pada diri sendiri. Tapi tak kunjung mendapat jawaban pasti.

Sasuke terduduk di sofa ruang televisi. Menatap langit-langit dengan mata berkaca.
Perihnya masih sangat terasa.

"Sasu..."

"Hn"

"Jangan melakukan hal bodoh seperti Jack"

Sasuke menatap emerald Sakura yang bersungguh-sungguh itu.

Wanita yang berbaring nyaman di atas tubuhnya itu memaksa Sasuke untuk mengatakan iya atas perkataannya.

"Bagaimana bisa aku membiarkanmu mati beku di tengah laut" bisik Sasuke mengusap surai merah muda Sakura.

Emerald itu menatap tajam Sasuke dengan bibir mengerucut lucu.

"Pokoknya tidak boleh... Sasuke jangan mengorbankan nyawamu untukku" minta Sakura dengan nada yang tak ingin di bantah.

Sasuke terdiam sejenak, meski raut bingung jelas terpatri pada wajah tampannya.

"Baiklah... Baiklah...Maka jangan tempatkan dirimu dalam bahaya, mengerti" jawab Sasuke sembari menoel hidung Sakura yang tersenyum lebar.

Dering ponsel menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Dengan lesu ia bangkit.
Tanpa melihat si penelepon, Sasuke menggeser tombol hijau.

"Hn" gumam Sasuke sembari mengusap wajahnya.

"Kemana saja kau... Uchiha brengsek"

Sasuke menarik ponsel dari telinganya. Menatap layar ponsel di mana nama Shikamaru tertera disana.

"Ada apa?" tanya Sasuke tak mengerti.

Kenapa pria nanas itu se emosional ini.

"Ada apa katamu... Memangnya Sakura tidak mengatakannya padamu"

Obsidian Sasuke bergeming.
Tatapannya berubah menajam.
"Tidak... Dia tidak mengatakan apapun" jawab Sasuke dengan suara yang jauh lebih serius.

Hening sejenak disana sebelum Shikamaru menjelaskan situasi yang terjadi.
Sasuke mendengarkan dengan seksama.

"Kau tidak perlu mencemaskan perusahaan. Aku sudah mengatur semuanya".

Sasuke mengangguk berterimakasih dengan sikap tanggapnya Shikamaru.

"Masalah lainnya adalah... Ino menghilang. Lalu, Hinata baru saja menghubungi ku... Putrinya di culik oleh Momoshiki"

Sasuke mengernyit.
"Putrinya Hinata..... untuk apa?"

"Entahlah...Yang pasti adalah ini semua ulah Momoshiki. Anak buahku sudah mengkonfirmasi bila itu suruhannya"

Sasuke menggertakkan gigi gerahamnya hingga terdengar jelas oleh Shikamaru.

"Jadi... Ada pengkhianat di dalam perusahaan" desis Sasuke.

"Tidak..." bantah Shikamaru di ujung sana. "Momoshiki jelas menyewa orang untuk menanam bom di tiap perusahaan saat ada suatu waktu perusahaan melakukan maintenance. Orang-orang yang memperbaiki inilah yang di manfaatkan nya untuk melakukan semua ini"

Hear Me: I am SorryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang