Epilog

73 12 0
                                        

"Ayolah...Akashi bukan anak kecil lagi, bukan" bujuk Sasuke menepuk pipi Sakura yang langsung mengembung sebal.

"Aku tahu itu" sela Sakura kesal. "Tapi setidaknya, dia tidak melakukannya di hari peringatan kematian kakek buyutnya" lanjut Sakura dengan amarah yang kembali naik

Sasuke hampir mendesah frustasi.

Ia masih cukup waras untuk tidak melakukan itu. Jika tidak, Sakura bisa menjadi wanita paling sulit di tenangkan.

"Dengar, sayang. Aku akan membuat anak itu pulang secepatnya. Jadi, redakan amarahmu... Okey" bujuk Sasuke dengan senyum penuh keyakinan.

Hari ini dirinya dan Sakura bisa mendapat cuti. Dan bisa bersama setelah kesibukan mereka masing-masing. Ia tak ingin mengacaukan quality time mereka karena kelakuan Akashi.

Sakura menatap Sasuke serius. Sasuke mengangguk mantap.

Sakura tahu itu. Hanya dengan panggilan telepon dari Sasuke. Maka putranya akan segera kembali. Berbeda sekali bila Sakura yang menelepon. Sampai ratusan kali pun, Akashi akan mengabaikannya.

Menurut putranya itu, Sakura terlalu ketat.

Sakura memperhatikan gestur Sasuke yang mulai menghubungi Akashi.
Dan benar saja, tak menunggu lama panggilan itu di angkat.

Sakura sungguh ingin mengumpat sekarang. Akashi jelas lebih patuh pada Sasuke. Atau takut. Entahlah.

"Pulang sekarang....atau ucapkan selamat tinggal pada semua fasilitas yang kami beri"

Yeah, jelas putranya itu lebih takut pada Sasuke.

Berbeda dengan Sakura yang suka mengomel, Sasuke jelas tak suka banyak bicara.

Sasuke berbalik dan tersenyum puas, menggoyang ponsel di tangannya seolah baru saja menang lotre.

Sakura mendengus.

Bahkan saat Sasuke menyambar kilat bibirnya. Kecupan hangat perlahan berubah saling melumat. Namun, tak lama. Karena Sakura mendorong dada suaminya itu.

"Apalagi sekarang" keluh Sasuke terang-terangan.

Sakura memutar bola mata.
"Tidak... Sebelum Akashi ada disini"

"Ohh... Shitt" umpat Sasuke saat Sakura berlalu begitu saja.

Sakura memekik pelan. Mengatakan bahwa ia mendengar umpatan Sasuke itu.

***
Akashi terkekeh.
"Dengar, aku bisa melakukan penghormatan kapanpun. Tapi menemuimu... Itu sungguh sulit" ujar Akashi sembari menggelengkan kepala.

Suki terdiam sejenak.

Benar apa yang dikatakan Akashi.

Akashi yang merupakan siswa Senior High School dan Suki yang merupakan Presdir Hyuuga Corp.

"Jika begitu aku tidak akan menghubungimu seenaknya" janji Suki.

Akashi mendengus.
"Maka aku yang akan datang padamu" ucap Akashi dengan wajah serius.

Suki membuang muka.

Akashi mengamit dagu wanita itu.
Wanita yang ia sukai sejak dulu sekali. Selalu ia yang menjadi pihak yang mengejar. Suki Hyuuga tidak pernah menanggapinya selama ini.

Wanita itu tidak pernah sekalipun menghubunginya. Karenanya, ketika ia melihat layar ponselnya menampilkan nama Suki. Akashi tanpa peduli apapun langsung melupakan segalanya.

Dan disinilah mereka.

Akashi sadar betul bahwa Suki menyadari perasaannya pada wanita itu. Namun, Suki berpura-pura seolah tak tahu.

Jika wanita itu tak mau mengambil langkah pertama, maka Akashi yang akan maju. Hingga Suki tidak memiliki ruang untuk menghindar.

Sama seperti saat ini. Saat Akashi membombardir Suki yang gelagapan dengan kecupannya.

"Cukup terima saja semua yang kuberikan" bisik Akashi lembut di sela lumatan panas mereka.

Suki mengerang saat Akashi mengecup dalam lehernya yang putih bersih, meninggalkan bercak merah disana.

Suki terengah. Akashi terlihat bukan pemula bagi dirinya yang minim mengenai hal berbau percintaan ini.

Akashi terkekeh puas atas karyanya. Hal pertama baginya dan bagi Suki. Wanita itu berkeringat dan nampak acak-acakan. Ini pertama kalinya Akashi melihat seorang Suki Hyuuga jauh dari kata anggun dan rapi.

"Kau nampak indah sekali" bisik Akashi puas.

Suki memerah malu.
Ia merinding saat jemari Akashi menyapu kulit pinggangnya.

"A...Akashi..."

"Hm"

"Ini... Terlalu cepat" bisik Suki tak siap.

Akashi tertawa lepas. Suki terkejut tentu saja. Lantas wajahnya semerah tomat.

Dirinya pasti sudah gila.

Akashi mengusap wajahnya. Menatap Suki dengan tatapan dalam.
"Sejujurnya aku ingin" ucap Akashi sembari menghembuskan nafas panjang. "Tapi, Ibuku bisa membunuhku jika aku melakukan itu" tambah Akashi yang membuat wajah Suki tersenyum kecil.

***

Mati aku...

"Ibu memang mengatakan itu... Tapi, bukan berarti kau bisa menyingkirkan keluargamu hanya demi cinta" desis Sakura jengkel.

Sasuke hanya diam. Lantas teringat pilihannya dulu. Ia mengabaikan Sakura demi keluarga. Dan ia menyesalinya hingga kini.

Sakura mengangkat tangannya saat Sasuke hendak bicara. Ucapan Sasuke jelas akan membela putra mereka. Sakura hafal sekali.

Akashi menciut saat Sakura mendekatinya.

"Cinta memang tidak selalu bisa menunggu. Tapi cinta tahu kapan saat yang tepat". Balas Sakura tajam.

Akashi menjilat bibirnya.
"Well... Hari inilah waktu yang tepat. Aku akhirnya bisa meraihnya" ucap Akashi dengan senyum bangga. Sasuke bertepuk tangan dan Sakura mendengus.

"Itu hanyalah ilusimu" bantah Sakura dengan alis terangkat. Membuat Akashi lesu seketika. "Apa yang bisa dilakukan anak muda sepertimu selain mengejar pendidikan?" cemooh Sakura telak.

Sasuke membuang muka. Menolak melihat wajah putranya yang nelangsa.

"Akashi-kun... Kau tidak bisa hanya memberi cinta pada wanita dewasa seperti Suki. Pelukan hangat hanya bertahan sejenak. Saat kalian tengah bersama. Tapi saat kalian berjarak, saat itulah cinta tidak dapat melindungi kalian untuk tertusuk" ucap Sakura lembut.

Sakura tahu betul betapa putranya menyukai Suki Hyuuga. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi selain umur mereka, putranya itu belum mampu melindungi.

Setelah mengatakan itu, Sakura berlalu pergi. Membiarkan Sasuke mengambil alih.

End

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 18 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Hear Me: I am SorryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang