35. Sedingin itu...

341 38 3
                                        


Hinata memejamkan Amethyst indahnya dengan erat. Ia sentuh tempat dimana jantungnya memompa dengan kencang.

Naruto...

Pria keturunan Uzumaki itu sudah tumbuh menjadi pria dewasa dengan wangi maskulin yang memabukkan.

Hinata menepuk kencang kedua pipinya. Miniatur boneka porselein duplikasi putri kecilnya membuat Hinata menyadari bahwa perasaan yang tengah membuncah itu adalah sebuah kesalahan.

Hinata meraih ponselnya yang menyala, menandakan satu pesan masuk. Wallpaper yang menampilkan wajah menggemaskan buah hatinya itu, membuat Hinata rindu seketika.

Suki-chan...

Hinata mengulas senyum lebar. Ia menyalakan mobil dan melaju membelah jalanan kota.

Berusaha melupakan pertemuan tak terduga di Konoha Airport.

***

Sakura menatap sebal layar ponselnya. Hari ini ia belum menerima pesan masuk apapun dari kekasihnya, Naruto.

Ia bahkan sudah mengirim banyak spam chat.

"Dasar keterlaluan" desisnya geram.

Mereka bahkan baru bertemu satu kali dalam minggu ini dan Naruto kembali hilang tanpa kabar.

Meski Sakura yakin pria itu pasti dalam perjalanan bisnisnya.

Bukankah rindu itu sungguh menyesakkan. Seolah hanya ia yang merindu. Sementara Naruto, pria itu seolah tak terjangkau olehnya meski pria itu berada di dekatnya.

Sakura menarik nafas kasar, lalu melangkah perlahan menuruni tangga rumah sakit.

Netra hijau daun miliknya terpaku pada sosok pria berkursi roda.

Ah, pasien VIP.

Sasuke Uchiha.

Sakura tanpa sadar menghentikan langkah kakinya. Menatap wajah datar Sasuke yang terpaku pada bunga Sakura yang berguguran.

Hingga bunga itu jatuh tepat pada telapak tangan Sasuke Uchiha yang menengadah.

Deg

Emerald nya tercengang.

Sasuke Uchiha tersenyum lembut sekali...

Sakura masih terpaku pada senyuman yang belum pernah ia lihat dari sosok Sasuke sejak pertemuan pertama mereka.

Pria itu terlalu dingin bagi Sakura yang terbiasa dalam lingkungan hangat dan juga kasih sayang Naruto Uzumaki.

Hingga tatapan keduanya bertemu. Secepat itu pula senyum pada wajah tampan itu menghilang. Seolah senyum pria itu hanya ilusi bagi Sakura.

Sasuke adalah orang pertama yang memutus kontak mata di antara mereka.

Pria itu menjalankan kursi rodanya dengan tenang. Melewati Sakura begitu saja.

Sakura menghembuskan nafasnya yang sempat tertahan. Sedikit memerah karena ketahuan memperhatikan pasiennya. Dan juga ada rasa kesal karena pria itu mengabaikannya, seolah ia tak ada.

Drrttt ddrttt

Sakura menarik ponselnya yang berada di dalam saku jas dokter miliknya.

"Ne, Ino" sapanya malas.

"Apa-apaan suara lesu mu itu, Saku"

Sakura terkekeh kecil. Ino selalu tahu jika ia dalam mood yang jelek.

"Ada apa meneleponku?" Tanyanya tanpa basa basi.

Sakura mendengar suara geraman Ino dari sana.
"Kau lupa jika hari ini ada janji temu dengan Mei Terumi"

Hear Me: I am SorryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang