Sakura menatap papan nama di atas meja kerjanya.
Ia lantas mengalihkan tatapannya pada layar ponselnya yang mati.
Dua hari berlalu tanpa kabar apapun dari kekasih sekaligus calon suaminya itu.
Naruto dan sikap acuh pria itu.
Sebenarnya, sejak kapan hubungan mereka mulai terasa hambar.
Hubungan yang awalnya penuh cinta itu kini terasa menghimpit dada Sakura.
Sakura memejamkan erat emeraldnya. Berharap pikiran-pikiran aneh yang terlintas itu segera lenyap.
Bayang Naruto yang selalu terlihat kaku saat interaksi mereka terlalu intim itu menyiksanya.
Mereka menghabiskan banyak hal bersama. Semuanya terasa baik-baik saja, awalnya.
Lalu, sejak kapan... Pria itu berubah.
Sakura lantas beralih pada photo pigura yang menampilkan sosoknya dan Naruto yang berlibur ke Suna dua tahun yang lalu.
Saat itu, Sakura mengingat jelas setiba nya mereka di Suna.
Hotel yang mereka gunakan sebagai tempat beristirahat mengalami kebakaran hebat, hingga membuat mereka harus tidur di motel terdekat di kala badai pasir menyerang.
Satu kamar tersisa mereka gunakan. Dan disana entah siapa yang memulai, cumbuan panas itu terjadi.
Sakura menikmati perlakuan lembut Naruto padanya. Tapi, untuk pertama kalinya ia dilanda kebingungan saat Naruto memilih mundur di tengah candu yang pria itu beri.
Tanpa penjelasan seperti yang sering terjadi saat ini. Naruto akan pergi tanpa kata dan kembali seolah semua hanya ilusi semu bagi Sakura. Yang nyatanya menimbulkan kekecewaan yang bertumpuk dalam.
Sakura meraih gelas air putih di mejanya dan meneguknya hingga tandas.
Bayangan Khusina dan Hinata Hyuuga bersama putri kecilnya kembali mengisi kekosongan pikiran Sakura yang bercabang.
Bak keluarga bahagia, sikap lembut Khusina sungguh membuat Sakura bertanya-tanya.
Apakah... Khusina suatu saat akan memperlakukannya sehangat perlakuannya pada Hinata Hyuuga?.
Sejauh yang ia rasakan. Khusina memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi, hanya sebatas itu. Seolah wanita itu sengaja menahan jarak di antara mereka.
Sama seperti sikap aneh Naruto Uzumaki.
Sakura menangkupkan kedua tangannya diwajahnya yang kusut.
"Aku sungguh bisa gila" desisnya frustasi.
***
Sasuke mengunyah kue jahe kesukaannya dengan santai. Ia menatap layar laptopnya yang penuh dengan angka rumit.
Itachi yang terpaksa menemani adiknya itu mendengus sebal.
Konan memilih untuk tak mengajaknya pergi berbelanja.
Meminta Itachi menjaga Sasuke saja.
"Kau bisa pergi jika kau mau"
Celetukan Sasuke membuat Itachi menoleh sinis.
Sasuke menatapnya dengan kening mengerut. Seolah Itachi menyalahkannya atas keputusan mutlak Konan.
"Jika aku bisa, tentu aku tak akan berada di tempat membosankan ini" desis Itachi kesal. Menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.
Sasuke menatap penuh cemooh kakaknya itu.
"Jika begitu, hentikan tingkah bodohmu" ujar Sasuke jengah.
"Apa maksudmu?" Balas Itachi dengan hembusan nafas kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hear Me: I am Sorry
FantasySinopsis: Sakura Haruno memutuskan untuk mengakhiri cinta sepihaknya selama dua tahun terakhir pada Sasuke Uchiha yang dingin, setelah membaca buku penuh tragedi berjudul 'Hear Me'. Lanjutan dari Hear Me... bisa di baca secara terpisah.
